Tanker Terbengkalai di Lepas Pantai Yaman Jadi Bom Apung

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 23 Jul 2019, 17:31 WIB
Diperbarui 23 Jul 2019, 18:17 WIB
Ilustrasi kapal tanker

Liputan6.com, Hodeidah - Sebuah tanker minyak tanpa awak --digambarkan sebagai "bom mengapung"-- yang saat ini berlabuh di lepas pantai Yaman, disebut memiliki potensi memicu bencana lingkungan, menurut para ahli.

Kapal pengangkut minyak itu, yang merupakan salah satu dampak dari pertempuran antara pemerintah Yaman (didukung Arab Saudi dan PBB) dan Houthi, mengandung lebih dari 1 juta barel minyak.

Dikutip dari The Guardian pada Selasa (23/7/2019), para pejabat PBB berencana mengunjungi kapal terkait pekan ini, untuk menilai skala kerusakannnya.

Ada kekhawatiran bahwa gas telah menumpuk di tangki penyimpanan minyak, yang berarti kapal itu berpotensi meledak sewaktu-waktu.

Mark Lowcock, koordinator kemanusiaan PBB, mengatakan kepada dewan keamanan PBB pekan lalu, bahwa Houthi kembali menolak permohonan izin tim inspeksi untuk mengunjungi kapal yang ditambatkan beberapa kilometer di luar pelabuhan Ras Isa, di utara Laut Hodeidah.

Kedua belah pihak, dalam masing-masing percakapan dengan PBB, saling menyalahkan karena gagal mencapai solusi terhadap kapal itu, serta muatannya yang berharga.

Pihak Houthi menginginkan jaminan bahwa mereka akan dapat mengendalikan pendapatan dari minyak di dalam kapal senilai US$ 80 juta (setara Rp 1,1 triliun), suatu langkah yang mungkin memerlukan mekanisme ekspor minyak baru, dari Yaman ke pembeli global.

2 dari 3 halaman

Mengancam Kelangsungan Ekosistem Laut Merah

Hurghada di Mesir
Seorang turis mengambil foto temannya saat mengunjungi pantai di kota wisata Laut Merah Mesir, Hurghada pada 3 April 2019. Selain Piramida atau Sphinx di Giza atau modernnya ibu kota di Kairo, turis juga bisa datang ke kawasan resor Hurghada. (Mohamed el-Shahed / AFP)

Di sisi lain, pemerintah Yaman telah memperingatkan dalam suratnya kepada PBB tentang "situasi memburuk", yang memicu ancaman "bencana lingkungan dan kemanusiaan di Laut Merah".

Peringatan itu dilengkapi dengan sebuah video yang menceritakan tentang dampak lingkungan akibat tumpahan minyak pada beberapa kasus terdahulu.

Doug Weir selaku Direktur Observatorium Konflik dan Lingkungan, mengatakan penyebab keprihatinan itu nyata.

"Hingga inspeksi teknis dilakukan oleh PBB, sulit menentukan risiko yang tepat yang ditimbulkan dari kapal itu, namun potensi kerusakan lingkungan sudah jelas. Sebuah ledakan yang berujung pada tumpahan minyak, akan memiliki efek parah pada ekosistem Laut Merah, serta pada keanekaragaman hayati dan mata pencaharian," ujar Weir.

"Keadaan darurat menjadi lebih buruk karena konflik yang sedang berlangsung akan menghambat upaya untuk mengendalikan dan menanggapi polusi yang akan ditimbulkannya," lanjutnya prihatin.

3 dari 3 halaman

Berisi 1,14 Juta Barel Minyak Mentah

Kilang minyak
Di tengah kebutuhan energi nasional yang terus meningkat, menemukan minyak dan gas bumi (migas) menjadi semakin sulit (Foto: Antara)

Kapal itu sendiri merupakan bukti saat ekonomi Yaman "masih menyala". Dimiliki oleh perusahaan minyak negara itu, Safer, memungkinkan kapal untuk berlabuh di lepas pantai dan mentransfer minyak yang diekstraksi dan diproses dari operasi di ladang minyak Marib di Yaman tengah.

Tanker berisi 34 tangki minyak mentah dalam berbagai ukuran dan volume, dengan total kapasitas sekitar tiga juta barel.

Kapal itu telah terbengkalai sejak sejak Maret 2015, ketika wilayah itu jatuh di bawah kendali pemberontak Houthi.

Dibuat di Jepang dalam bentuk lambung tunggal, para ahli memperkirakan kapal itu akan mengalami risiko korosi khusus, yang berdampak pada volume 1,14 juta barel minyak mentah di dalamnya.

Jika benar meledak, maka tumpahannya bisa empat kali lebih luas dari jumlah minyak mentah yang tercecer dalam insiden Exxon Valdez pada 1989 silam, di mana umumnya dianggap sebagai salah satu bencana lingkungan terburuk dalam sejarah, yang dipicu oleh kesalahan manusia.

Lanjutkan Membaca ↓