Korban Tewas Bom Pesta Pernikahan di Afghanistan Bertambah Jadi 80 Orang

Oleh Siti Khotimah pada 21 Agu 2019, 20:10 WIB
Diperbarui 14 Sep 2019, 12:19 WIB
Seorang tentara nasional Afghanistan memegang bendera resmi negara tersebut (AFP Photo)

Liputan6.com, Kabul - Korban tewas akibat serangan bom bunuh diri di aula pernikahan di ibu kota Afghanistan, Kabul, meningkat dari 63 menjadi 80 orang.

"Tujuh belas lainnya telah meninggal karena cedera di rumah sakit dan lebih dari 160 masih dirawat di rumah sakit atau di rumah," kata Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Nusrat Rahimi seperti dilansir dari Al Jazeera, Rabu (21/8/2019).

Ledakan yang terjadi pada 18 Agustus 2019 itu sangat kuat bahkan telah menghancurkan sebagian besar atap aula pernikahan. Kala itu, ratusan tamu tengah berkumpul di tempat itu.

Banyak perayaan hari kemerdekaan Afghanistan yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Agustus, harus ditangguhkan setelah serangan mengerikan itu.

Kelompok ISIS telah mengaku bertanggung jawab atas tragedi itu. Serangan yang dimaksud merupakan salah satu yang paling mematikan di Kabul sejak Januari 2018.

Terakhir, tragedi besar pada 2018 adalah ketika Taliban Afghanistan meledakkan bom di jalan yang ramai. Sebanyak 103 orang tewas kala itu.

 

2 dari 3 halaman

Pengantin: Saya Hilang Harapan

Bom Bunuh Diri Guncang Pesta Pernikahan di Afghanistan
Tentara Afghanistan memeriksa ruang pernikahan yang rusak setelah ledakan di Kabul, Afghanistan, Minggu (18/8/2019). Setidaknya 20 orang dilaporkan terluka dalam insiden tersebut. (AP Photo/Rafiq Maqbool)

Pengantin pria yang pesta pernikahannya di Kabul, Afghanistandihantam bom ISIS pada 17 Agustus, mengaku hilang harapan usai tragedi yang menimpanya.

Dalam sebuah wawancara TV, Mirwais Elmi mengatakan, meski calon istrinya selamat, namun saudara laki-laki dan anggota keluarga besarnya adalah bagian dari total 63 korban tewas, demikian seperti dikutip dari BBC.

ISIS telah mengklaim serangan bom tersebut, yang turut melukai 180 orang lainnya. Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani melabel serangan itu sebagai "barbar."

Ghani juga menyalahkan kelompok Taliban karena telah "menyediakan platform bagi teroris".

Namun Taliban, yang saat ini tengah terlibat dalam dialog damai dengan Amerika Serikat, ikut mengutuk tragedi tersebut.

Melihat Senyum Keluarga untuk Terakhir Kali 

Dalam sebuah wawancara untuk stasiun televisi Tolo News, Mirwais Elmi mengingat detik-detik sebelum kejadian. Ia mengaku melihat senyum para tetamu sebelum ledakan terjadi.

Dan dalam hitungan menit, Elmi melihat bahwa mereka semua sudah tak bernyawa akibat ledakan.

"Keluarga saya, calon istri saya terkejut, tak bisa berkata-kata," kata Elmi.

"Saya kehilangan harapan. Saya kehilangan saudaraku, kehilangan teman-temanku, kehilangan kerabat. Saya tidak akan pernah melihat kebahagiaan dalam hidupku lagi."

"Saya tidak bisa pergi ke pemakaman, saya merasa sangat lemah ... Saya tahu ini bukan penderitaan terakhir bagi rakyat Afghanistan, penderitaan akan terus berlanjut," tambahnya.

Ayah pengantin wanita mengatakan kepada media Afghanistan bahwa 14 anggota keluarganya telah tewas dalam serangan itu.

3 dari 3 halaman

Simak pula video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait