Meski Survei Kinerja Ekonomi Menurun, Donald Trump Diprediksi Terpilih Lagi

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 15 Sep 2019, 15:02 WIB
Donald Trump dalam safari politiknya di Biloxi, negara bagian Mississippi, pada November 2018 (AFP/Jim Watson)

Liputan6.com, Washington DC - Jajak pendapat terbaru di Amerika Serikat menunjukkan penurunan tingkat persetujuan kinerja pemerintahan (approval rating) Presiden Donald Trump, terutama pada aspek ekonomi.

Namun, banyak kalangan pebisnis menilai bahwa survei itu hanya berdampak minim pada Trump yang akan kembali maju pada persaingan pilpres AS 2020 mendatang. Bahkan, setidaknya untuk saat ini, hasil survei masih memproyeksikan bahwa Trump bisa terpilih lagi, demikian seperti dikutip dari CNBC, Minggu (15/9/2019).

Lebih dari dua pertiga kepala pejabat keuangan Amerika Utara yang disurvei oleh 'CNBC Global CFO Council' untuk kuartal ketiga (Q3) 2019 mengatakan, Trump akan memenangkan pemilihan 2020, sementara seperempatnya memprediksi mantan Wakil Presiden AS Joe Biden dari Demokrat yang akan keluar sebagai juara.

CNBC Global CFO Council mewakili beberapa perusahaan publik dan swasta terbesar di dunia, yang secara kolektif mengelola lebih dari US$ 5 triliun nilai pasar di berbagai sektor. Survei Q3 2019 dilakukan antara 21 Agustus dan 3 September di antara 62 anggota global dewan.

Di sisi lain, approval rating atas pemerintahan Donald Trump pada sektor ekonomi menunjukkan penurunan. Sang presiden dinilai sebagai pemicu perlambatan ekonomi AS dan perang dagang AS-China yang berlarut --menurut jajak pendapat dari CNN-RSS, Washington Post-ABC News, dan Quinnipiac University.

Bahkan hasil jajak pendapat memicu sentimen negatif di pasar saham AS Wall Street --CNBC melaporkan.

Tapi...

Jajak pendapat CNBC terbaru untuk kuartal ketiga (Q3) 2019 mengafirmasi bahwa penurunan approval rating Trump pada sektor ekonomi memang mencerminkan kondisi perekonomian yang tak begitu ajeg pada tahun ini.

Tapi, survei CNBC justru memprediksi bahwa secara umum, peluang Donald Trump masih "baik" untuk kembali maju pada Pemilu 2020. Karena, dampak perekonomian itu tidak menimbulkan kekhawatiran akan adanya resesi pada 2020 --menurut survei.

Enam puluh lima persen CFO mengatakan ekonomi AS tidak akan mengalami resesi pada tahun 2020, dan mereka memegang keyakinan ini meskipun mereka tidak mendukung pandangan Trump bahwa pemotongan suku bunga lebih banyak diperlukan dari US Federal Reserve untuk menjaga ekspansi ekonomi berjalan. Mayoritas CFO mengatakan bahwa tingkat suku bunga saat ini "sesuai."

2 of 3

Kata Analis Soal Korelasi Kondisi Ekonomi dan Pemilu AS 2020

Wall Street Tertekan Kena Imbas Krisis Yunani
Ilustrasi Wall Street (File / Liputan6.com)

Seorang presiden AS yang berkuasa secara historis menderita di tahun-tahun pemilihan berikutnya ketika ekonomi sedang goyah pada masa jabatan pertamanya (meskipun hanya ada dua resesi formal dalam sejarah AS selama tahun-tahun pemilihan sejak Perang Dunia II)

Harry Truman dan Jimmy Carter mencalonkan diri untuk dipilih kembali pada tahun yang sama dengan resesi. Truman menang; Carter kalah.

Ekonomi yang lemah memang merugikan peluang presiden yang sedang menjabat, meski penghuni Oval Office itu menerapkan sejumlah kebijakan untuk mengatasinya.

Indeks Sentimen Konsumen Universitas Michigan membantu melacak pandangan konsumen tentang, dan harapan untuk, ekonomi. Selama sejarah survei itu sejak pertengahan abad ke-20, "sebagian besar" menemukan bahwa "jika indeks rendah, petahana tidak terpilih kembali," kata Richard Curtin, direktur survei konsumen di University of Michigan seperti dikutip dari CNBC.

Presiden yang mencalonkan diri untuk dipilih kembali di tengah kondisi ekonomi yang lemah juga berjuang karena mereka perlu menemukan masalah lain untuk menarik pemilih, Lynn Vavreck, seorang profesor politik dan kebijakan publik Amerika di UCLA, baru-baru ini mengatakan kepada CNBC.

Dia menambahkan bahwa Trump "diposisikan lebih baik daripada kebanyakan" untuk menahan perlambatan ekonomi, karena ia berlari pada isu-isu yang berfokus pada identitas seperti imigrasi pada tahun 2016.

"Tetapi, tanpa ekonomi yang baik akan lebih sulit baginya untuk mengayunkan pemilih marginal," kata Vavreck.

Sebuah laporan JP Morgan pada Kamis 12 September 2019 menempatkan peluang resesi dalam satu tahun sebesar 40%.

Survei itu mengutip tidak hanya kelemahan ekonomi global dan kurva hasil terbalik dalam obligasi pemerintah AS, tetapi juga pasar tenaga kerja yang ketat, mempersempit margin bisnis dan utang perusahaan yang tinggi sebagai kerentanan yang "Cukup, tapi tidak mencolok." Ini juga mencatat valuasi tinggi di sektor teknologi dan perang dagang AS-China.

3 of 3

Simak video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓