Top 3: Fakta Pengawal Raja Salman yang Tewas Ditembak Terpopuler

Oleh Liputan6.com pada 01 Okt 2019, 11:15 WIB
Diperbarui 01 Okt 2019, 11:15 WIB
Raja Salman merupakan kepala negara Arab Saudi pertama yang menjejakkan kaki di Rusia
Perbesar
Raja Salman merupakan kepala negara Arab Saudi pertama yang menjejakkan kaki di Rusia (AP Photo/Ivan Sekretarev)

Liputan6.com, Jakarta - Sabtu 28 September malam, pengawal pribadi Raja Salman meninggal akibat ditembak temannya. Berbagai fakta tentang semasa hidupnya pun, telah dirangkum hingga menjadi artikel paling populer di kanal Global Liputan6.com pada Selasa (1/10/2019).

Artikel selanjutnya yang masuk dalam berita populer, temuan baru Planet Nine yang sebenarnya adalah lubang hitam purba menurut penelitian baru.

Selanjutnya berita Vanuatu yang mengungkapkan alasan dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Bumi Cendrawasih saat mengungkit isu Papua pada PBB, disorot publik.

Inilah berita Top 3 Global selengkapnya:

2 dari 4 halaman

1. Fakta Abdelaziz al-Fagham, Pengawal Raja Salman Tewas Tertembak

Raja Salman. (SPA)
Perbesar
Raja Salman. (SPA)

Kabar duka datang dari Kerajaan Arab Saudi, sang pengawal pribadi Raja Salman yang bernama Abdelaziz al-Fagham meninggal dunia pada Sabtu 28 September malam akibat sebuah insiden.

Sang pengawal Raja Salman ini dikabarkan meninggal akibat ditembak temannya usai cekcok di rumah yang berlokasi di wilayah barat Kota Jeddah. 

Selengkapnya...

3 dari 4 halaman

2. Planet Nine, Disebut Lubang Hitam Purba?

Ilustrasi Planet.
Perbesar
Ilustrasi planet. (NASA)

Selama lebih dari seabad, beberapa astronom berpendapat bahwa gaya gravitasi aneh yang diamati bekerja pada benda yang jauh di tata surya, disebabkan oleh planet lain. Planet itu disebut Planet Nine.

Simak selengkapnya...

4 dari 4 halaman

3. Vanuatu Usik RI Soal Papua di PBB

Papua
Perbesar
Ilustrasi masyarakat Papua. (Liputan6.com / Katharina Janur)

Pekan lalu, Vanuatu kembali mengungkit isu seputar Provinsi Papua Indonesia di Sidang Majelis Umum PBB di New York.

Itu merupakan langkah kesekian dari negara Pasifik tersebut, yang kerap memanfaatkan platform PBB selama beberapa tahun terakhir untuk menyuarakan dukungannya terhadap referendum di Bumi Cendrawasih.

Artikel Selengkapnya...

Lanjutkan Membaca ↓