Diusir Donald Trump, Perempuan Kongres AS Tak Sudi Bungkam

Oleh Siti Khotimah pada 16 Jul 2019, 10:42 WIB
Diperbarui 16 Jul 2019, 19:15 WIB
Politikus muslim AS yang berkerudung, Ilhan Omar (AFP/Saul Loeb)

Liputan6.com, Washington DC - Presiden AS Donald Trump kembali memberikan pernyataan kontroversial. Minggu, 14 Juli 2019 waktu lokal, pemimpin nyentrik itu menyuruh sejumlah perempuan anggota kongres dari Partai Demokrat, untuk "kembali ke negara asalnya." Sebuah pernyataan yang dianggap bernada rasis, karena nyatanya, wanita yang dimaksud berkewarganegaraan AS. 

Empat perempuan yang diasumsikan menjadi target pernyataan itu, nampaknya adalah Alexandria Ocasio-Cortez legislator konstituen New York, Ilhan Omar dari Minnesota, Ayanna Pressley dari Massachusetts, serta anggota kongres Michigan Rashida Tlaib. Namun perlu dicatat, Trump tidak mengidentifikasi secara eksplisit para wanita kongres tersebut dalam twitnya.

Para wanita kongres AS yang menjadi sasaran pernyataan Donald Trump bersumpah pada Senin, mereka tidak akan tinggal diam. Mereka tak sudi "dibungkam". Sejumlah perempuan itu mengatakan, Trump sedang mempromosikan agenda nasionalisme kulit putih.

Pressley mengutuk komentar Trump "xenophobia dan fanatik" dan mengatakan "kami tidak akan dibungkam."

Omar mengatakan Trump membuat "serangan rasis terang-terangan" pada empat anggota parlemen dengan kulit "berwarna." "Ini adalah agenda nasionalis kulit putih," katanya. Sedangkan Omar dan Tlaib berulang kali menyerukan agar Trump dimakzulkan.

Partai Republik Turut Menyerang Trump

Sementara itu pada Senin, sejumlah senator dari kubu Republikan turut mengecam twit Donald Trump.

"Pandangan saya adalah, apa yang dikatakan dan yang di-twit adalah merusak, merendahkan ... itu sangat salah," kata Senator Mitt Romney, seorang Republikan dari Utah seperti diwartakan AFP dikutip dari Channel News Asia, Selasa (16/7/2019).

"Komentar pedas presiden ... benar-benar tidak dapat diterima dan ini perlu dihentikan," kata Senator Lisa Murkowski, seorang Republikan dari Alaska.

Senator Susan Collins dari Maine mengatakan dia tidak setuju dengan kebijakan Partai Demokrat yang "paling kiri" tetapi mengungkap, twit presiden bahwa beberapa anggota Kongres harus kembali ke 'tempat-tempat di mana mereka datang' sangat keterlaluan.

Bagi Senator Republik Pat Toomey dari Pennsylvania, "kewarganegaraan keempat (perempuan yang menjadi target) sama validnya dengan saya."

"Mereka berhak atas hak berpendapat mereka, betapapun menyesatkannya," tambahnya.

Will Hurd, satu-satunya Republikan kulit hitam di House of Representative, mengatakan kepada CNN, twit Trump adalah "rasis dan xenofobia" dan perilaku yang tidak pantas dari pemimpin dunia.

Senator Tim Scott, seorang Republikan kulit hitam dari South Carolina, mengkritik Donald Trump karena menggunakan "serangan pribadi yang tidak dapat diterima dan bahasa yang menyinggung ras" sementara Perwakilan Republik Mike Turner dari Ohio mengatakan pernyataan itu "rasis dan ia harus meminta maaf."

2 dari 3 halaman

Strategi Politik yang Busuk?

Donald Trump dalam safari politiknya di Biloxi, negara bagian Mississippi, pada November 2018 (AFP/Jim Watson)
Donald Trump dalam safari politiknya di Biloxi, negara bagian Mississippi, pada November 2018 (AFP/Jim Watson)

Komentar Trump tampaknya ditujukan untuk menggembleng basis pemilihnya, yang kebanyakan kulit putih, menjelang pemilihan presiden 2020. Selain itu juga berpotensi memicu perpecahan di antara lawan-lawan politiknya.

David Axelrod, yang menjabat sebagai kepala strategi untuk dua kampanye pilpres Barack Obama, mengatakan Donald Trump sengaja melakukannya.

"@realDonaldTrump ingin meningkatkan profil targetnya, mendorong Demokrat untuk membela mereka dan membuat mereka menjadi lambang dari seluruh partai," kata David Axelrod.

"Kencangkan sabuk pengaman Anda, itu hanya akan menjadi lebih buruk saat pemilihan menjelang," lanjut Axelrod.

"Para pemilih akan memutuskan," kata Trump kepada wartawan. "Jika (Demokrat) ingin membawa (dukungan) mereka keempat orang ini, saya pikir mereka akan menghadapi pemilu yang sangat sulit, karena saya tidak berpikir orang-orang Amerika Serikat akan mendukungnya."

 

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓