Donald Trump: Saya Siap Perpanjang Perang Dagang dengan China

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 07 Agu 2019, 10:20 WIB
Presiden Amerka Serikat (AS) Donald Trump siap meluncurkan sanksi paling berat terhadap Iran, Senn, 5 November 2018  (AFP).

Liputan6.com, Washington DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menunjukkan isyarat bahwa dia siap berperang dagang lebih lama dengan China, menyusul eskalasi terbaru antara dua ekonomi terbesar dunia itu.

Trump mengatakan dia siap memberikan dukungan kepada petani AS pada 2020 jika mereka menghadapi tekanan dari China.

Pernyataan itu didasarkan pada analisis para ekonom di Goldman Sachs, yang mengatakan risiko perang dagang bisa berlanjut hingga setelah pemilu presiden AS pada November 2020.

Dikutip dari The Guardian pada Rabu (7/8/2019), pemerintahan Donald Trump telah memberikan dukungan miliaran dolar kepada para petani AS, di mana dia melihatnya sebagai hal yang penting untuk menjaga kestabilan produksi pertanian lokal, ketika perang perdagangan membebani ekonomi AS.

"Sementara sebelumnya kami berasumsi bahwa presiden Trump akan membuat kesepakatan yang lebih menguntungkan bagi prospek pemilihan ulang 2020-nya, kini kami khawatir hal tersebut tidak lebih dari pandangan, bukan aksi," kata David Mericle dan Jan Hatzius dari Goldman Sachs.

Sebelumnya, pada hari Senin, pemerintahan Donald Trump menuduh China sebagai manipulator mata uang, yang memengaruhi melambatnya pertumbuhan ekonomo global.

Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin menuduh China mendevaluasi mata uangnya "untuk mendapatkan keunggulan kompetitif yang tidak adil dalam perdagangan internasional".

Atas tuduhan tersebut, AS kini meminta Dana Moneter Internasional (IMF) untuk "menghilangkan keunggulan kompetitif tidak adil yang diciptakan oleh tindakan terbaru China".

2 of 3

Pemenuhan Janji Kampanye Trump

Donald Trump dalam safari politiknya di Biloxi, negara bagian Mississippi, pada November 2018 (AFP/Jim Watson)
Donald Trump dalam safari politiknya di Biloxi, negara bagian Mississippi, pada November 2018 (AFP/Jim Watson)

Langkah untuk menuduh China sebagai manipulator mata uang, menurut analis, adalah pemenuhan janji kampanye Trump dalam pemilu AS 2016, di mana hal tersebut datang ketika hubungan kedua negara kian memanas.

Pekan lalu, Trump mengancam untuk mengenakan tarif 10 persen baru pada impor AS senilai US$ 300 miliar ke China.

Sebelumnya, Gedung Putih sudah mengenakan tarif 25 persen untuk barang-barang China senilai US$ 250 miliar, yang dijual di AS.

Sementara itu, mata uang yuan jatuh di bawah level sensitif, yakni RMB 7 per US$ 1 pada hari Senin, di mana hal itu merupakan yang pertama kalinya terjadi dalam lebih dari satu dekade.

Bank sentral China mengatakan depresiasi adalah "karena efek dari tindakan unilateralis dan proteksionisme berlebih oleh AS".

3 of 3

Pasar Saham Global Jatuh

Wall Street Tertekan Kena Imbas Krisis Yunani
Reaksi pasar negatif terhadap penyelesaian utang Yunani membuat indeks saham Dow Jones merosot 348,66 poin ke level 17.598.

Pada hari Selasa, Bank Rakyat China membantah ada manipulasi mata uang yang disengaja untuk membantu negara itu menangkis dampak tarif AS. 

Berdasarkan ilmu ekonomi, mata uang yang lebih lemah dapat membantu ekspor suatu negara karena mereka menjadi lebih kompetitif untuk pembeli di luar negeri.

Di hari yang sama, China menggambarkan retorikanya, dengan menuduh AS "sengaja menghancurkan tatanan internasional" melalui "unilateralisme dan proteksionisme".

Sementara itu, perang dagang AS-China telah membuat pasar saham di seluruh dunia jatuh dalam beberapa hari terakhir, karena kemungkinan resolusi berkurang.

Wall Street mencatat penurunan terbesar selama 2019, yang terjadi pada Senin 5 Agustus, setelah berhari-hari penjualan saham tertekan karena kedua negara meningkatkan taruhan mereka dalam sengketa perdagangan.

Pasar global baru kembali normal pada hari Selasa, karena para investor melangkah mundur untuk mengambil stok eskalasi yang cepat.

Lanjutkan Membaca ↓