Tangkal Perubahan Iklim, Ethiopia Tanam 350 Juta Pohon dalam Sehari

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 31 Jul 2019, 08:52 WIB
Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed menanam salah satu dari total 350 juta bibit tanaman untuk menangkal perubahan iklim (AFP Photo)

Liputan6.com, Addis Ababa - Sekitar 350 juta pohon telah ditanam dalam satu hari di Ethiopia, menurut seorang menteri pemerintah setempat pada Senin 29 Juli.

Penanaman tersebut merupakan bagian dari inisiatif nasional bertajuk "Warisan Hijau", yang bertujuan menumbuhkan 4 miliar pohon di Ethiopia pada musim panas ini, demikian sebagaimana dikutip dari The Guardian pada Selasa (30/7/2019).

Pemerintah Ethiopia mendorong setiap warga negaranya untuk menanam setidaknya 40 bibit pohon.

Kantor-kantor publik bahkan diliburkan agar para pegawai negeri sipil turut sertra dalam inisiatif hijau tersebut.

Proyek ini bertujuan untuk mengatasi dampak deforestasi dan perubahan iklim di negara yang rawan kekeringan.

Menurut PBB, tutupan hutan Ethiopia hanya 4 persen di tahun 2000-an, turun dari 35 persen seabad sebelumnya.

2 of 2

Memiliki Banyak Manfaat

Ilustrasi hutan
Ilustrasi (iStock)

Menteri inovasi dan teknologi Ethiopia, Dr Getahun Mekuria, mengetwit estimasi jumlah pohon yang ditanam sepanjang hari itu, di mana menjelang petang, total yang tercatat adalah sebanyak 353 juta bibit.

Rekor dunia sebelumnya untuk pohon terbanyak yang ditanam dalam satu hari mencapai 50 juta bibit, dipegang oleh India sejak 2016.

Dr Dan Ridley-Ellis, kepala pusat sains dan teknologi kayu di University of Edinburgh Napier, Inggris, mengatakan: "Pohon tidak hanya membantu mengurangi perubahan iklim dengan menyerap karbon dioksida di udara, tetapi mereka juga memiliki manfaat besar dalam memerangi penggurunan dan degradasi lahan, khususnya di negara-negara kering."

"Pohon-pohon juga menyediakan makanan, tempat tinggal, bahan bakar, pakan ternak, obat-obatan, dan perlindungan pasokan air bersih," lanjutnya mengingatkan.

Ditambahkan oleh Ridley-Ellis, bahwa prestasi yang mengesankan oleh pemerintah Ethiopia bukan hanya soal menanam pohon, tetapi bagian dari tantangan besar dan rumit untuk memperhitungkan kebutuhan berbagai jangka waktu dari hubungan antara lingkungan dan manusia.

"Mantra rimbawan 'pohon yang tepat di tempat yang tepat' menuntut pertimbangan lebuh dalam tentang efek perubahan iklim, serta dimensi ekologis, sosial, budaya dan ekonomi," pungkas Ridley-Ellis.

 

Simak video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓