Kenapa Orang Bangladesh Pilih Pelihara Bebek Daripada Ayam? Jawabannya Tak Terduga

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 10 Jul 2019, 19:40 WIB
Diperbarui 11 Jul 2019, 10:16 WIB
[Bintang] Anak bebek

Liputan6.com, Dhaka - Setiap tahun topan tropis membawa banjir dan angin kencang yang mendatangkan malapetaka pada komunitas pesisir di Bangladesh.

Tanaman hancur, rumah hancur dan hewan ternak tersapu ke laut, memusnahkan pendapatan orang-orang yang sudah miskin menjadi jauh lebih miskin.

Namun para petani dan peternak di Bangladesh sedang bereksperimen dengan cara-cara baru untuk mengatasi badai, salah satunya adalah beternak bebek bukannya ayam.

Alasannya adalah karena bebek dapat terbang dan berenang, dibanding ayam yang sulit menyelamatkan diri. Dengan cara ini, mereka memiliki peluang lebih baik untuk bertahan hidup, demikian dikutip dari laman weforum.org, Rabu (10/7/2019).

Sementara mengatasi badai dan banjir bukanlah hal baru, Bangladesh adalah salah satu negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim, yang membuat cuaca ekstrem lebih intens dan lebih mungkin terjadi.

Memutuskan Siklus

Pada tahun 1991, salah satu topan tropis paling mematikan yang pernah menghantam wilayah Chittagong di Bangladesh tenggara, menewaskan lebih dari 135.000 orang dan menyebabkan sekitar 10 juta orang kehilangan tempat tinggal.

Tanpa sistem peringatan yang terkoordinasi, banyak yang tidak siap menghadapi badai yang akan datang.

Pada tahun 2017, Topan Mora membuat 478.000 orang mengungsi di Bangladesh. Topan menghancurkan kehidupan dan mata pencaharian dengan keteraturan yang mengkhawatirkan.

Tetapi dengan bantuan para peneliti dari University College London, Palang Merah, dan mitranya mampu berusaha memutus siklus ini.

2 of 2

Dampak Ganda

Ilustrasi Bangladesh (AFP PHOTO)
Ilustrasi Bangladesh (AFP PHOTO)

Selain mengajari penduduk desa bagaimana mempersiapkan diri menghadapi badai topan, sebuah inisiatif Palang Merah juga bertujuan untuk meningkatkan pendapatan keluarga dengan mempromosikan metode-metode baru untuk menghasilkan uang yang kurang rentan terhadap kerusakan topan.

Program Vulnerability to Resilience (V2R), yang berjalan dari 2013 hingga 2016, membantu penduduk desa menciptakan mata pencaharian yang berkelanjutan dan mengurangi risiko bencana.

Program ini memberikan hibah kepada penduduk termiskin di daerah di mana mayoritas orang hidup dalam kemiskinan.

Selain membayar petani untuk mengganti ayam dengan bebek, hibah membantu memulai peternakan dan usaha kecil seperti toko desa.

Menciptakan pekerjaan berbayar untuk orang-orang yang rentan telah meningkatkan pendapatan keluarga dan membantu memperbaiki jalan desa, tanggul banjir dan sumber air minum.

Pada awal proyek, hampir sepertiga keluarga yang berpartisipasi berpenghasilan di bawah US$ 40 per bulan.

Setelah hampir tiga tahun semua memiliki pendapatan bulanan US$ 65, dengan lebih dari setengahnya menghasilkan antara US$ 50 hingga US$ 200.

Lanjutkan Membaca ↓