Kisah Pemuda Inggris Sukses Berbisnis Panel Surya di Afrika Selatan

Oleh Benedikta Miranti Tri Verdiana pada 03 Okt 2019, 18:05 WIB

Diperbarui 03 Okt 2019, 18:16 WIB

Pemanfaatan Tenaga Surya Sebagai Sumber Energi Listrik Alternatif

Liputan6.com, Afrika Selatan - Seiring perkembangan zaman, banyak orang yang mulai mencari energi alternatif sebagai sumber daya listrik. Mulai dari angin, air, sampah uap, dan yang paling banyak ditemui adalah surya karena sumbernya yang cenderung lebih mudah didapat.

Melihat fenomena tersebut, seorang pemuda bernama Abraham Cambridge melihat potensi bisnis yang dapat ia kembangkan. Hebatnya lagi, ia mampu mengembangkan bisnisnya ke belahan dunia manapun, namun bisnisnya tetap berkembang dari Afrika Selatan.

Sun Exchange, nama startup yang Cambridge kembangkan, bergerak di bidang penjualan sel surya secara online kepada pembeli dari seluruh dunia yang kemudian dipakai untuk sekolah ataupun perusahaan di Afrika Selatan. Para pembelinya akan mendapatkan keuntungan setiap bulan terhitung dari jumlah energi yang digunakan.

Dilansir dari CNN (3/10/2019), pemuda asal Inggris tersebut memulai bisnisnya ketika ia pertama kali pindah ke Afrika Selatan pada 2014, ia menyadari bahwa tidak ada satupun panel surya yang digunakan, padahal potensi dalam mendapatkan tenaga surya sangatlah besar.

Cambridge menjadi begitu peduli terhadap masalah ini lantaran sebelumnya ia bekerja di sebuah perusahaan pemasangan panel surya selama enam tahun di negara asalnya.

"Ada jarak yang cukup jauh dari sisi bisnis dan dari segi industri," ujarnya. Sun Exchange pun memiliki misi untuk menjadi solusi dari masalah tersebut.

 

 

* Dapatkan pulsa gratis senilai Rp 5 juta dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com di tautan ini.

2 of 4

Pembeli Dapat Pemasukan

20160302-Panel Surya ESDM-Jakarta- Gempur M Surya
Petugas memeriksa panel surya di gedung ESDM, Jakarta, Rabu (2/3/2016). Penggunaan panel surya bisa menurunkan emisi dari yang sebelumnya mengonsumsi listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel atau berbasis batubara (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Proses pemasangan sel surya harus melewati beberapa tahap. Setelah Sun Exchange menyetujui rencana pemasangan, pihaknya akan mulai menjual sel surya dalam jumlah satuan secara online seharga $6 atau sekitar Rp 85.000.

Setelah semua terjual, barulah seluruh sistem dapat dipasang. Pemilik sel surya akan menerima pemasukan setiap bulan dari Sun Exchange dalam jangka waktu 20 tahun. 

"Pembeli dapat menikmati keuntungan tahunan sekitar 10% sampai 15%, yang akan berbeda dalam setiap pemasangan," jelas Cambridge.

Di balik bisnis yang dikembangkan oleh Cambridge, ada niat mulia yang ia tuju yaitu supaya sekolah ataupun perusahaan di Afrika Selatan dapat mengakses listrik tenaga surya tanpa membayar apapun sebelumnya.

Saat ini, lebih dari 9 ribu orang dari 145 negara sudah tercatat sebagai pembeli dalam program yang digagas Sun Exchange. Sekitar 580.000 panel surya yang sudah terpasang di 14 lokasi termasuk sekolah, supermarket dan pusat konservasi.

3 of 4

Potensi Sel Surya di Indonesia

(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)
PLN gencar listriki 8 pulau di wilayah Kepulauan Madura dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). (Foto:Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Menurut solarmagazine.com, energi matahari seharusnya sangat cocok untuk dikembangkan di Indonesia kerena sumbernya yang mencukupi.

Segala rencana pengembangan tenaga surya yang ada di Indonesia saat ini didorong oleh target yang ditetapkan pemerintah dalam mencapai 100% elektrisasi kelistrikan sampai 2020.

Hal ini semakin didukung oleh Kementerian ESDM dalam bentuk dukungannya terhadap 'Indonesia's One Million Rooftop Solar Initiative', yag diinisiasi oleh Institute for Essential Services Reform (IESR) pada 2017 lalu. 

Pengembangan tenaga surya di Indonesia semakin kuat karena didasari oleh Peraturan Pemerintah Nomor 49/2018.

4 of 4

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓