Lomba hingga Urunan Makanan, Ini Kisah Mahasiswa Doktoral RI di AS Rayakan Idul Adha

Oleh Liputan6.com pada 13 Agu 2019, 13:34 WIB
Bendera Amerika Serikat (AP PHOTO)

Liputan6.com, DeKalb - Perayaan Idul Adha di negara muslim minoritas seperti Amerika Serikat merupakan salah satu dari sedikit momentum di mana umat Islam bisa berkumpul dan bersilaturahmi.

Ini kisah Sura Menda Ginting, Mahasiswa Doktoral di Northern Illinois University merayakan Hari Raya Idul Adha di negeri orang untuk ke sekian kalinya. Jauh dari rumah dan orangtua serta kerabat.

Pengalaman merayakan Hari Raya Kurban tahun ini merupakan ke-empat kalinya saya merayakannya jauh dari kampung halaman saya di Bengkulu, Indonesia.

Saya adalah staf pengajar Universitas Bengkulu yang sedang menjadi mahasiswa doktoral di kota kecil bernama DeKalb, negara bagian Illnois, tempat saya sekarang sedang menimba ilmu di kampus yang bernama Northern Illnois University (NIU).

Tahun ini tanggal 10 Dzulhijjah 1440 H di Amerika Serikat jatuh pada hari Minggu, 11 Agustus, 2019.

Idul Adha di negara bagian Illinois bukanlah hari libur lokal maupun nasional, jadi jika harinya bertepatan dengan hari kerja maka Muslim DeKalb yang ingin merayakan Idul Adha harus meminta ijin cuti dari tempat kerjanya, atau bagi pelajar atau mahasiswa bisa meminta ijindari sekolahnya.

Beruntung tahun ini harinya bertepatan dengan hari Minggu sehingga lebih banyak masyarakat Muslim DeKalb yang dapat merayakannya di Islamic Center of DeKalb, Masjid setempat yang berdiri sejak tahun 2015 atas inisiatif organisasi mahasiswa muslim di NIU bernama ISNIU (Islamic Society of Northern Illnois University).

Sebelum masjid ini berdiri, perayaan hari besar Muslim seperti Idul Fitri dan Idul Adha biasanya diselenggarakan di salah satu ruangan di kampus NIU.

Jemaah Muslim DeKalb datang dan berkumpul di Islamic Center of DeKalb pada hari Minggu pagi untuk melakukan Salat Idul Adha. Jamaah di DeKalb cukup beragam; selain warga negara Amerika Serikat, banyak juga pendatang yang berasal dari berbagai negara seperti Arab Saudi, India, Sudan, Bangladesh, dan Indonesia.

Seperti halnya di Indonesia, mereka datang ke masjid dengan pakaian terbaiknya dan keberagaman ini semakin terlihat karena sebagian datang dengan menggunakan pakaian tradisional negaranya masing-masing.

2 of 3

Dana Perwalian Kurban

Ilustrasi bendera Amerika Serikat (AFP Photo)
Ilustrasi bendera Amerika Serikat (AFP Photo)

Usai salat Id, ada beberapa kegiatan yang dirancang oleh pengurus masjid bagi masyarakat Muslim DeKalb. Resepsi potluck merupakan salah satunya. Pada kegiatan ini, masyarakat Muslim DeKalb akan secara sukarela membawa makanan dan minuman ke masjid untuk dinikmati bersama setelah salat Id.

Sekali lagi, keberagaman masyarakat muslim DeKalb terlihat disini karena sebagian dari menu yang tersaji adalah makanan khas lebaran negara masing-masing. Khusus untuk anak-anak juga dirancang beberapa kegiatan seperti lomba berhadiah dan pembagian mainan anak-anak.

Berbeda dengan Indonesia, di Masjid DeKalb tidak ada prosesi pemotongan hewan Kurban karena peraturan pemerintah setempat mengenai pemotongan hewan dan pengolahan produk daging yang cukup ketat.

Pemotongan hewan hanya bisa dilakukan di tempat yang memenuhistandar kebersihan, standar suhu, dan di tempat tertutup sehingga produk daging terhindar dari kontaminasi.

Masyarakat Muslim DeKalb yang ingin berkurban biasanya secara perorangan atau berkelompok mendatangi tempat pemotongan hewan untuk menyelenggarakan prosesi pemotongan hewan kurban. Daging kurban kemudian dibagikan ke masyarakat di DeKalb yang tergolong kurang mampu.

Yang lebih umum dilakukan bagi perorangan atau kelompok yang ingin berkurban adalah dengan mengumpulkan dana pembelian hewan kurban dan mengirimkannya ke negara-negara yang lebih membutuhkan. Dengan demikian, semangat berbagi yang menjadi salah satu inti dari perayaan Idul Adha tetap terjaga.

Bagi komunitas warga Indonesia di DeKalb, Hari Raya Idul Adha juga menjadi ajang berkumpul dan mempererat tali silaturahmi antar sesama warga Indonesia. Salah satu warga senior bersedia menjadikan rumahnya sebagai tempat berkumpul, terutama bagi mahasiswa seperti saya.

Jauh dari kampung halaman dan keluarga menjadikan kumpul-kumpul kami terasa lebih berharga, selain karena kesempatan langka bisa menikmati menu khas lebaran, juga karena bisa mengurangi rasa rindu akan kumpul-kumpul keluarga yang menjadi ciri khas lebaran bagi keluarga saya.

3 of 3

Simak video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓