Fakta di Balik Makanan Jatuh 'Belum Lima Detik'

Oleh Liputan6.com pada 09 Sep 2019, 19:40 WIB
Ilustrasi Makanan (Liputan6.com/M.Iqbal)

Liputan6.com, Jakarta - "Belum lima detik, makan saja." Ungkapan itu kerap terlontar ketika orang membuka bungkus makanan namun jatuh ke lantai sebelum sempat dimakan. Bahaya kah?

Banyak yang selalu menyepelekan aturan 'lima detik' dari makanan yang telah jatuh di lantai. Padahal, aturan yang populer sejak lama itu ternyata tidak menghindari kuman dan bakteri.

Faktanya, penelitian telah menemukan bahwa tidak peduli seberapa cepat seseorang mengambil makanan yang jatuh ke lantai, tetap saja ada bakteri yang telah menempel. Apalagi kalau sudah lima menit.

Walaupun tidak ada bukti pasti tentang dari mana aturan ini berasal, tetapi menurut Prevention, itu mungkin berasal dari penguasa Mongolia, Jenghis Khan --seorang yang diduga membiarkan makanan yang telah jatuh untuk tetap dimakanan selama makanan yang disiapkan untuknya selalu cukup baik untuk dimakan.

Berabad-abad kemudian, penggemar Julia Child --koki terkenal di Amerika-- mengklaim, Julia menjatuhkan kalkunnya ke lantai dan kemudian tetap memasaknya dalam program acara memasak. Akan tetapi, desas-desus ini dibantah.

Dilansir dari Reader's Direct, berikut penjelasan mengenai aturan makana yang sudah jatuh selama lima detik ini:

2 of 3

Bakteri yang Menempel

Ilustrasi bakteri
Ilustrasi bakteri. (Foto: Mirror)

"Aturan belum lima detik adalah mitos populer yang sudah ada lama, sayangnya itu bukan aturan nyata yang bisa kita ikuti," ujar Arefa Cassoobhoy, MD, MPH, editor medis di WebMD.

"Mengonsumsi makanan yang jatuh ke tanah memang berisiko membawa bakteri yang diketahui menyebabkan keracunan makanan. Penelitian menunjukkan, makanan akan secara instan mengambil bakteri dari permukaan tempat ia berada," jelasnya.

Satu penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Applied and Enviromental Microbiologi, menguji berbagai makanan di sejumlah permukaan lantai. Hasilnya menemukan, bahwa tidak ada makanan yang jatuh benar-benar lolos dari kontaminasi.

Penelitian itu juga menemukan, semakin lama makanan tertinggal di lantai, semakin banyak bakteri yang terkandung di dalamnya. Namun, meskipun makanan jatuh sesaat, itu tetap menempatkan seseorang pada risiko yang lebih tinggi terkena penyakit yang disebabkan oleh makanan.

Meskipun jumlah waktu makanan di tanah tidak membuat perbedaan, ternyata jenis permukaan lantai, serta komposisi makanan juga jauh lebih penting. Menurut penelitian, lantai berkarpet mentransimiskan lebih sedit bakteri daripada lantai yang terbuat dari ubin dan stainless steel.

Sedangkan untuk jenis makanan, makanan basah seperti semangka memiliki tingkat kontaminasi paling tinggi. Untuk makanan kering seperti potongan cokelat, bakteri yang menempel lebih sedikit.

3 of 3

Bakteri Apa Saja?

Ilustrasi sakit perut
Ilustrasi sakit perut (sumber: iStockphoto)

Saat seseorang memakan makanan yang telah jatuh, ia berisiko terkena bakteri seperti E.coli dan Salmonella, menurut Berkeley Wellness.

Kedua bakteri ini dapat menyebabkan beberapa efek samping yang tidak menyenangkan, dan terkadang bisa mematikan.

Jika makanan terjatuh, menggunakan penilaian sendiri adalah pemikiran yang terbaik daripada aturan 'lima detik'. Seperti bertanya "Apakah makanan itu jatuh di daerah yang sering dilintasi?", "Apakah sering dibershikan?"

"Intinya, saya tidak yakin seberapa besar kemungkinan seseorang akan sakit karena memakan makanan dari lantai, tetapi jika itu adalah makanan lembab yang jatuh di daerah sering dilintasi seperti di sekitar meja dapurku, aku akan membuangnya," ujar Cassoobhoy.

Kita semua telah mengikuti aturan lima detik satu atau dua kali sebelumnya. Sebaiknya, hindarilah daripada menyesal pada akhirnya.

 

 

Reporter: Aqilah Ananda Purwanti

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by
Tragedi Kabut Asap