Desak Presiden Abdul Fattah al-Sisi Mundur, Pro-Demokrasi Berunjuk Rasa

Oleh Afra Augesti pada 21 Sep 2019, 12:00 WIB
Diperbarui 21 Sep 2019, 12:00 WIB
Potret Abdel Fattah Al-Sisi
Perbesar
Potret Abdel Fattah Al-Sisi. Periode pemerintahan pertama Al Sisi dimulai pada 2014 setelah meraih 97 persen suara dalam pemilu (AP Photo/Amr Nabil)

Liputan6.com, Kairo - Ribuan pengunjuk rasa pro-demokrasi turun ke jalan di Kairo, Mesir pada Jumat, 20 Agustus 2019, untuk menuntut pengunduran diri Presiden Abdul Fattah al-Sisi.

Di sejumlah media sosial seperti Twitter, banyak video beredar yang menunjukkan para demonstran meneriakkan "Bangkit, jangan takut, Sisi harus hengkang!"

Sementara itu, para petugas berseragam sipil menghadapi para demonstran yang mencoba mendekati Lapangan Tahrir Kairo, tempat protes dimulai pada 2011 yang menggulingkan Hosni Mubarak.

Dalam kabar yang diwartakan Al Jazeera, dikutip pada Sabtu (21/9/2019), jurnalis dilarang meliput. Namun, ada beberapa laporan penangkapan di ibu kota dan penggunaan gas air mata untuk membubarkan para pengunjuk rasa.

Demonstrasi itu terjadi setelah pengusaha dan aktor Mesir, Mohamed Ali, menuduh el-Sisi melakukan korupsi. Ia, dalam sebuah klip yang diunggah di Twitter, meminta masyarakat turun ke jalan dan menuntut agar mantan Panglima Angkatan Bersenjata Mesir tersebut dilengserkan.

"Jika el-Sisi tidak mengumumkan pengunduran dirinya pada Kamis, maka rakyat akan turun ke jalan pada Jumat sebagai bentuk protes," ujar Ali dalam video yang pertama di-posting pada 2 September 2019.

Rekaman-rekaman terbarunya telah ditonton ratusan ribu kali dan seketika mengubahnya menjadi publik figur di tanah kelahirannya.

Dalam sebuah video baru yang dirilis pada Jumat kemarin, bertepatan dengan momentum protes, Ali mendorong orang-orang untuk tetap kuat dan terus menuntut hak-hak mereka.

"Tuhan itu hebat ... sudah cukup, aku ingin Mesir kembali. Aku merindukan Mesir dan bangsaku. Semoga Tuhan menguatkan tekad kalian," katanya.

2 dari 3 halaman

Protes Langka

Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi. (AP)
Perbesar
Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi. (AP)

Yehia Ghanem, analis Timur Tengah dari Al Jazeera, mengatakan: "Apa yang terjadi di Mesir sekarang adalah gerakan yang sudah lama ditunggu ... untuk membersihkan negara dari tirani."

Demonstrasi tersebut adalah aksi yang jarang sekali dilakukan di Mesir. Negeri Piramida ini melarang semua bentuk penyampaian aspirasi, termasuk unjuk rasa, tidak sah pada 2013 setelah al-Sisi memimpin militer untuk menggulingkan Mohamed Morsi (yang terpilih secara demokratis).

Sejak al-Sisi berkuasa pada 2014, langkah-langkah penghematan ekonomi telah diperkenalkan, membantu untuk melesatkan kembali perekonomian negara yang terpukul oleh Musim Semi Arab 2011. Di satu sisi, tingkat kemiskinan melonjak.

Menurut statistik resmi, dirilis pada Juli, satu dari tiga orang Mesir hidup dalam kemiskinan. Human Rights Watch melaporkan, "Sejak al-Sisi mendapatkan masa jabatan kedua pada 2018, pasukan keamanannya terus meningkatkan kampanye intimidasi, kekerasan, dan penangkapan sewenang-wenang terhadap para lawan politik, aktivis."

Pihak berwenang tidak dapat dihubungi untuk mengonfirmasi berita ini. Televisi pro-pemerintah pun tidak meliput insiden itu, menurut Al Jazeera.

Namun ada satu sumber yang menyebut, hanya sekelompok kecil pemrotes berkumpul di Kairo pusat untuk mengambil video dan swafoto, sebelum akhirnya meninggalkan tempat kejadian. Saluran resmi lainnya mengatakan, situasi di sekitar Lapangan Tahrir tenang.

 

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Juga Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓