Ahli: Nyeri Menstruasi Rasanya Sama Seperti Sakit Serangan Jantung

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 06 Jul 2019, 21:00 WIB
Diperbarui 08 Jul 2019, 18:13 WIB
Ilustrasi nyeri haid

Liputan6.com, Jakarta - Mungkin seluruh wanita memahami bahwa sakit saat menstruasi rasanya seperti ada seseorang yang memukul-mukul perut, di mana pada saat yang bersamaan, kita merasa ingin menangis atau marah terus-menerus.

Baru-baru ini, seorang dokter mengeluarkan sebuah fakta mencengangkan soal menstruasi. Ia mengatakan, sakit saat datang bulan atau dismenorea, rasanya bisa sama seperti sakit terkena serangan jantung.

"Sakitnya hampir sama seperti serangan jantung," demikian ujar Profesor dari University College London, John Guillebaud, seperti dikutip dari indy100.com.

Sakit menstruasi seperti ini dialami sekitar 1 dari 5 perempuan. Namun, banyak dokter tak menghiraukan sakit tersebut dan tak meresepkan obat pereda nyeri.

Endometriosis, penyebab kedua nyeri saat menstruasi, diperkirakan terjadi pada 1 dari 10 perempuan. Endometriosis adalah penyakit di mana jaringan dari lapisan dalam dinding rahim atau endometrium, tumbuh di luar leher rahim.

Mereka yang mengalami endometriosis akan merasakan sakit menstruasi yang teramat sangat, lelah, masalah pada usus dan kandung kemih, bahkan infertilitas.

2 dari 2 halaman

Dismenorea Masih Belum Sepenuhnya Dipahami.

Ilustrasi Masturbasi Saat Haid
Ilustrasi haid.

Rata-rata, seorang wanita membutuhkan waktu tujuh setengah tahun hingga mereka sadar bahwa dirinya mengalami endometriosis. Hal itu disebabkan kurangnya penelitian, kesadaran, dan pilihan pengobatan yang terbatas.

Demikian juga penyebab dismenorea masih belum sepenuhnya dipahami.

Peneliti Dr Annalise Weckesser mengatakan, budaya diam saat haid menyebabkan kondisi seorang perempuan menjadi "terbengkalai" dari tindakan medis yang seharusnya dibutuhkan.

"Ada sejarah panjang di mana perempuan tak menganggap serius nyeri haid dan bahkan menulisnya sebagai histeria (gangguan mental yang timbul dari kecemasan intens). Pengetahuan perempuan muda tentang menstruasi sangat buruk," ujar Weckesser.

Lanjutkan Membaca ↓