Para Pemimpin Afrika Datang Jelang Pemakaman Kenegaraan Robert Mugabe di Zimbabwe

Oleh Tanti Yulianingsih pada 14 Sep 2019, 14:15 WIB
Presiden Zimbabwe Robert Mugabe pada upacara pelantikannya di State house di Harare, Zimbabwe, 2008. (Tsvangirayi Mukwazhi / AP)

Liputan6.com, Harare - Para pemimpin Afrika berkumpul di ibu kota Zimbabwe, Harare, ketika negara itu bersiap untuk pemakaman kenegaraan mantan presiden Robert Mugabe pada hari Sabtu.

Menurut laporan BBC, Sabtu (14/9/2019), lebih dari selusin pemimpin saat ini dan pendahulunya, termasuk Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, diperkirakan hadir.

Sebuah stadion olahraga nasional, National Sports Stadium Zimbabwe juga diperkirakan akan penuh dengan para simpatisan.

Pemakaman itu terjadi usai pertikaian antara keluarga Robert Mugabe dan pemerintah terkait lokasi peristirahatan terakhir sang pemimpin Zimbabwe tiga dekade.

Beberapa pejabat tinggi, termasuk Presiden Guinea Ekuatorial Theodore Obiang Nguema, telah tiba.

Obiang, yang berkuasa pada tahun 1979 dan sejauh ini telah melampaui pemerintahan Mugabe selama 30 tahun pada satu dekade, mengatakan ia adalah "seorang pemimpin tanpa perbandingan di benua Afrika" dan memuji kebijakan kontroversialnya dalam merebut pertanian milik orang kulit putih.

"Rakyat Zimbabwe akan selamanya bersyukur bahwa ia mengambil tanah dari kulit putih dan memberikannya kepada rakyatnya," kata Obiang.

Seperti Obiang, banyak warga Zimbabwe memilih untuk mengingat prestasi mantan pemimpin itu, daripada kekerasan politik dan kekacauan ekonomi yang menandai tahun-tahun terakhir kepresidenannya yang panjang, lapor koresponden BBC Afrika Andrew Harding.

Pengganti Robert Mugabe sebagai presiden, Emmerson Mnangagwa, akan berpidato di hadapan pelayat di National Sports Stadium, tempat ribuan orang akan mengenakan warna partai Zanu-PF yang berkuasa.

Tetapi banyak orang di Harare yang kemungkinan besar akan menolak upacara tersebut karena inflasi yang meningkat dan pengangguran mencengkeram negara.

"Kami lebih bahagia sekarang karena dia pergi. Mengapa saya harus pergi ke pemakamannya? Saya tidak punya bahan bakar," kata seorang warga Harare kepada AFP. "Kami tidak ingin mendengar apa pun tentang dia lagi. Dia adalah penyebab masalah kami."

2 of 3

Akan Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan

Jenazah mantan Presiden Zimbabwe Robert Mugabe setibanya dari Singapore, di Bandara Internasional RG Mugabe, Harare, Kenya, 11 September 2019. (AP)
Jenazah mantan Presiden Zimbabwe Robert Mugabe setibanya dari Singapore, di Bandara Internasional RG Mugabe, Harare, Kenya, 11 September 2019. (AP)

Mantan Presiden Zimbabwe Robert Mugabe akan dimakamkan di Monumen National Heroes Acre atau taman makam pahlawan di Harare, kata keluarganya.

Keputusan untuk memakamkan Mugabe di sana merupakan perkembangan terbaru dalam perselisihan antara keluarganya dan Presiden Emmerson Mnangagwa, yang pernah menjadi orang kepercayaan Mugabe namun akhirnya turut menyingkirkannya dari kekuasaan pada akhir 2017.

"Keputusan keluarga untuk memakamkan Mugabe, yang meninggal dunia dalam usia 95 tahun di Singapura pekan lalu, di tempat tersebut diambil setelah berkonsultasi dengan tetua suku yang berpengaruh," kata keponakan Mugabe, Leo kepada wartawan di kediaman keluarga itu.

Monumen Heroes’ Acre disediakan bagi petinggi partai ZANU-PF yang berkuasa di Zimbabwe yang berkontribusi dalam mengakhiri pemerintah kolonial kulit putih. Mugabe mengawasi pembangunan tempat yang berada di kawasan perbukitan. Di tempat itu didirikan patung para pejuang gerilyawan yang menjulang tinggi.

Leo Mugabe mengatakan ini persiapannya sekitar sebulan, saat makam baru telah dibangun. 

3 of 3

Pelayat Cedera Akibat Berdesakan

Mantan pemimpin Zimbabwe Robert Mugabe yang meninggal di usia 95 tahun. (AFP)
Mantan pemimpin Zimbabwe Robert Mugabe yang meninggal di usia 95 tahun. (AFP)

Sebelumya, jenazah Robert Mugabe disemayamkan di Stadion Rufaro untuk hari ke-dua Jumat waktu setempat. Insiden berdesak-desakan pada hari Kamis membuat cedera sejumlah orang yang ingin melihat jenazah Mugabe.

Mugabe adalah seorang mantan pemimpin pasukan gerilya yang berjuang untuk mengakhiri pemerintahan minoritas kulit putih dan memimpin Zimbabwe selama 37 tahun, sejak negara itu merdeka pada tahun 1980 hingga ia disingkirkan.

Kesehatannya memburuk setelah ia digulingkan oleh militer dan mantan loyalis pada November 2017, mengakhiri aturan yang membuat ekonomi negara hancur.

Dia meninggal setelah menerima perawatan di rumah sakit Singapura selama beberapa bulan, dan sebuah delegasi termasuk Wakil Presiden Kembo Mohadi melakukan perjalanan ke negeri Singa dengan penerbangan charter.

Lanjutkan Membaca ↓