Inggris Akan Cabut Lisensi Stasiun TV Zakir Naik, Ini Alasannya

Oleh Siti Khotimah pada 22 Agu 2019, 14:51 WIB
Sosok ulama kontroversial Zakir Naik (AFP/Saw Siow Feng)

Liputan6.com, Jakarta - Lisensi stasiun televisi milik Zakir Naik, Peace-TV dapat dicabut oleh Inggris. Penyelidikan menemukan, saluran itu baru-baru ini telah menayangkan ceramah yang menyebut "homoseksual lebih buruk daripada babi" dengan presenter lain menganjurkan "para penyihir harus dipancung". 

Peace-TV yang dimaksud telah disiarkan dari Dubai, dan saat ini telah dilarang tayang di India, Sri Lanka, dan Bangladesh; seperti dilansir dari International Business Times, Kamis (22/8/2019).

Regulator penyiaran Inggris, Ofcom, pada bulan lalu telah menyelidiki lima program acara Peace-TV yang dimiliki Zakir Naik; dan menemukan empat di antaranya melanggar kode penyiaran. Seluruhnya dianggap menyiarkan pidato kebencian dan konten yang sangat ofensif.

Dalam sebuah program berdurasi 24 menit bertemakan "Memperkuat Keluarga Anda" yang disiarkan di Peace TV pada 11 Maret 2018, presenternya Imam Qasim Khan memperbandingkan antara orang-orang homoseksual dan babi.

Ia mengatakan, "Anda tidak pernah melihat dua laki-laki babi mencoba untuk melakukan hubungan seks bersama. Itu kegilaan. Lebih buruk daripada binatang. Manusia bisa lebih buruk daripada binatang. Setidaknya seekor binatang memiliki martabat untuk membatasi gairah mereka, hasrat seksual mereka, kepada lawan jenis. "

Regulator UK Ofcom menemukan pernyataan itu sangat ofensif dan dianggap sebagai "serangan berkelanjutan terhadap orang-orang homoseksual" tetapi pemegang lisensi Lord Production Inc Ltd. membela program tersebut dengan mengklaim bahwa Khan tidak "menyerukan kekerasan atau hukuman terhadap homoseksual" tetapi berusaha untuk "melarang praktik homoseksualitas itu sendiri. "

 

2 of 3

Menyebut Penghukuman bagi Penyihir

Zakir Naik yang terancam hengkang dari Malaysia (Bernama)
Zakir Naik yang terancam hengkang dari Malaysia (Bernama)

Dalam contoh lain, pembicara Peace-TV, Shaikh Ashfaque Salafi, memberikan ceramah agama berdasarkan teks agama abad ke-19 Kitaabut-Taweed, yang ditulis oleh Muhammad ibn Abd al-Wahhab, pendiri Wahhabisme.

Ia menyebut hukuman Islam bagi penyihir sebagai hukum mati. "Pendapat yang benar, dapat diandalkan, dan mayoritas adalah bahwa hukuman untuk seorang sahir (penyihir) adalah bahwa orang tersebut harus dibunuh," kata Salafi dalam acara yang berdurasi 55 menit.

Namun, saluran itu mempertahankannya dengan mengatakan rujukannya adalah sihir hitam dan bukan "penyihir profesional Paul Daniels dan Harry Houdini".

Tetapi Ofcom menyatakan, "pernyataan-pernyataan ini sama dengan seruan tak langsung bagi para penonton untuk membunuh mereka yang melakukan sihir."

3 of 3

Simak pula video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓