Hujan Muson Hancurkan 5.000 Tenda Pengungsi Rohingya di Bangladesh

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 15 Jul 2019, 05:54 WIB
Diperbarui 16 Jul 2019, 20:13 WIB
Banjir dan Tanah Longsor Ancam Ratusan Ribu Pengungsi Rohingya

Liputan6.com, Cox Bazar - Sekitar 10 orang dilaporkan tewas dan ribuan hunian kumuh hancur oleh hantaman badai muson di kamp-kamp pengungsi Rohingya yang penuh sesak di tenggara Bangladesh, kata para pejabat, Minggu 14 Juli.

Departemen meteorologi Bangladesh mengatakan distrik Cox Bazar --lokasi pengungsian bagi hampir satu juta Muslim Rohingya yang melarikan diri dari penumpasan oleh militer Myanmar-- telah menyaksikan curah hujan rata-rata 58,5 sentimeter sejak 2 Juli.

Seorang juru bicara Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mengatakan hujan lebat memicu tanah longsor di kamp-kamp pengungsi, yang sebagian besar dibangun di lereng bukit.

Akibatnya, sebagaimana dikutip dari Channel News Asia pada Senin (15/7/2019), hujan muson tersebut menghancurkan sekitar 4.889 terpal dan gubuk bambu.

Lebih dari 200 tanah longsor telah dilaporkan sejak April di kamp-kamp tersebut, yang dibangun di dekat perbatasan dengan Myanmar, di mana sekitar 10 orang telah tewas, kata sebuah laporan PBB.

Dalam sepekan terakhir saja, dua anak di bawah umur dari etnis Rohingya meninggal dan 6.000 orang lainnya tidak terlindung dari hujan lebat.

Para pengungsi mengatakan mereka menderita karena hujan mengganggu logistik dan kegiatan sehari-hari di seluruh area kamp.

"Sulit untuk pergi ke pusat distribusi makanan dengan mengarungi rawa lumpur," kata Nurun Jan, seorang pengungsi Rohingya, kepada AFP.

"Hujan dan angin kencang membuat hidup kami sengsara," lanjutnya.

 

 

2 dari 3 halaman

Puluhan Ribu Orang Terdampak

Etnis Muslim Rohingya, yang baru saja melintas perbatasan Myanmar menuju Bangladesh, sedang menunggu giliran menerima bantuan makanan dekat kamp pengungsi Balukhali (AP)
Etnis Muslim Rohingya, yang baru saja melintas perbatasan Myanmar menuju Bangladesh, sedang menunggu giliran menerima bantuan makanan dekat kamp pengungsi Balukhali (AP)

Juru bicara World Food Programme (WFP) Gemma Snowdon mengatakan pihaknya harus secara signifikan meningkatkan bantuan di kamp-kamp pengungsi dalam menghadapi musim penghujan kali ini.

"Sejauh ini 11.400 orang memerlukan bantuan makanan tambahan karena hujan lebat, dibandingkan dengan kondisi hampir serypa selama periode Juli 2018 lali," katanya.

Tahun lalu, badan pengungsi PBB memindahkan 30.000 warga etnis Rohingya keluar dari daerah-daerah yang dianggap berisiko tinggi akan tanah longsor dan banjir.

Hujan deras sering memicu banjir dan tanah longsor di wilayah perbukitan di tenggara Bangladesh, dan pada 2017 sekitar 170 orang dilaporkan tewas karenanya.

3 dari 3 halaman

Potensi Tanah Longsor Meningkat

Terluntang-lantung Di Bangladesh, Pengungsi Rohingya akan Direlokasi ke Pulau Terpencil
Sejumlah bocah pengungsi Rohingya bermain di pipa limbah di kamp pengungsi Kutupalong, Bangladesh (5/4). Rencananya para pengungsi Rohingya ini akan dipindahkan ke sebuah pulau terpencil di Bangladesh. (AFP Photo/Munir Uz Zaman)

Sekitar 740.000 warga etnis Rohingya melarikan diri dari penumpasan militer di negara bagian Rakhine, Myanmar, yang didominasi Buddha pada Agustus 2017.

Mereka bergabung dengan sekitar 200.000 pengungsi lainnya yang sudah lebih dulu tinggal di beberapa kamp di Bangladesh.

Para pejabat lokal Bangladesh mengatakan potensi tanah longsor meningkat di banyak kamp pengungsi, karena dibangun di atas area pembukaan hutan yang cukup luas.

Salah satu area pembukaan hutan tersebut, Kutupalong, sekarang menjadi pusat pengungsi terbesar di dunia.

Sementara itu, pemerintah Bangladesh mengatakan ingin merelokasi hingga 100.000 pengungsi ke Bhashan Char, sebuah pulau terpencil di Teluk Bengal.

Otoritas pusat di Dhaka mengatakan setiap relokasi ke pulau itu akan bersifat sukarela.

Tetapi, rencana tersebut ditentang oleh para pengungsi dan kelompok-kelompok hak asasi internasional.

Lanjutkan Membaca ↓