Fotografer Foto 'Tank Man' pada Tragedi Tiananmen 1989 Tutup Usia di Bali

Oleh Liputan6.com pada 16 Sep 2019, 08:00 WIB
Tank Man (Jeff Widener / Associated Press)

Liputan6.com, Bali - Salah satu fotografer yang mengambil gambar paling menentukan dalam insiden penumpasan demonstran di Lapangan Tiananmen, China, meninggal dunia di Indonesia pada 13 September 2019, demikian dikatakan pejabat Amerika Serikat.

Adapun foto hasil jepretan yang fenomenal tersebut adalah berupa foto seorang laki-laki sendirian yang menghalangi jalannya barisan tank di Tiananmen, pria itu populer disebut sebagai 'Tank Man'.

Kementerian Luar Negeri AS mengukuhkan kematian Charlie Cole, usia 64 tahun, di Bali, tempat warga Texas itu bermukim sajak lama, demikian seperti dikutip dari VOA Indonesia, Senin (16/9/2019).

Cole memenangi penghargaan World Press Photo 1990 untuk fotonya, di mana seorang laki-laki berkemeja putih, membawa tas belanja di masing-masing tangan, turun ke jalan sehari setelah tentara China membunuh ratusan demonstran pro-demokrasi di pusat kota Beijing.

Laki-laki itu, yang identitasnya sampai kini tidak diketahui, berhenti di depan barisan tank dan kendaraan lapis baja yang membentang jauh hingga ke ujung jalan. Ia kemudian naik ke kendaraan itu untuk berbicara dengan salah seorang awak tank, sementara suara tembakan terdengar di udara Tiananmen.

"Tank Man" telah menjadi salah satu foto penentu abad ke-20, tetapi foto itu umumnya tetap tidak dikenal di China yang menyensor foto itu dan melakukan penindasan yang lebih luas.

2 of 3

Sekilas Insiden Tiananmen

Sudut pandang lain pada foto ikonik 'Tank Man' yang diambil Stuart Franklin dari Magnum Photos (Stuart Franklin / Magnum Photos / public domain)
Sudut pandang lain pada foto ikonik 'Tank Man' yang diambil Stuart Franklin dari Magnum Photos (Stuart Franklin / Magnum Photos / public domain)

Pembantaian Lapangan Tiananmen, yang biasa dikenal di China daratan sebagai Insiden Empat Juni (liùsì shìjiàn) atau Enam-Empat, adalah demonstrasi yang dipimpin mahasiswa di Beijing pada pertengahan 1989.

Secara lebih luas, itu merujuk pada gerakan nasional populer yang diilhami oleh protes Beijing selama periode itu, kadang-kadang disebut Gerakan Demokrasi '89 (bājiu mínyùn).

Protes direpresif secara paksa setelah pemerintah mengumumkan darurat militer dan mengirim tentara untuk menduduki Beijing.

Dalam apa yang kemudian dikenal sebagai Pembantaian Lapangan Tiananmen, pasukan dengan senapan serbu dan tank menembaki para demonstran yang mencoba memblokir langkah militer menuju Lapangan Tiananmen. Perkiraan korban tewas bervariasi dari beberapa ratus hingga ribuan jiwa.

Berangkat dari kematian pemimpin Komunis pro-reformasi Hu Yaobang pada April 1989, di tengah latar belakang perkembangan ekonomi yang cepat dan perubahan sosial di China pasca-Mao Zedong, protes tersebut mencerminkan kekhawatiran tentang masa depan negara dalam kesadaran rakyat dan di kalangan elite politik.

Reformasi tahun 1980-an telah mengarah pada ekonomi pasar yang baru lahir namun berdampak pada kesenjangan ekonomi, dan sistem politik satu partai juga menghadapi tantangan legitimasi.

Mahasiswa berkumpul selama tiga pekan di Lapangan Tiananmen, sebelum tank menggilas mereka pada 4 Juni 1989. Foto diambil pada  14 Mei 1989 (CATHERINE HENRIETTE / AFP )

Keluhan umum pada saat itu termasuk inflasi, korupsi, kesiapan lulusan pendidikan yang terbatas untuk ekonomi baru, dan pembatasan partisipasi politik.

Gerakan siswa menyerukan demokrasi, akuntabilitas yang lebih besar, kebebasan pers, dan kebebasan berbicara, meskipun mereka menyusun aksi dengan tidak teratur dan tujuan mereka beragam.

Pada puncak protes, sekitar 1 juta orang berkumpul di Alun-alun Tiananmen.

Ketika protes berkembang, pihak berwenang merespons dengan taktik damai dan keras, yang memperlihatkan perpecahan yang mendalam di dalam kepemimpinan partai.

Pada Mei 1989, mogok makan yang dipimpin oleh mahasiswa menggalang dukungan untuk para demonstran di seluruh negeri, dan protes menyebar ke sekitar 400 kota.

Pada akhirnya, pemimpin tertinggi Tiongkok, Deng Xiaoping dan para sesepuh Partai Komunis lainnya percaya bahwa protes tersebut merupakan ancaman politik dan memutuskan untuk menggunakan kekuatan.

Foto mantan pemimpin Cina Mao Zedong terlihat melalui jendela mobil di Gerbang Tiananmen di sebelah Lapangan Tiananmen di Beijing (4/6/2019). Pemerintah China meningkatkan keamanan di sekitar Lapangan Tiananmen di pusat Beijing jelang peringatan tragedi Tiananmen 1989. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Dewan Negara mendeklarasikan darurat militer pada 20 Mei 1989 dan mengerahkan sebanyak 300.000 tentara ke Beijing.

Tentara maju ke tengah Beijing pada jalan utama kota pada dini hari 4 Juni 1989, menewaskan demonstran dan warga biasa dalam proses mereka untuk meredam demonstrasi.

Komunitas internasional, organisasi hak asasi manusia, dan analis politik mengecam pemerintah Tiongkok atas pembantaian tersebut. Negara-negara Barat memberlakukan embargo senjata ke China.

Pemerintah China melakukan penangkapan besar-besaran terhadap para demonstran dan para pendukungnya, menekan protes-protes lain di sekitar Tiongkok, mengusir wartawan asing, secara ketat mengontrol liputan peristiwa-peristiwa dalam pers domestik, memperkuat polisi dan pasukan keamanan internal, dan menurunkan pejabat yang dianggap simpatik kepada para demonstran.

Secara lebih luas, penindasan untuk sementara waktu menghentikan kebijakan liberalisasi pada 1980-an.

Demonstrasi berujung pembantaian di Tiananmen dianggap sebagai peristiwa penting, yang kemudian menjadi embrio pembatasan ekspresi politik di China hingga abad ke-21. Memori atas peristiwa itu secara luas dikaitkan dengan mempertanyakan legitimasi pemerintahan Partai Komunis dan tetap menjadi salah satu topik paling sensitif dan paling banyak disensor di Tiongkok, hingga hari ini.

3 of 3

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓