26-9-1996: Kembalinya Wanita Pertama yang Tinggal di Ruang Angkasa ke Bumi

Oleh Liputan6.com pada 26 Sep 2019, 06:00 WIB
Shannon Lucid (Liputan6.com/NASA)

Liputan6.com, California - Hari ini, pada 1996, seorang astronot asal AS bernama Shannon Lucid berhasil kembali ke bumi dengan pesawat Atlantis AS setelah enam bulan berada di orbit stasiun ruang angkasa Rusia Mir.

Bernama asli Shannon Matilda Wells Lucid yang lahir pada 14 Januari 1943, adalah seorang biokimia Amerika dan seorang pensiunan astronot NASA. Saat itu, ia memegang rekor untuk durasi tinggal terlama di ruang angkasa oleh seorang Amerika, dan seorang wanita.

Ia sudah melakukan perjalanan ke ruang angkasa sebanyak lima kali, termasuk dengan misi tinggal enam bulannya pada 1996 silam.

Pada 23 Maret 1996, Shannon ditunjuki untuk mengikuti misi tinggal selama lima bulan di ruang angkasa. Shannon meminta bantuan kosmonot Rusia Yuri Onufriyenko dan Yuri Usachev untuk melakukan percobaan ilmiah selama ia tinggal.

Pada saat ia ingin kembali setelah lima bulan sudah tinggal di ruang angkasa, ternyata jadwalnya tertunda untuk kembali ke bumi selama lebih dari enam minggu. Hal ini terjadi karena perbaikan pada roket pendorong Atlantis dan kemudian juga terhalang oleh badai.

Akhirnya pada 26 September 1996, ia berhasil kembali ke bumi di atas kapal Atlantis, dan mendarat di Pangkalan Angkatan Udara Edwards di California.

2 of 2

Kepulangannya Sempat Tertunda

Shannon Lucid (Liputan6.com/Public Domain)
Shannon Lucid, wanita pertama yang berhasil tinggal selama enam bulan di stasiun luar angkasa (Liputan6.com/Public Domain)

Masa tinggalnya selama 188 hari di Mir menciptakan rekor ketahanan dunia untuk seorang wanita, sehingga menjadikannya wanita pertama yang tinggal di stasiun ruang angkasa.

Pada tahun 2002 majalah 'Discover' mengakui Shannon sebagai salah satu dari 50 wanita paling penting dalam sains di dunia.

Di tahun lain pada tanggal yang sama, yaitu pada 1997, kawasan Sumatera diliputi kabut asap akibat kebakaran asap, termasuk beberapa wilayah di Sumatera Utara. Kondisi ini membuat penerbangan terganggu. Pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 152 bernasib nahas. Airbus A300-B4 celaka di langit Sibolangit saat hendak mendarat, di mana saat itu langit diselimuti kabut asap.

Lalu, terdapat tragedi menimpa Jepang pada 26 September 1954 saat kapal feri Toya Maru karam. Perkeretaapian Nasional Jepang (Japanese National Railways) pada September 1955 mengumumkan bahwa korban tewas dalam kecelakaan tersebut adalah 1.153 orang.

 

Reporter: Windy Febriana

Lanjutkan Membaca ↓