Gara-Gara Pakai Celana Pendek Ketat, Wanita Ini Dilarang Naik Bus Umum

Oleh Afra Augesti pada 01 Agu 2019, 06:30 WIB
Diperbarui 02 Agu 2019, 23:13 WIB
Ilustrasi celana pendek

Liputan6.com, Stockholm - Seorang wanita di Swedia dibuat geram dan malu setelah dirinya tidak diizinkan masuk ke dalam sebuah bus umum. Alasannya, pakaian yang dia kenakan dianggap terlalu terbuka dan vulgar.

Perempuan muda bernama Amanda Hansson itu (19 tahun), naik bus nomor 3 di Malmo dengan mengenakan celana pendek hot pants bahan jeans dan atasan tank top model a top with a bow, yang menurutnya tepat dipakai ketika suhu di negara ini mencapai 27 derajat Celcius.

"Saya sama seperti orang lain, menyesuaikan baju yang saya pakai dengan cuaca," tulisnya melampiaskan kekesalan dalam unggahan di Facebook pada 26 Juli 2019.

Namun, supir bus menghentikan langkah kaki Hansson yang naik ke kendaraan itu, ketika Hansson selesai memindai tiketnya. Si pengemudi berkata: "Kamu tidak bisa berpakaian seperti itu di bus kami."

Ketika Hansson menanyakan maksud ucapan itu kepada si supir, Hansson mengklaim bahwa si juru kemudi bus tidak bisa menerima apa yang dikenakan di tubuh Hansson. "Tubuh Anda terlalu terbuka!" tulis Hansson di Facebook, menirukan si pengemudi.

Si pengemudi menambahkan, menurut curahan hati Hansson, pakaian Hansson amat bertentangan dengan kebijakan berbusana dari perusahaan bus tersebut.

"Saya turun dari bus, karena meskipun saya ingin nekat masuk, tetapi hati saya memberontak dan saya sangat marah. Saya hanya ingin berteriak dan menangis," Hansson menerangkan.

Dia pun menyebut perilaku si supir sebagai seksis. "Saya tidak pernah, seumur hidup, merasakan hal yang memalukan ini, dan terjadi di tempat umum, di dalam bus, yang membuat saya gila," kata Hansson, seperti dikutip dari The Independent, Kamis (1/8/2019).

2 dari 3 halaman

Klarifikasi dari Perusahaan Bus

Ilustrasi celana pendek
Ilustrasi celana pendek. Sumber foto: unsplash.com/Gian Cescon.

Baik perusahaan bus, Nobina Sverige AB, dan penyedia transportasi lokal, Skanetrafiken, telah meminta maaf atas kejadian tersebut. Mereka menekankan bahwa tidak ada kebijakan khusus seperti yang disebutkan oleh si supir.

"Nobina dan Skanetrafiken tidak punya aturan apa pun tentang cara berpakaian penumpang dan pelanggan kami. Semua harus diperlakukan sama dan dengan hormat," kata pihak Nobina dalam sebuah pernyataan.

"Seorang staf kami telah bertindak tak sopan dan bertentangan dengan nilai dan pedoman kami. Pengemudi itu sekarang sudah diskors, dan kami akan menyelidiki masalah ini lebih lanjut. Pada saat yang sama, kami ingin meminta maaf kepada Amanda, yang merasa telah dianiaya."

Skanetrafiken mengonfirmasi pengemudi diberikan peringatan tertulis dan ditangguhkan sementara dari pekerjaannya, hingga pemberitahuan lebih lanjut. Selain itu, ia bersama supir-supir lainnya juga akan menerima pelatihan lanjutan dalam hal layanan pelanggan.

3 dari 3 halaman

Kasus Lain

Ilustrasi pesawat Boeing 737 Max 8 (AFP/Stephen Brashear)
Ilustrasi pesawat Boeing 737 Max 8 (AFP/Stephen Brashear)

Kisah Amanda Hansson mirip dengan apa yang menimpa seorang wanita asal Inggris, Emily O'Connor. Pada musim panas ini, dia hendak plesir ke Tenerife. Ia terbang menggunakan Thomas Cook Airlines dari Bandara Birmingham.

Namun, saat berada di dalam pesawat, dia tiba-tiba dihadang oleh seorang anggota staf maskapai yang memintanya untuk membalut tubuhnya dengan pakaian yang lebih tertutup.

Mengenakan kaus crop top hitam dan celana panjang berpinggang tinggi, O'Connor diberitahu ketika dia naik ke penerbangan: "Maaf, Nyonya, Anda tidak berpakaian dengan tepat dan Anda tidak mematuhi kode kami."

Dia kemudian mengalami pelecehan oleh penumpang pria yang duduk di sebelahnya, yang menyebutnya "wanita menyedihkan" dan mengarahkannya untuk "memakai jaket".

O'Connor mengatakan kepada The Independent bahwa insiden itu adalah pengalaman terburuk dalam hidupnya.

Lanjutkan Membaca ↓