Warga di Negara Ini Punya Tradisi Buang Stres dengan Berteriak Malam Hari

Oleh Liputan6.com pada 30 Jul 2019, 09:00 WIB
Diperbarui 31 Jul 2019, 17:13 WIB
[Bintang] Ilustrasi Emosi

Liputan6.com, Swedia - Apakah Anda sering berteriak untuk meluapkan emosi atau sedang stres? Orang-orang di salah satu kota ini menggunakan ekspresi tersebut untuk membuang rasa penat.

Di sebuah lingkungan bernama Flogsta yang terletak di Kota Uppsala, Swedia, mahasiswa yang tinggal di asrama sana sering menjerit untuk mengeluarkan emosi dan stres yang dialami.

Selama beberapa dekade, mahasiswa yang tinggal di lingkungan tersebut telah terlibat dalam tradisi unik yang kemudian dikenal di seluruh dunia sebagai "Flogsta Scream".

Setiap pukul 22.00, mereka membuka jendela kamar dan berteriak untuk meluapkan emosi.

Mungkin bagi kebanyakan orang, berjalan di malam hari lalu tiba-tiba mendengar suara seseorang berteriak, dapat membuat bulu kuduk merinding seketika. Namun, menurut penduduk Kota Upssala itu adalah bagian dari kegiatan sehari-hari masyarakatnya.

Seperti dilansir dari odditycentral, Selasa (29/7/2019), mahasiswa yang menuntut ilmu di Universitas of Uppsala telah melakukan Flogsta Scream sejak tahun 1970 dan membuat semua mahasiswa di sana sudah terbiasa sejak dini. Hal tersebut telah menjadi ciri tersendiri oleh kampus yang kini telah memperingatkan tiap mahasiswanya kapan dan di mana mereka harus berteriak.

Tidak ada yang tahu bagaimana asal mula Flogsta Scream muncul. Namun, berdasarkan arsip Swedia, teriakan ini bermula dari Universitas of Lund sekitar tahun 1970-an.

Sepertinya, beberapa mahasiswa melihat dokumen mengenai jeritan primal -jeritan yang lantang, dan memutuskan untuk berteriak menghilangkan stress sebelum ujian. Tradisi ini pun menjadi populer dan diadopsi oleh mahasiswa Univeristy of Uppsala yang tinggal di asrama Kota Flogsta.

2 dari 2 halaman

Masih Berlanjut Sampai Hari Ini

Ilustrasi Marah
Ilustrasi marah (dok. Pixabay.com/Putu Elmira)

Seiring berjalannya waktu, teriakan Flogsta menjadi populer dari tahun ke tahun hingga sekitar '80-an. Sayangnya, tradisi ini akhirnya terhenti pada 2006. Akan tetapi muncul kembali, saat beberapa mahasiswa melalukan siaran program radio di Uppsala untuk memecahkan rekor.

Akhirnya tradisi tersebut datang lagi hingga menjadi populer sampai hari ini. Salah satunya karena mahasiswa Uppsala selalu mengingatkan temannya yang lain kapan dan dimana mereka harus berteriak untuk meringankan stres. Selain itu, surat kabar lokal yang mendedikasikan satu atau dua halaman untuk tradisi sebelum setiap tahun ajaran.

"Teriakan itu dapat didengar setiap pukul 22.00 di Sernanders vag di Flogsta, dari jendela mahasiswa yang merasa perlu mengeluarkan unek-uneknya," tulis dari situs laman Univeritas.

"Tepat pukul 22.00, jendela-jendela dari asrama terbuka dan jeritan mulai terdengar."

 

 

Reporter: Aqilah Ananda Purwanti

Lanjutkan Membaca ↓