Myanmar dan Bangladesh Bersiap Pulangkan Ribuan Pengungsi Rohingya

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 16 Agu 2019, 11:04 WIB
Diperbarui 10 Sep 2019, 18:00 WIB
Ilustrasi muslim Rohingya (AFP Photo)

Liputan6.com, Naypyidaw - Mulai pekan depan, Myanmar dan Bangladesh berjanji memulai pemulangan ribuan Muslim Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di negara bagian Rakhine.

Hal itu disampaikan oleh para pejabat dari kedua negara pada Kamis 15 Agustus, hampir setahun setelah upaya terkait gagal dilaksanakan.

Lebih dari 730.000 orang Muslim Rohingya melarikan diri dari Rakhine menuju negara tetangga Bangladesh, menyusul tindakan keras pimpinan militer Myanmar pada Agustus 2017, yang menurut PBB, dilakukan dengan "niat genosida".

Tahun lalu, banyak pengungsi Rohingya menolak kembali ke Rakhine dengan alasan takut akan kekerasan yang lebih besar, demikian sebagaimana dikutip dari The Guardian pada Jumat (16/8/2019).

Sebanyak 3.540 dari total 22.000 nama pengungsi yang didaftarkan pada otoritas Bangladesh, telah siap untuk dipulangkan ke Myanmar.

"Kami telah menyetujui pemulangan 3.540 orang pada 22 Agustus," kata Myint Thu, juru bicara kementerian luar negeri Myanmar.

Upaya sebelumnya untuk membujuk Rohingya kembali ke Rakhine telah gagal karena ditentang oleh para pengungsi.

Sebuah upaya serupa di November lalu, memicu ketakutan dan kebingungan meluas di kamp-kamp pengungsi, ​​dan akhirnya gagal karena menui protes keras dari banyak pihak.

Seorang pejabat senior Bangladesh mengatakan upaya terkini sebagai rencana pemulangan "skala kecil", menambahkan bahwa tak seorang pun akan dipaksa untuk kembali.

"Bangladesh tidak menginginkan apa pun selain repatriasi yang aman, sukarela, bermartabat, dan berkelanjutan," kata pejabat itu, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena mengaku tidak berwenang berbicara kepada media.

2 dari 3 halaman

Penilaian dari Pihak Asing

Anak-Anak Rohingya di Kamp Bangladesh
Pandangan umum dari Kamp Pengungsi Kutupalong di Cox's Bazar, Bangladesh, Senin (22/7/2019). Lebih dari satu juta etnis Rohingya melarikan diri dari Myanmar dan menetap di Kutupalong yang merupakan salah satu kamp pengungsi terbesar di dunia. (MUNIR UZ ZAMAN/AFP)

Mohammed Eleyas, seorang aktivis Rohingya dari Arakan Rohingya Society for Peace and Human Rights, mengatakan para pengungsi belum diajak berkonsultasi tentang proses pemulangan tersebut.

"Myanmar harus menyetujui tuntutan utama masyarakat sebelum repatriasi dimulai," katanya.

Para pejabat PBB telah diminta menilai pengungsi yang diverifikasi oleh Myanmar, untuk menentukan apakah mereka ingin kembali, menurut email internal oleh badan pengungsi, UNHCR, yang diwartakan oleh kantor berita Reuters.

"UNHCR akan memberikan para pengungsi informasi yang relevan dan dapat diandalkan terkait kondisi di Myanmar, tergantung kendala saat ini pada akses di bidang kepulangan," tulis salah satu email.

Sementara itu, puluhan ribu Muslim Rohingya tetap berada di Myanmar, terbatas di kamp-kamp dan desa-desa di seluruh negara bagian Rakhine, di mana mereka ditolak kewarganegaraan dan gerakannya dibatasi.

PBB mengatakan kondisi di negara bagian Rakhine, di mana pasukan pemerintah telah berperang selama berbulan-bulan, tidak kondusif bagi kembalinya para pengungsi.

Wilayah itu telah diselimuti perang baru, dengan pasukan pemerintah memerangi gerilyawan Angkatan Darat Arakan, anggota kelompok etnis bersenjata yang merekrut dari sebagian besar umat Buddha Rakhine, yang merupakan mayoritas di daerah tersebut.

3 dari 3 halaman

Simak Video Pilihan Berikut:

Lanjutkan Membaca ↓