Tragedi Fukushima, Jepang Akan Buang Air Radioaktif ke Samudra Pasifik

Oleh Afra Augesti pada 10 Sep 2019, 18:35 WIB
Robot Bawah Laut Temukan Lelehan Bahan Bakar Nuklir di Jepang

Liputan6.com, Tokyo - Tokyo Electric Power Company Holdings Inc. (TEPCO) harus membuang air yang terkontaminasi radioaktif dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima ke Samudra Pasifik, kata kementerian lingkungan Jepang.

Setelah pabrik itu lumpuh akibat gempa bumi dan tsunami pada 2011, TEPCO mengumpulkan lebih dari 1 juta ton air yang tercemar dari pipa pendingin yang digunakan untuk menjaga agar inti bahan bakar tidak meleleh.

Utilitas mengatakan, air saat ini disimpan dalam tangki di lokasi pembangkit listrik, tetapi mereka akan kehabisan ruang pada tahun 2022.

"Satu-satunya pilihan adalah mengalirkannya ke laut dan mencairkannya," kata Menteri Lingkungan Yoshiaki Harada dalam jumpa pers di Tokyo, dikutip dari The Guardian, Senin (10/9/2019). "Seluruh pemerintah akan membahas ini, tetapi saya ingin menawarkan pendapat sederhana saya."

Namun, keputusan akhir pemerintah Jepang untuk membuang air kotor tersebut, masih harus menunggu laporan dari panel ahli.

Harada tidak mengatakan berapa banyak air yang perlu dimasukkan ke laut dan para pejabat TEPCO belum bersedia untuk memberikan komentar mereka.

Setiap praktik yang melibatkan pembuangan limbah ke laut lepas, bagaimanapun, bisa membuat marah negara tetangga, seperti Korea Selatan.

Negeri Gingseng lalu memanggil seorang pejabat senior kedutaan besar Jepang di Seoul pada bulan lalu guna menjelaskan bagaimana Korea Selatan akan berurusan dengan air Fukushima.

Sementara itu, air yang dibuang ke laut lepas umumnya mengandung tritium, isotop hidrogen yang sulit dipisahkan dan dianggap relatif tidak berbahaya.

TEPCO, yang juga ditentang oleh nelayan-nelayan di Jepang dan sekitarnya, mengakui pada tahun lalu bahwa air di bak-bak penampungan mereka masih mengandung kontaminan selain tritium.

2 of 4

Masih Dipertimbangkan?

20160307-Mengunjungi Kota Hantu Reaktor Nuklir Fukushima-Jepang
Dua wisatawan melihat Stasiun Tomioka yang ditinggalkan di Namie, Prefektur Fukushima, 11 Februari 2016. Lima tahun pasca bencana nuklir yang dipicu gempa dan tsunami Jepang, banyak wisatawan yang bergabung dengan tur Fukushima (AFP PHOTO/Toru Yamanaka)

Menurut laporan Japan Today, pada awal bulan ini para pejabat pemerintah mengatakan bahwa mereka masih mempertimbangkan opsi untuk menangani air yang terkontaminasi di pabrik Fukushima.

Ditanya oleh salah satu pejabat kedutaan yang berpartisipasi tentang waktu keputusan panel, para petinggi menyebut waktu seperti itu belum ditetapkan.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh 27 pejabat kedutaan dari 22 negara dan wilayah, termasuk Korea Selatan dan Amerika Serikat. Sejauh ini, belum ada protes atau tuntutan dari perwakilan yang berpartisipasi dalam perjumaan ini.

Satoru Toyomoto dari Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang mengatakan bahwa sebuah sub komite pemerintah masih mempertimbangkan pilihan ini.

"Anda mungkin berpikir setelah tujuh tahun (ini harus diputuskan), tapi kami telah melakukan yang terbaik dan kami telah melakukan semua hal yang mungkin terjadi dan akhirnya kami sampai pada tahap di mana kami dapat mempertimbangkan hal ini," katanya.

"Satgas (yang dibentuk) dua tahun lalu mempertimbangkan berbagai pilihan, termasuk pembuangan geologi, penguapan, penguburan di bawah tanah, pelepasan hidrogen atau pembuangan ke laut.”

"Dari kelima pilihan tersebut, kami mencoba membuat penilaian komprehensif mengenai opsi-opsi itu, tapi juga langkah-langkah reputasinya."

3 of 4

Pernyataan TEPCO Tahun Lalu

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima (AP)

Sebelumnya pada 2018, pemerintah Jepang belum mengetahui apa yang harus dilakukan dengan lebih dari 1 juta ton air radioaktif yang berada di lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima.

Beberapa hari setelah peringatan tujuh tahun bencana nuklir Fukushima pada tahun lalu, perusahaan listrik TEPCO mengungkap pihaknya hanya berhasil memperlambat laju air yang tercemar itu, yang sudah mencapai fasilitas reaktor. Namun, jumlahnya terus meningkat.

"Beberapa tahun lalu, air radioaktif meningkat 400 ton per hari, namun kenaikan per hari kini telah turun menjadi sekitar 100 ton per hari," kata Naohiro Masuda dari TEPCO seperti dikutip dari Australiaplus, 3 Maret 2018.

"Beberapa tahun kemarin, kami harus membuat satu tangki baru setiap dua atau tiga hari, tapi sekarang kami perlu menambah satu tangki baru setiap tujuh sampai 10 hari. Kami pikir ini adalah kemajuan sampai tingkat tertentu. Dalam arti ini adalah situasi yang lebih stabil," sebutnya.

Ada lebih dari 1.000 tangki air yang terkontaminasi sekarang di lokasi Fukushima dan pihak pemerintah masih belum memutuskan apa yang harus dilakukan dengan air itu.

Setelahnya, TEPCO menyebut dinding tanah beku bawah tanahnya -- yang diharapkan menjadi pertahanan utama terhadap kontaminasi air tanah -- hanya memiliki kapasitas terbatas.

Dinding penghalang sepanjang 1,5 kilometer dirancang agar air tanah tak mengalir ke bangunan reaktor yang rusak akibat bencana. Dinding tersebut menghabiskan biaya lebih dari US$ 300 juta (atau setara Rp 3 triliun) untuk pembangunannya dan menghabiskan biaya US$ 10 juta (atau setara Rp 100 miliar) untuk beroperasi.

Masuda mengatakan, kombinasi langkah-langkah perusahaan untuk mencegah kontaminasi berarti situasinya kurang stabil secara keseluruhan. Jadi, sementara tingkat air yang terkontaminasi masih meningkat -- meski pada tingkat yang lebih lambat -- pemerintah Jepang belum menyetujui sepenuhnya untuk mengatasi persoalan ini.

Salah satu pilihan kontroversial termasuk dekontaminasi air sebanyak mungkin dan kemudian secara bertahap melepaskannya ke laut. Para ahli di TEPCO menasihati Pemerintah Jepang agar segera membuang air radioaktif secara bertahap ke Samudera Pasifik terdekat.

Hal tersebut karena penanganan cara itu bisa menghilangkan semua unsur radioaktif, kecuali tritium, yang menurut mereka aman dalam jumlah kecil. Namun, nelayan-nelayan lokal menolak gagasan tersebut, karena khawatir akan berdampak buruk terhadap reputasi produk mereka.

 

4 of 4

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by
Tragedi Kabut Asap