Donald Trump Sebut Perundingan Damai AS - Taliban Sudah 'Mati'

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 10 Sep 2019, 16:15 WIB
Diperbarui 19 Sep 2019, 14:08 WIB
Presiden Amerka Serikat (AS) Donald Trump siap meluncurkan sanksi paling berat terhadap Iran, Senn, 5 November 2018  (AFP).

Liputan6.com, Washington DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa perundingan perdamaian AS-Taliban, yang ditujukan untuk mengakhiri perang 18 tahun di Afghanistan, sudah "mati."

"Sejauh yang saya ketahui, mereka sudah mati," katanya kepada wartawan Gedung Putih, Senin 9 September 2019 waktu lokal, seperti dikutip dari BBC, Selasa (10/9/2019).

Pernyataan itu datang setelah akhir pekan kemarin, Trump membatalkan rencana pertemuan "diam-diam" di Camp David, Maryland, antara AS, Taliban dan pemerintah Afghanistan.

"Kami memiliki jadwal pertemuan. Itu adalah ide saya dan itu adalah ide saya untuk menghentikannya. Saya bahkan tidak membicarakannya dengan orang lain," kata Trump ketika ia meninggalkan Gedung Putih untuk sebuah demonstrasi politik di North Carolina.

Trump menjustifikasi pembatalan itu dengan alasan bahwa Taliban mengakui serangan bom terbaru di Ibu Kota Kabul pada pertengahan pekan lalu, menewaskan 12 orang termasuk seorang tentara AS.

"Mereka berpikir bahwa mereka harus membunuh orang untuk menempatkan diri mereka dalam posisi negosiasi yang sedikit lebih baik," lanjut Trump kepada wartawan, sekaligus menyebut serangan terbaru di Kabul sebagai sebuah "kesalahan besar" Taliban.

Komentar Trump juga datang ketika AS-Taliban tampak dekat mencapai kesepakatan awal pekan lalu, di mana hampir lebih dari separuh pasukan Amerika di Afghanistan akan ditarik pulang.

Di sisi lain, Taliban tidak pernah setuju untuk mengakhiri rangkaian aksi kekerasan mereka terhadap pasukan Afghanistan dan asing selagi negosiasi dengan AS berlangsung. Enam belas tentara AS terbunuh tahun ini --tahun di mana AS-Taliban memulai negosiasi perdamaian, dengan yang terakhir dilaksanakan di Doha, Qatar.

Pada tahun 2001, pasukan pimpinan AS menggulingkan Taliban yang kalai itu memerintah Afghanistan karena kelompok gerilyawan telah menampung jaringan al Qaeda untuk merencanakan serangan terhadap AS pada 11 September.

2 of 3

Taliban: Amerika yang Paling Merugi

Wakil Pemimpin Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar. (AFP)
Wakil Pemimpin Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar. (AFP)

Merespons pembatalan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap negosiasi lanjutan perdamaian AS-Taliban, kelompok gerilyawan asal Afghanistan itu menyebut bahwa "Amerika-lah yang paling merugi" dari keputusan tersebut.

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid menuduh AS kurang memiliki kedewasaan dan pengalaman, setelah menarik diri dari perundingan karena satu insiden.

Mujahid juga mengatakan bahwa AS "akan sangat merugi" telah membatalkan negosiasi lanjutan, demikian seperti dikutip dari BBC.

Pengumuman pembatalan itu hanya berselang beberapa hari, setelah utusan khusus AS untuk Afghanistan, Zalmay Khalilzad, menyatakan telah mencapai "prinsip-prinsip" kesepakatan damai dengan Taliban pada Senin 2 September.

Khalilzad sebelumnya memimpin negosiasi perdamaian sebanyak sembilan putaran pembicaraan antara AS dan perwakilan Taliban, yang diadakan di Doha, ibu kota negara Teluk Qatar.

Sebagai bagian dari kesepakatan yang diusulkan, AS akan menarik 5.400 tentara dari Afghanistan dalam waktu 20 minggu. Namun Khalilzad mengatakan persetujuan akhir masih ada pada Trump.

AS saat ini memiliki sekitar 14.000 tentara di negara itu dan berencana mempertahankan pasukan yang tersisa (usai pemulangan 5.400 tentara) selama beberapa waktu.

3 of 3

Simak video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓