Donald Trump Batalkan Negosiasi Lanjutan Perdamaian AS - Taliban

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 08 Sep 2019, 10:02 WIB
Presiden Amerka Serikat (AS) Donald Trump siap meluncurkan sanksi paling berat terhadap Iran, Senn, 5 November 2018  (AFP).

Liputan6.com, Washington DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan telah membatalkan negosiasi lanjutan perihal perdamaian AS dan Taliban.

Trump sempat mentweet dia akan bertemu dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dan para pemimpin senior Taliban pada hari Minggu 9 September 2019.

Namun, sang presiden AS membatalkan pertemuan yang dijadwalkan berlangsung di pangkalan militer AS di Camp David, Maryland hari ini waktu lokal.

Pembatalan berkenaan dengan pengakuan Taliban yang melakukan serangan baru-baru ini di Kabul dan menewaskan seorang tentara AS --BBC melaporkan pada Minggu (9/7/2019).

"Tanpa sepengetahuan hampir semua orang, para pemimpin utama Taliban dan, secara terpisah, Presiden Afghanistan, akan secara diam-diam bertemu dengan saya di Camp David pada hari Minggu," tweet Trump pada Sabtu malam.

"Sayangnya, untuk membangun daya tarik palsu, mereka mengakui ... serangan di Kabul yang menewaskan salah satu tentara hebat kita, dan 11 orang lainnya," klaim Trump.

"Saya segera membatalkan pertemuan dan membatalkan negosiasi damai," tambah sang presiden seperti dikutip dariĀ CNN.

Pengumuman pembatalan itu hanya berselang beberapa hari, setelah utusan khusus AS untuk Afghanistan, Zalmay Khalilzad, menyatakan telah mencapai "prinsip-prinsip" kesepakatan damai dengan Taliban pada Senin 2 September.

Khalilzad sebelumnya memimpin negosiasi perdamaian sebanyak sembilan putaran pembicaraan antara AS dan perwakilan Taliban, yang diadakan di Doha, ibu kota negara Teluk Qatar.

Sebagai bagian dari kesepakatan yang diusulkan, AS akan menarik 5.400 tentara dari Afghanistan dalam waktu 20 minggu. Namun Khalilzad mengatakan persetujuan akhir masih ada pada Trump.

AS saat ini memiliki sekitar 14.000 tentara di negara itu dan berencana mempertahankan pasukan yang tersisa (usai pemulangan 5.400 tentara) selama beberapa waktu.

Belum jelas apakah pembatalan negosiasi di Camp David pada hari ini akan berdampak pada keseluruhan proses perundingan.

2 of 3

Serangan Taliban yang Bikin Trump Urung Berdamai

Bom Mobil Taliban Tewaskan Empat Orang di Afganistan
Pasukan keamanan Afghanistan berada di lokasi sehari setelah serangan di Kabul, Afghanistan (15/1). Menurut pejabat setempat, seorang pembom bunuh diri Taliban meledakkan kendaraan bermuatan bahan peledak pada Senin malam. (AP Photo/Rahmat Gul)

Pada Kamis 5 September, sebuah bom mobil meledak di Kabul, menewaskan 12 orang termasuk seorang prajurit AS. Taliban mengakui serangan itu.

Seorang prajurit Rumania yang melayani misi yang dipimpin NATO di negara itu juga tewas.

Serangan itu menyoroti kekhawatiran bahwa perundingan AS dengan Taliban tidak akan mengakhiri kekerasan sehari-hari di Afghanistan dan korbannya pada warga sipil.

Situasi Terkini di Afghanistan

Militan Taliban sekarang menguasai lebih banyak wilayah daripada kapan pun sejak invasi AS 2001 dan sejauh ini menolak untuk berbicara dengan pemerintah Afghanistan, yang mereka cemooh sebagai boneka Amerika.

Sebagai imbalan atas penarikan pasukan AS, Taliban akan memastikan bahwa Afghanistan tidak akan pernah lagi digunakan sebagai pangkalan untuk kelompok-kelompok militan yang berusaha menyerang AS dan sekutunya.

Beberapa orang di Afghanistan khawatir bahwa kesepakatan dapat melihat hak yang diperoleh dengan susah payah dan kebebasan terkikis. Para militan menegakkan hukum agama yang ketat dan memperlakukan wanita secara brutal selama pemerintahan mereka dari tahun 1996 hingga 2001.

Hampir 3.500 anggota pasukan koalisi internasional telah tewas di Afghanistan sejak invasi tahun 2001, lebih dari 2.300 di antaranya adalah orang Amerika.

Angka-angka untuk warga sipil, militan dan pasukan pemerintah Afghanistan lebih sulit untuk diukur. Dalam laporan Februari 2019, PBB mengatakan bahwa lebih dari 32.000 warga sipil telah tewas. Institut Watson di Universitas Brown mengatakan 58.000 personel keamanan dan 42.000 pejuang oposisi tewas.

3 of 3

Simak video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓