Obesitas Vs Rokok Jadi Penyebab Utama Kanker

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 04 Jul 2019, 16:02 WIB
Diperbarui 04 Jul 2019, 17:17 WIB
Ilustrasi Makanan Cepat Saji

Liputan6.com, London - Obesitas hampir menyalip posisi rokok dari posisi teratas daftar faktor risiko kanker, tepatnya bertanggungjawab sebagai penyebab kanker usus, ginjal, dan hati, menurut riset yayasan kanker di Inggris.

Meski merokok masih menjadi faktor risiko utama penyebab kanker, namun, Cancer Research UK (CRUK) telah memperingatkan pemerintah untuk mengasi fenomena obesitas, yang disebut menjadi faktor risiko signifikan untuk 13 jenis kanker.

Ditambah lagi, jumlah penderita obesitas saat ini telah lebih banyak dari perokok, dengan perbandingan dua banding satu --dalam konteks riset di Inggris.

Michelle Mitchell, Kepala CRUK mengatakan, "Angka rerata orang merokok jatuh dan obesitas meningkat. Kita bisa melihat dampaknya pada skala kesehatan nasional," jelasnya seperti dilansir The Guardian, Kamis (4/7/2019).

"Anak-anak kita mungkin bisa menjadi generasi yang bebas rokok, tapi kita telah mencapai rekor angka anak-anak penderita obesitas. Sekarang, kita butuh pemerintah mengintervensi untuk menghentikan pandemi ini. Mereka masih punya kesempatan untuk menyelamatkan nyawa."

2 dari 3 halaman

Temuan CRUK

Ilustrasi Badan Gemuk atau Obesitas (iStockphoto)
Ilustrasi Badan Gemuk atau Obesitas (iStockphoto)

Obesitas, kata CRUK, menyebabkan 1.900 lebih kasus kanker usus dibanding merokok setiap tahunnya.

Yayasan itu juga menemukan bahwa obesitas menyebabkan 1.400 lebih kanker ginjal setiap tahunnya ketimbang rokok.

Faktor risiko yang sama juga menyebabkan 460 lebih kasus kanker rahim dan 180 lebih kasus kanker hati.

Riset CRUK dirilis setelah Badan Kesehatan Publik Inggris dan Badan Statistik Nasional Inggris mempublikasikan data yang menunjukkan penurunan angka perokok di Britania sekitar 14,7 persen dari tahun lalu, serta turun lima persen sejak 2011.

Namun, data yang sama menunjukkan bahwa ada 26 persen populasi dewasa yang menderita obesitas di Inggris. Dari total itu, 40 persen merupakan laki-laki dan 30 persen merupakan perempuan.

Kepala Badan Layanan Kesehatan Inggris (NHS), Simon Stevens, mengatakan, "Meski angka penyintas kanker tinggi, namun, bahaya obesitas yang tumbuh dengan cepat sebagai epidemi ... berhubungan dengan 13 tipe kanker."

"Studi ini lebih jauh menunjukkan bahwa obesitas adalah 'merokok baru' dari segi faktor risiko kanker. NHS saja tidak bisa mengatasi ini, dan memerlukan kontribusi keluarga, bisnis makanan, dan pemerintah," lanjut Stevens.

3 dari 3 halaman

Kata Analis

Ilustrasi Badan Gemuk atau Obesitas (iStockphoto)
Ilustrasi Badan Gemuk atau Obesitas (iStockphoto)

Analis dari Obesity Health Alliance (sebuah koalisi 40 organisasi kesehatan), Caroline Cerry mengatakan, "Penyebab obesitas sangat kompleks, tapi kami tahu bahwa lingkungan kita bermain peranan penting ... oleh karenanya kita perlu pemerintah mendorong rencana mulai dari membatasi iklan makanan cepat saji dan pendistribusian produk itu di supermarket, hingga mengurangi gula di produk makanan dan minuman."

CRUK setuju dengan agenda itu. "Tidak ada peluru perak untuk mengurangi obesitas, tetapi penurunan besar dalam merokok selama bertahun-tahun - sebagian karena larangan iklan dan lingkungan - menunjukkan bahwa perubahan yang dipimpin oleh pemerintah berhasil. Itu diperlukan untuk mengatasi angka merokok setinggi langit, dan sekarang hal yang sama berlaku untuk obesitas," kata Prof Linda Bauld, pakar pencegahan dari CRUK.

British Medical Association mengatakan pemerintah menyeret langkahnya untuk menghentikan obesitas.

"Tingkat keparahan masalah ini tidak boleh diremehkan. Selain kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kesadaran publik tentang hubungan yang mengkhawatirkan antara obesitas dan berbagai jenis kanker, kita perlu melihat pembalikan pemotongan untuk pendanaan kesehatan masyarakat sehingga kita dapat mencegah anak-anak dan orang dewasa mencapai tahap kritis ini. Kegagalan untuk melakukannya akan terus memakan biaya hidup," kata dewan ketua asosiasi itu, Prof Parveen Kumar.

Lanjutkan Membaca ↓