Bukan Houthi, PM Inggris Yakin Iran di Balik Serangan Kilang Minyak Saudi

Oleh Liputan6.com pada 24 Sep 2019, 07:01 WIB
Diperbarui 24 Sep 2019, 07:01 WIB
Perdana menteri baru Inggris Boris Johnson (AFP Photo)

Liputan6.com, Jakarta - Fasilitas minyak Arab Saudi terbakar usai diserang menggunakan pesawat tanpa awak. Pemerintah Inggris menyatakan keyakinan mereka bahwa Iran yang bertanggung jawab atas serangan itu.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menegaskan, pihaknya akan bekerja sama dengan sekutu Amerika Serikat dan Eropa dalam respons gabungan atas serangan itu.

Amerika Serikat dan Arab Saudi telah menyalahkan Iran atas serangan 14 September yang mulanya mengurangi separuh produksi minyak Saudi. Sementara, kelompok Al Houthi Yaman, dukungan Iran, mengaku bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.

"Inggris mengaitkan tanggung jawab dengan kemungkinan yang begitu besar terhadap Iran atas serangan Aramco. Kami kira sangat mungkin bahwa Iran memang yang bertanggung jawab," kata Johnson dalam perjalanannya menghadiri Majelis Umum PBB di New York, seperti dilansir Antara, Senin (23/9/2019).

"Kami akan bekerja sama dengan rekan kami Amerika dan Eropa untuk membuat tanggapan, yang berupaya meredakan ketegangan di kawasan Teluk," imbuhnya.

 

2 dari 4 halaman

Tak Masuk Akal

Penampakan Rudal dan Drone yang Serang Kilang Minyak Arab Saudi
Puing-puing rudal dan drone yang digunakan dalam serangan kilang minyak Aramco ditunjukkan dalam konferensi pers di Riyadh, Arab Saudi, Rabu (18/9/2019). Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengatakan 18 drone dan 7 rudal diluncurkan dari arah yang bukan berasal dari Yaman. (AP Photo/Amr Nabil)

Seorang pejabat Inggris mengatakan, klaim Al Houthi bertanggung jawab atas serangan fasilitas minyak Arab Saudi "tidak masuk akal". Dengan skala, kecanggihan, dan jangkauan serangan, dinilai tak sesuai dengan kemampuan Al Houthi.

"Tidak masuk akal itu tidak akan diizinkan oleh pemerintah Iran," kata pejabat tersebut.

Saat ditanya apakah Inggris akan mengesampingkan tindakan militer, Johnson menuturkan pihaknya akan mencermati usulan Amerika Serikat untuk berbuat lebih banyak membantu membela Arab Saudi.

"Jelas jika diminta, entah itu oleh Arab Saudi atau oleh Amerika, untuk berperan maka kami akan mempertimbangkan dengan cara apa kami bisa bermanfaat," kata dia.

Johnson mengatakan, akan membahas aksi Iran di kawasan dengan Presiden Hassan Rouhani di pertemuan PBB, serta mendesak pembebasan sejumlah warga negara Iran berkebangsaan ganda, yang katanya ditahan "secara ilegal dan sewenang-wenang."

3 dari 4 halaman

Respons Presiden Iran

Keakraban Erdogan, Putin, Rouhani Saat Bahas Perdamaian Suriah
Presiden Iran Hassan Rouhani berbicara dalam pertemuan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait perdamaian Suriah di Ankara, Turki, Rabu (4/4). (AFP PHOTO/ADEM ALTAN)

Presiden Iran Hassan Rouhani membantah segala tudingan yang dialatkan kepada negaranya. Ia menyatakan, serangan terhadap fasilitas minyak Aramco di Arab Saudi merupakan aksi balasan dari "orang-orang Yaman" untuk menyerbu negara itu.

"Orang-orang Yaman memanfaatkan hak membela diri mereka yang sah ... serangan itu menjadi aksi balasan terhadap agresi melawan Yaman selama beberapa tahun," kata Rouhani, Selasa 17 September.

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by