Pemberontak Houthi Yaman Luncurkan Rudal, Targetkan Parade Militer di Aden

Oleh Siti Khotimah pada 01 Agu 2019, 15:36 WIB
Diperbarui 01 Agu 2019, 15:36 WIB
Militan Houthi menguasai Hodeidah yang menjadi pelabuhan utama di Yaman (AP Photo)
Perbesar
Militan Houthi menguasai Hodeidah yang menjadi pelabuhan utama di Yaman (AP Photo)

Liputan6.com, Sanaa - Sebuah ledakan terjadi di Aden, pusat pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional pada Kamis, 1 Agustus 2019. Insiden itu menimbulkan korban, yang masih belum bisa ditentukan jumlahnya.

Pemberontak Houthi yang mengendalikan ibu kota Sanaa mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Pihaknya diketahui telah menargetkan parade militer di sebuah kamp di bagian selatan kota pusat Yaman, lapor al-Masirah TV dikutip dari Al Jazeera pada Kamis (1/8/2019).

Al-Masirah TV yang memiliki kedekatan dengan Houthi mengatakan, kelompok itu telah meluncurkan rudal balistik jarak menengah dan pesawat tak berawak saat parade terjadi.

Ledakan itu tepatnya terjadi di belakang tribun upacara di kamp militer al-Jalaa, Distrik Aden Buraiqa. Seorang saksi mata mengatakan kepada Reuters melihat sembilan jenazah setelah ledakan.

Sementara seorang sumber keamanan negara itu mengatakan kepada AFP, belasan polisi Yaman - termasuk seorang komandan senior terbunuh atau terluka.

 

2 dari 3 halaman

Terjadi Serangan Terpisah

Kelompok Houthi di Yaman (AFP)
Perbesar
Kelompok Houthi di Yaman (AFP)

Sementara itu, secara terpisah, serangan bunuh diri juga terjadi di kantor polisi di lingkungan Kota Omar al-Mokhtar, lapor Al Jazeera. Insiden itu menewaskan sedikitnya tiga tentara dan melukai 20 lainnya, kata sumber yang sama tanpa memberikan perincian kapan tepatnya serangan terjadi.

Pejabat setempat, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan kepada Associated Press pengebom telah mengendarai mobilnya yang sarat bahan peledak ke gerbang kantor polisi. 

Konflik Yaman terjadi sejak akhir 2014 ketika Houthi, yang bersekutu dengan pasukan mantan Presiden Ali Abdullah Saleh, merebut sebagian besar negara, termasuk ibu kota Sanaa.

Perang meningkat pada Maret 2015 ketika koalisi pimpinan Saudi-UEA meluncurkan kampanye udara terhadap para pemberontak dalam upaya untuk mengembalikan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi yang diakui secara internasional.

Sejak itu, puluhan ribu warga sipil dan kombatan telah terbunuh, dengan sekitar 85.000 anak dimungkinkan tewas karena kelaparan.

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait