Berapa Lama Manusia Bertahan Tanpa Oksigen di dalam Air? Ini Penjelasannya

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 27 Agu 2019, 20:10 WIB
Ilustrasi dasar laut

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah orang memang memiliki kemampuan untuk menahan napas tanpa menghirup oksigen. Beberapa orang bahkan pernah mendapat penghargaan atau rekor terkait kemampuan ini.

Seseorang yang biasanya memecahkan rekor atau masuk namanya dalam rekor dunia, memiliki kemampuan menahan napas di dalam air selama lima sampai 10 kali lebih lama dibanding orang biasa.

Dikutip dari laman Outsideonline.com, Selasa (27/8/2019) menurut catatan Guinness Book of World Records, pada 2012, freediver Jerman Tom Sietas menahan napas di bawah air selama 22 menit dan 22 detik, mengalahkan rekor Guinness sebelumnya dari Dane Stig Severinsen dengan 22 detik.

Sementara itu, untuk rekor wanita dipegang oleh Karoline Meyer pada tahun 2009 dengan catatan waktu 18 menit, 32,59 detik.

Tahukah Anda bahwa ada teknik tersendiri mengapa manusia bisa menahan napas di dalam air?

Sebelum melakukan freediving, seseorang terlebih dahulu akan mengalami hiperventilasi selama 30 menit dengan oksigen murni.

Selain itu, menyelam juga bisa membantu manusia untuk menahan napas lebih lama. Pasalnya, menyelam akan membantu manusia dalam proses perlambatan detak jantung.

Mengapa demikian?

Ahli menjelaskan bahwa energi dan panas dari tubuh mampu diredam selama berada di dalam air.

Meski begitu ahli juga memaparkan bahwa menyelam terlalu lama dan memaksakan kemampuan tubuh untuk tidak menghidup oksigen dapat menyebabkan hal fatal.

Salah satunya adalah kerusakan organ hingga jaringan otak. Severinsen yang memegang rekor dunia mengatakan bahwa sejauh ini dirinya tidak menderita kerusakan otak apapun.

2 of 2

Suku Bajo Si Penyelam Ulung

Ilustrasi gelombang laut
Ilustrasi gelombang laut (Sumber: Pixabay)

Selain para pemecah rekor dunia, ada suku di belahan dunia yang memiliki kemampuan menyelam. Mereka adalah Suku Bajo -- suku nomaden maritim di Asia Tenggara, berukuran besar, sehingga memiliki daya tahan lebih baik ketika menyelam bebas di lautan.

Hasil studi yang terbit di jurnal Cell pada Kamis, 19 April 2018 itu menunjukkan eksistensi seleksi alam di era kehidupan manusia modern.

"Ini adalah contoh menarik tentang bagaimana manusia dapat, dalam waktu yang relatif singkat, beradaptasi dengan lingkungan lokal," kata Rasmus Nielsen, salah penulis studi dari University of California, Berkeley.

Dikutip dari The Scientist, orang-orang suku Bajo diketahui tinggal di desa-desa pesisir yang tersebar di sebagian besar wilayah Asia Tenggara.

Mereka kerap menggunakan tombak tradisional dan peralatan sederhana, untuk mengumpulkan ikan dan kerang. Hanya dengan menahan nafas panjang, mereka telah melakukan selam perburuan secara bebas sejak sekitar seribu tahun lalu.

Menurut penelitian tersebut, tubuh manusia sejatinya memiliki beberapa trik untuk meningkatkan waktu yang dihabiskan di bawah air, dengan kondisi lingkungan yang kekurangan oksigen.

Salah satunya adalah dengan meningkatkan produksi sel darah merah, yang memungkinkan pengiriman oksigen yang lebih efisien ke organ dan jaringan, atau untuk memperluas kapasitas paru-paru mereka.

Adaptasi terbaru yang dikemukakan oleh para peneliti adalah memperbesar ukuran limpa, yang berfungsi menyimpan sel darah merah teroksigenasi (mengikat oksigen) saat menyelam, untuk kemudian melepaskannya secara alami sebagai pengganti sirkulasi udara.

Melissa Ilardo, yang merupakan mahasiswa pascasarjana di University of Copenhagen ketika penelitian ini dilakukan, berusaha memahami apakah masyarakat Bajo telah mengembangkan strategi mereka sendiri untuk mengatasi hipoksia (kurangnya kadar oksigen di tubuh) saat menyelam.

Ilardo melakukan perjalanan ke desa-desa tepi pantai di semenanjung Sulawesi Tengah, di mana populasi masyarakat Bajo dan Saluan -- salah satu suku pesisir – berada. Ia kemudian merekrut 43 orang Bajo dan 33 orang Saluan untuk berpartisipasi dalam penelitiannya.

Ilardo mengukur ukuran limpa mereka menggunakan mesin ultrasound, dan mengambil sampel air liur untuk sekuensing (pengurutan) genom. Dia tertarik meneliti limpa, karena organ itu bisa tumbuh sangat besar di beberapa mamalia laut ketika menyelam.

Sebelum melakukan perjalanan ilmiah tersebut, Ilardo menghabiskan berbulan-bulan mempelajari bahasa Indonesia, untuk bisa berkomunikasi dengan orang Bajo.

"Saya ingin memastikan bahwa ini adalah upaya kerja sama," katanya menegaskan.

Ilardo dan rekan-rekannya menemukan bahwa limpa orang Bajo sekitar 50 persen lebih besar dibandingkan dengan Saluan, termasuk dengan mempertimbangkan jenis kelamin, usia, berat, dan tinggi individu.

Selanjutnya, penelitian ini membandingkan urutan genom dari para partisipan Bajo dan Saluan dengan orang-orang Han Cina sebagai kelompok kontrol, meski tidak terkait satu sama lain.

Setelah memindai seluruh varian genom, peneliti mengidentifikasi polimorfisme 25 teratas yang unik untuk genom masyarakat Bajo, yang menunjukkan seleksi alam tengah bekerja akibat budaya menyelam bebas yang mereka lakukan.

Peneliti kemudian membuat pohon filogenetik, memperkirakan bahwa orang Bajo keluar dari komunitas Saluan sekitar 15.000 tahun lalu, yang kemudian mendorong terciptanya varian genetika unik lantaran budaya nomaden di lautan yang dijalaninya.

"Analisis seperti ini membantu memberikan bukti empiris tentang lintasan seleksi alam pada spesies kita (manusia) dan kerangka waktu dari proses tersebut," jelas Cynthia Beall, antropolog pada Case Western Reserve University di Cleveland, yang juga tidak berpartisipasi dalam penulisan hasil studi ini.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait