Indonesia-Korsel Berupaya Tingkatkan Nilai Perdagangan hingga Sosial Budaya

Oleh Liputan6.com pada 18 Sep 2019, 19:43 WIB
FPCI: Airlangga Hartanto, Dino Patti Djalal, Kim Chang Beom, Umar Hadi, serta tamu undangan lainnya berfoto bersama pada acara Indonesia-Korea Confrence 2019: Charting a Blueprint for Robust Partnership, Rabu 18/9/2019) (Liputan6.com/Hugo Dimas)

Liputan6.com, Jakarta - Foreign Policy Community of Indonesia (FCPI) menggelar “Indonesia - Korea Conference 2019: Charting Blueprint for Robust Partnership”. Hal tersebut merupakan peringatan 46 tahun hubungan diplomatik antara Republik Korea Selatan dengan Indonesia yang diselenggarakan pada Rabu (18/9/2019) di Soehanna Hall, Jakarta.

Konferensi dihadiri oleh Menteri Perindustrian, Airlangga Hartanto yang juga sekaligus membuka acara dengan pidato singkat, bersama Dubes Korea Selatan untuk Indonesia, Kim Chang-beom, hingga pendiri FPCI, Dino Patti Djalal.

Tak hanya itu, tamu undangan lainnya yang merupakan ahli dan praktisi, bahkan pengusaha juga turut mengisi acara diskusi terbuka untuk membahas penguatan kerjasama ekonomi dan bisnis antar-Indonesia dan Republik Korea.

Diketahui, hubungan antara Indonesia dengan Korea Selatan sudah terjalin lama dan erat, mengingat keduanya memiliki kepentingan bersama dalam berbagai aspek, terutama perdagangan. Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, Indonesia merupakan salah satu negara strategis pada kebijakan New Southern Policy yang disuarakan oleh Presiden Korea Selatan, Moon Jae-In.

Korea Selatan telah menjadi salah satu mitra strategis bagi Indonesia. Bahkan disebutkan nilai perdagangan antar dua negara tersebut hingga mencapai lebih dari 20 miliar dolar Amerika Serikat atau lebih kurang 200 triliun rupiah.

2 of 3

Pererat Hubungan Bilateral Kedua Negara

Ilustrasi bendera Korea Selatan (AP/Chung Sung-Jun)
Ilustrasi bendera Korea Selatan (AP/Chung Sung-Jun)

Konferensi yang digelar pada tahun 2019 ini adalah kali pertama mempertemukan berbagai kalangan. Meliputi akademisi, institusi pemerintah, hingga pengusaha untuk saiing bertukar gagasan dalam menentukan kelanjutan serta masa depan hubungan Indonesia dan Korea Selatan melalui berbagai aspek bilateral.

Hadirnya pertemuan ini dimaksudkan dapat berdialog yang membangun antar-praktisi dan para ahli, terutama perdagangan dalam menangani berbagai kendala yang dialami. Melalui pertemuan tersebut juga diharapkan dapar tercipta kondisi hubungan bilateral yang kondisif dan semakin erat dalam rangka menjadi Special Strategic Partnership. 

Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Kim Chang beom bahkan turut mengucapkan dalam bahasa Indonesia perihal kekuatan yang ingin diwujudkan dalam hubungan Indonesia-Korea Selatan. “Indonesia dan korea adalah teman sehati dan sejati," ujar Kim.

"Indonesia bukan hanya seorang partner, tetapi juga berhubungan strategis," pungkas Kim Chang Beom.

Publik juga diharapkan dapat lebih memahami perihal aspek ekonomi, politik, serta sosial-budaya dalam mewujudkan hubungan antar individu masyarakat Indonesia dengan Republik Korea yang semakin komprehensif.

3 of 3

Harapan dan Fokus Penguatan

Ilustrasi bendera Indonesia
Ilustrasi bendera Indonesia (Sumber: Pixabay)

Dengan terpilihnya Joko Widodo sebagai presiden Republik Indonesia untuk periode 2019-2024, diharapkan dapat memperkaya dan mempererat tali silaturahmi yang dibangun dalam hubungan bilateral Indonesia-Republik Korea dalam berbagai aspek di tahun-tahun yang akan datang.

Pada konferensi yang digelar di salah bilangan di kawasan SCBD tersebut, memiliki tiga fokus topik utama. 

Topik utama tersebut meliputi ekonomi dan bisnis, politik, dan sosial-budaya yang mana akan turut menentukan hubungan yang akan dijalin antar Indonesia dengan Republik Korea di masa yang akan datang dan berkepanjangan.

Reporter: Hugo Dimas

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by