Ada Lubang Hitam Supermasif Rakus, 3 Kali Sehari Mangsa 4 Material Bulan

Oleh Afra Augesti pada 18 Sep 2019, 21:00 WIB
Lubang Hitam Supermasif Rakus

Liputan6.com, California - Ilmuwan NASA telah menemukan sebuah lubang hitam supermasif rakus di pusat galaksi yang berjarak ratusan juta tahun cahaya dari Bumi.

Tim astronom mendapati semburan sinar-X yang berulang setiap sembilan jam yang berasal dari pusat galaksi GSN 069. Temuan ini diperoleh dari hasil kerja sama Chandra X-ray Observatory NASA dan XMM-Newton ESA atau European Space Agency.

Para ilmuwan sebelumnya pernah menemukan dua lubang hitam 'massa bintang' (yang berbobot sekitar 10 kali massa Matahari) yang terkadang mengeluarkan semburan biasa. Namun, perilaku lubang hitam supermasif baru tersebut tidak pernah terdeteksi sampai sekarang.

Lubang hitam di GSN 069 terletak 250 juta tahun cahaya dari Bumi, mengandung sekitar 400.000 kali massa Matahari. Para peneliti memperkirakan bahwa lubang hitam supermasif itu memakan sekitar empat material penyusun Bulan setiap tiga kali sehari.

"Cara memangsa lubang hitam ini belum pernah kita lihat sebelumnya," kata Giovanni Miniutti dari Center for Astrobiology ESA di Spanyol, dikutip dari India Today, Rabu (18/9/2019).

"Perilaku tersebut juga tak pernah terdeteksi sebelumnya sehingga kami harus membuat kesimpulan baru untuk menggambarkannya: 'X-ray Quasi-Periodic Eruptions' (Erupsi Kuasi-Periodik Sinar-X)," tambah Miniutti.

Berikut cuplikannya:

2 of 3

Semburan Pertama Terlihat pada 2018

Ilustrasi Lubang Hitam Supermasif Bergabung
Konsep seni merger lubang hitam supermasif. (Foto: ESA)

XMM-Newton ESA adalah teleskop pertama yang mengamati fenomena ini di GSN 069, dengan mendeteksi dua semburan pada 24 Desember 2018.

Miniutti dan rekannya kemudian menindaklanjuti laporan tersebut dengan pengamatan XMM-Newton pada 16 dan 17 Januari 2019, dan menemukan lima semburan.

Pengamatan oleh Chandra X-ray Observatory dilakukan kurang dari sebulan kemudian, pada 14 Februari, mengungkapkan tiga semburan tambahan.

"Dengan menggabungkan data dari dua observatorium sinar-X ini, kami telah melacak semburan berkala setidaknya selama 54 hari," kata penulis studi Richard Saxton dari European Astronomy Center di Madrid, Spanyol.

"Temuan itu memberi kita kesempatan unik untuk menyaksikan aliran materi ke dalam lubang hitam supermasif yang berulang kali mempercepat dan melambat," tambah Saxton.

3 of 3

Apa yang Terjadi Selama Semburan?

Ilustrasi lubang hitam raksasa atau supermassive black hole
Ilustrasi lubang hitam raksasa atau supermassive black hole yang berjarak 13 miliar tahun cahaya dari Bumi (Robin Dienel/Carnegie Institution for Science)

Asal usul gas panas ini telah lama menjadi misteri, karena tampaknya terlalu panas untuk dikaitkan dengan cakram materi yang mengelilinginya di sekitar lubang hitam.

Meskipun kemunculannya juga merupakan misteri di GSN 069, kemampuan untuk mempelajari lubang hitam supermasif --di mana gas panas berulang kali terbentuk kemudian menghilang-- dapat memberikan petunjuk penting.

"Kami pikir, asal-usul emisi sinar-X adalah sebuah bintang yang lubang hitamnya --sebagian atau seluruhnya-- telah terkoyak dan secara perlahan memangsanya sedikit demi sedikit," menurut penulis lain, Margherita Giustini.

"Namun, untuk semburan berulang, ini adalah cerita yang sama sekali berbeda yang asalnya perlu dipelajari dengan data lebih lanjut dan model teoritis baru," tambahnya.

Data Chandra X-ray Observatory sangat penting untuk penelitian ini, karena dapat menunjukkan bahwa sumber sinar-X terletak di pusat galaksi induk, yang merupakan tempat lubang hitam supermasif disinyalir ada.

Kombinasi data dari Chandra X-ray Observatory dan XMM-Newton menyiratkan bahwa ukuran dan durasi pemangsaan yang dilakukan oleh lubang hitam rakus tersebut telah meningkat.

Lanjutkan Membaca ↓