Meski Tanpa Bantuan PBB, AS-Guatemala Upayakan Kesepakatan Suaka

Oleh Liputan6.com pada 14 Jul 2019, 07:03 WIB
Diperbarui 14 Jul 2019, 07:03 WIB
Ilustrasi DK PBB

Liputan6.com, Washington DC - Sebuah perjanjian suaka "kerja sama" antara Amerika Serikat dan Guatemala hampir disepakati, meskipun tidak ada kerja sama antara Departemen Luar Negeri AS dan Badan Pengungsi PBB (UNHCR).

Dikutip dari laman VOA Indonesia, Sabtu (13/7/2019), Presiden Guatemala Jimmy Morales akan menandatangani "perjanjian negara ketiga yang aman" dengan Presiden Donald Trump pada Senin (15/7) mendatang, ketika keduanya dijadwalkan bertemu di Washington.

Seorang pejabat Deplu AS yang mengetahui tentang diskusi yang sedang berlangsung antara pejabat AS dan Guatemala, mengatakan kepada VOA, bahwa Senin mendatang adalah jadwal yang direncanakan, tetapi menambahkan, "sepertinya kedua negara masih jauh dari kesepakatan."

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Guatemala, Marta Larra mengatakan, pertemuan bilateral akan membahas "keamanan, migrasi dan ekonomi."

Tetapi tidak menunjukkan bahwa Guatemala siap menandatangani kesepakatan suaka tersebut. Perundingan telah berlangsung di Guatemala City, ibu kota Guatemala, sejak pertengahan Juni lalu.

Jika ditandatangani oleh kedua negara, perjanjian mengenai "negara ketiga yang aman", akan menghambat sebagian besar pencari suaka untuk mencari perlindungan di Amerika Serikat, jika mereka melewati wilayah Guatemala sebelum memasuki Amerika.

2 of 2

Wapres AS Akui Situasi Sulit di Fasilitas Penahanan Migran

Nekat Terobos Perbatasan Meksiko-AS, Rombongan Migran Ditembaki Gas Air Mata
Imigran menghindari gas air mata di dekat pagar pembatas antara Meksiko dan AS di Tijuana, Meksiko (25/11). Walikota Tijuana meminta bantuan PBB untuk menangani sekitar 5.000 migran Amerika Tengah yang telah tiba di kota. (AFP Photo/Guillermo Arias)

Wakil Presiden AS Mike Pence mengakui masalah ini adalah hal yang sulit. Hal itu ia sampaikan ketika melakukan peninjauan ke stasiun Patroli Perbatasan Texas.

Di mana ratusan orang pencari suaka dari negara-negara Amerika Tengah ditahan di dalam kerangkeng tanpa disediakan tempat tidur, di tengah cuaca panas terik.

Wakil presiden AS itu mengunjungi stasiun Patroli Perbatasan AS dengan Meksiko di kota McAllen, Texas.

Ketika para tahanan melihat wartawan tiba, banyak migran yang berteriak dan mengatakan bahwa mereka telah berada di sana selama 40 hari atau lebih. Mereka juga mengatakan bahwa mereka lapar dan ingin menyikat gigi.

Para agen imigrasi AS yang menjaga fasilitas penahanan migran itu memakai masker wajah.

Wapres Pence mengatakan, dia telah mendesak agar disediakan dana federal yang lebih besar untuk menangani situasi ini.

Lanjutkan Membaca ↓