Misterius, Dalam Sepekan 45 Walabi di Australia Ditemukan Mati

Oleh Liputan6.com pada 28 Agu 2019, 01:01 WIB
Ilustrasi Foto Walabi (Liputan6.com/pixabay)

Liputan6.com, Australia - Puluhan walabi Australia mati dalam kurun waktu satu pekan. Hal ini memicu rasa gamang akan terjadinya keracunan massal hewan-hewan yang secara rupa mirip dengan kangguru itu. 

Kelompok konservasi hewan, The Agile Project, pertama kali menemukan walabi mati dengan mata memutih dan mulut berbuih di Pantai Trinity, negara bagian Australia, Queensland. Kemudian, sebuah klub sepak bola, pada 21 Agustus juga melaporkan ke organisasi nirlaba itu bahwa mereka menemukan walabi mati di lapangan olahraga.

Semenjak kejadian tersebut, jasad walabi ditemukan setiap hari. Beberapa bayi walabi atau joeys juga ditemukan mati di dalam kantung induk mereka.

Namun, ada juga anak walabi yang masih hidup dan mencoba melompat ke dalam kantung induknya yang sudah terbujur kaku. Tercatat, ada 6 bayi walabi ditemukan hidup dan kini dalam perawatan The Agile Project.  

Hingga saat ini masih belum ada pernyataan khusus terkait penyebab kematian kawanan walabi tersebut. Tim penyelamat masih menunggu hasil uji racun atau toksikologi, seperti dilansir CNN, Selasa (27/8/2019.

2 of 3

Spekulasi Aktivis Konservasi Hewan Terkait Kematian Walabi

German Shepherd, salah satu jenis anjing yang masuk dalam daftar K-9
German Shepherd, salah satu jenis anjing yang masuk dalam daftar K-9. (Creative Commons)

Pendiri The Agile Project, Shai Ager mengungkap, "selama 9 tahun menyelamatkan walabi, saya belum pernah melihat kematian alami walabi yang seperti ini."

Menurutnya, kematian walabi biasanya disebabkan serangan anjing. Namun dalam kasus ini, jasad walabi tidak memiliki luka.

Ager juga menyebut penyebab lain yang biasa terjadi adalah walabi tanpa sengaja melukai diri sendiri saat di bawah tekanan karena dikejar anjing. Dalam kasus ini, ia menduga adanya kemungkinan ulah manusia yang menyebabkan walabi mati karena diracun.

"Mereka meninggal secara mendadak, dan itu mengerikan, menyakitkan," ujar Shai Ager.

3 of 3

Hilangnya Habitat Alami Walabi

Fulan Fehan, hamparan perbukitan yang menyajikan pemandangan eksotik berupa padang savana hijau di NTT. Liputan6.com/Maulandy
Fulan Fehan, hamparan perbukitan yang menyajikan pemandangan eksotik berupa padang savana hijau di NTT. Liputan6.com/Maulandy

Walabi pada umumnya ditemukan di hutan terbuka, padang rumput, hingga lahan dengan vegetasi lebat. Namun, beberapa tahun belakangan ini mereka diusir dari habitatnya dan dipaksa untuk berlindung di pinggiran kota akibat adanya pembangunan perumahan.

Ager menuturkan beberapa wilayah di Australia 'membenci' walabi dan memandang hewan tersebut sebagai hama. Kematian walabi kerap kali dikaitkan dengan aktivitas manusia seperti untuk lahan usaha pertanian. 

"Kami melakukan begitu banyak pekerjaan untuk menyelamatkan hewan-hewan ini, sehingga kematian massal seperti ini menghancurkan kami. ini memilukan," pungkas Shai Ager saat berkomentar terkait kematian massal walabi.

 

Reporter: Hugo Dimas

Lanjutkan Membaca ↓