Fakta-Fakta di Balik 4 Bumbu Dapur yang Digunakan Orang Indonesia

Oleh Liputan6.com pada 30 Sep 2019, 12:36 WIB
Diperbarui 30 Sep 2019, 12:36 WIB
Bumbu Dapur

Liputan6.com, Jakarta - Bumbu dapur atau rempah-rempah yang biasa digunakan sebagai penyedap makanan. Tanpa bumbu itu makanan akan terasa hambar.

Tidak banyak mengetahui fakta di balik bumbu-bumbu dapur yang sering digunakan orang Indonesia.

Ada yang sudah digunakan selama 4.000 tahun hingga fakta lain yang lebih mengejutkan.

Dikutip dari Relish, Senin (30/9/2019) inilah fakta-fakta mengejutkan di balik empat bumbu dapur yang sering dipakai di Indonesia.

2 dari 5 halaman

1. Merica

Ilustrasi Merica
Ilustrasi Merica (pixabay.com)

Siapa sangka ternyata merica sudah digunakan untuk menjadi bahan penyedap makanan selama lebih dari 4.000 tahun lamanya.

Pada awal abad ke-4 Sebelum Masehi, sebuah dokumen lampau menggambarkan merica digunakan sebagai bumbu untuk pesta India.

3 dari 5 halaman

2. Kunyit

Kunyit
Ilustrasi Kunyit (iStockphoto)​

Semangkuk kunyit di Spanyol bisa mencapai harga $ 371 atau setara sekitar Rp 4 juta.

Hal ini bisa terjadi karena bumbu seperti kunyit harus dipanen dengan tangan, dan kunyit berasal dari stigma crocus sativus (nama bunga), dan masing-masing crocus hanya mengandung 3-5 stigma. Ini berarti diperlukan seratus bunga untuk bisa menghasilkan satu gram kunyit.

4 dari 5 halaman

3. Pala

pala
ilustrasi pala/copyright Shutterstock

Pohon pala sebenarnya menghasilkan dua rempah, yaitu pala dan bunga pala.

Dulunya pala dianggap begitu berharga dan eksotis, sehingga Belanda menukarkan seluruh pulai Manhattan ke Inggris dengan pulau-pulau yang menanam pala.

5 dari 5 halaman

4. Bawang Putih Hitam

Ilustrasi Bawang Putih
Bawang putih. (iStockphoto)

Dalam mitologi Tao, bawang putih hitam, sebuah bumbu yang biasa digunakan di Korea itu dikaitkan dengan sebuah keabadian.

Memang itu hanyalah sebuah mitos, tapi faktanya adalah bawang putih hitam lebih berkualitas dibanding bawang putih biasa, karena lebih memiliki cita rasa dan lebih gurih.

 

Reporter: Windy Febriana

Lanjutkan Membaca ↓