Makam Bayi Romani Ditemukan di Ceko, Bekas Kamp Nazi Era Perang Dunia II

Oleh Afra Augesti pada 29 Sep 2019, 10:00 WIB
Diperbarui 29 Sep 2019, 10:00 WIB
Makam Bangsa Romani
Perbesar
Makam ibu dan bayi Bangsa Romani yang meninggal di kamp Nazi di Ceko pada era Perang Dunia II. (Kredit: Pavel Vareka dari University of West Bohemia)

Liputan6.com, Praha - Kuburan seorang wanita dan bayi Romani yang meninggal sebagai tahanan selama Perang Dunia II ditemukan di Republik Ceko.

Kerangka tersebut, yang ditemukan di bekas kamp konsentrasi Nazi, menunjukkan wilayah itu diduga digunakan untuk memenjarakan bagsa Romani.

Kuburan-kuburan itu berada di antara lebih dari 300 korban orang Romani yang diperkirakan berada di lokasi kamp, ​​dekat Desa Lety, sekitar 40 mil (65 kilometer) barat daya Praha.

Keberadaan kamp Lety telah lama menjadi masalah politik di Republik Ceko modern. Beberapa politikus, mungkin berusaha untuk membungkam tuduhan kolaborasi Ceko dengan diktator Jerman, Adolf Hitler, pada masa pertempuran.

Meski banyak pejabat yang mengonfirmasi bahwa wilayah tersebut tidak pernah digunakan sebagai kamp konsentrasi untuk memenjarakan orang-orang Romani, tetapi makam yang baru ditemukan ini menunjukkan bahwa kamp Lety memang dipakai untuk membantai mereka di bawah hukum rasial Nazi.

Ilmuwan mengira, korban meninggal akibat penyakit menular yang mematikan atau kelaparan selama Holocaust.

"Ini adalah situs pertama yang dapat dihubungkan dengan Holocaust Romani," kata arkeolog Pavel Vareka dari University of West Bohemia yang memimpin penggalian tersebut untuk Museum Budaya Romani Republik Ceko, dikutip dari Live Science, Sabtu (28/9/2019).

Sekitar 1.300 orang Romani diperkirakan telah dipenjara di kamp Lety selama Perang Dunia II. Lebih dari 327 di antaranya tewas di sana, termasuk 241 anak-anak. Sekitar 500 orang dideportasi ke kamp kematian Auschwitz di Polandia, lapor Kantor Berita Ceko, CTK.

Vareka mengatakan kepada Live Science, kuburan yang baru digali itu diperiksa tanpa menghilangkan kerangka manusia yang ada didalamnya, untuk menghormati praktik budaya Romani.

"Kami memiliki kesepakatan dengan kerabat yang masih hidup bahwa tidak akan ada pengangkatan tulang dari liang lahat, sehingga korban akan beristirahat dengan tenang di mana mereka dimakamkan," tutup Vareka.

2 dari 4 halaman

Sepintas Tentang Bangsa Romani

Bangsa Romani
Perbesar
Pengemis Gypsy dan anaknya di anak tangga sebuah gereja Ortodoks Rusia di Sofia, Bulgaria. (Creative Commons)

Etnis Romani tidak berhubungan dengan kota atau orang Roma, negara atau bangsa Romawi kuno, dan negara atau bangsa Romania.

Bahasa, kebudayaan, dan nenek moyang orang Romani bisa ditelusuri ke India bagian utara, kira-kira 1.000 tahun silam. Orang Romani masih dianggap sebagai kelompok yang nomaden, meskipun faktanya mereka sekarang telah tinggal di rumah permanen.

Penyebaran orang Romani begitu luas, tidak hanya di sebelah selatan dan sebelah timur Eropa, melainkan juga di benua Amerika dan di Timur Tengah.

Alasan mereka meninggalkan India kurang jelas. Beberapa pakar percaya bahwa nenek moyang mereka bisa jadi adalah perajin dan penghibur yang bergabung dengan pasukan prajurit yang meninggalkan Tanah Airnya setelah konflik-konflik militer.

Apapun alasannya, orang Romani tiba di Eropa sebelum tahun 1300 Masehi melalui Persia dan Turki.

Di Eropa, opini populer tentang orang Romani berkisar antara dua hal yang sangat ekstrem. Di satu pihak, mereka diidolakan dalam dalam beberapa novel dan film sebagai kaum pengembara yang ramah dan santai, yang tidak segan-segan menyatakan perasaan suka dan duka melalui nyanyian dan tarian.

Namun di lain pihak, mereka dijelek-jelekan sebagai orang yang tidak bisa dipercaya, misterius, dan suka curiga. Selamanya, mereka dianggap orang luar yang terasing dan terpisah dari masyarakat di sekitarnya.

Di berbagai tempat di dunia, orang Romani disebut Gipsi, Gypsy, Gipsy, Gypsi, Gitanos, Zigeuner, Tsigani, atau Cigany. Istilah-istilah ini bisa dianggap berkonotasi negatif.

3 dari 4 halaman

Sejarah Kamp Lety

Bangsa Romani
Perbesar
Sinti dan Romani lainnya akan dideportasi dari Jerman, 22 Mei 1940. (Public Domain)

Cekoslovakia atau Czecho-Slovakia (kini sudah jadi Ceko dan Slovakia) diserang oleh tentara Nazi pada Maret 1939, yang sebagian menyebabkan pecahnya Perang Dunia II pada September di tahun itu.

Bagian Ceko dari Cekoslovakia diperintah oleh Jerman hingga 1945 sebagai Protektorat Bohemia dan Moravia, sementara Slovakia menjadi negara terpisah di bawah kendali Jerman.

Undang-undang ras Nazi diberlakukan di Nuremburg pada tahun 1935, mengklasifikasikan Romani sebagai "musuh negara berbasis ras," bersama dengan orang Yahudi dan orang kulit hitam. Sebagai akibatnya, puluhan ribu orang Romani dipaksa masuk ke kamp konsentrasi di wilayah-wilayah yang diduduki Nazi.

Sejarawan memperkirakan, sekitar seperempat juta orang terbunuh dalam genosida Romani di Cekoslovakia, yang disebut sebagai porajmos dalam bahasa Romani, menurut Live Science.

Kamp di Lety dibangun beberapa minggu, sebelum invasi Jerman, sebagai "kamp kerja" bagi para penjahat. Namun tempat itu pertama kali digunakan di bawah Nazi untuk memenjarakan Romani pada akhir 1942.

Lebih dari 200 Romani meninggal karena kelaparan dan penyakit di kamp Lety sebelum Mei 1943, ketika ditutup di tengah kekhawatiran merebaknya wabah tipus, kata arkeolog Pavel Vareka dari University of West Bohemia. Kamp kemudian dibakar.

"Dua deportasi besar dari ratusan tahanan Romani ke kamp kematian Nazi di Auschwitz terjadi sebelum peristiwa tersebut," imbuh Vareka.

4 dari 4 halaman

Investigasi Arkeologi

Bangsa Romani
Perbesar
Makam ibu dan bayi Bangsa Romani yang meninggal di kamp Nazi di Ceko pada era Perang Dunia II. (Kredit: Pavel Vareka dari University of West Bohemia)

Penggalian dimulai pada tahun 2016. Waktu itu, tim Vareka tidak diizinkan untuk mengakses tanah yang dulunya ditempati oleh industri peternakan babi tersebut, yang dibangun di atas bekas kamp pada tahun 1970-an.

"Situasi berubah pada tahun lalu, ketika pemerintah Ceko membeli seluruh lahan pertanian," tutur Vareka.

Dua kuburan Romani --satu berisi kerangka seorang wanita muda berusia kurang dari 40 tahun, dan satu lagi berisi tulang-tulang bayi baru lahir-- ditemukan dalam beberapa minggu terakhir selama penggalian.

Kuburan-kuburan itu terletak di sudut barat daya makam, dan enam situs kuburan lainnya telah diidentifikasi di sana oleh survei geofisika non-invasif.

Pertanian industri di situs itu sekarang sedang dibongkar, meskipun bangunannya telah menghancurkan banyak nilai arkeologis. Para arkeolog kemungkinan akan menyelidiki bagian-bagian bekas kamp.

Tim peneliti juga bakal terus menggali tumpukan limbah kamp, di mana beberapa artefak pribadi dari tahanan telah ditemukan, termasuk manik-manik, kancing pakaian dan pecahan cermin.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait