Hujan Deras Berlanjut di Pulau Kyushu Jepang, 1,1 Juta Orang Diminta Mengungsi

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 04 Jul 2019, 10:10 WIB
Diperbarui 04 Jul 2019, 10:10 WIB
20160308-Ilustrasi Hujan-iStockphoto
Perbesar
Ilustrasi Hujan (iStockphoto)

Liputan6.com, Kagoshima - Hujan deras yang terus mengguyur sebagian besar Pulau Kyushu di Jepang selatan, memaksa pemerintah lokal mengeluarkan perintah evakuasi terhadap lebih dari satu juta penduduk setempat.

Perintah ini dikeluarkan guna menghindari kasus serupa tahun lalu, ketika banjir mematikan menewaskan lebih dari 200 orang di wilayah Jepang tenggara, demikian sebagaimana dikutip dari Al Jazeera pada Kamis (4/7/2019).

Dikatakan total 1,1 juta orang di prefektur Kagoshima dan Miyazaki di pulau Kyushu telah diperintahkan mengungsi ke tempat penampungan.

Sementara itu, tanah longsor kecil dilaporkan terjadi di beberapa bagian wilayah, lapor lembaga penyiaran NHK.

Tanah longsor tersebut menyapu beberapa mobil dan mengubur sebuah rumah di Kagoshima, tambah laporan terkait.

Setidaknya empat orang terluka, NHK melaporkan kemudian di akun Twitter-nya, mengutip polisi dan petugas pemadam kebakaran setempat.

Dalam satu kasus, sebuah mobil terbalik ke sisi dalam longsoran lumpur lalu melukai seorang wanita dan anaknya, kata NHK.

Tidak ada rincian resmi dari pemerintah Jepang tentang berapa banyak orang yang mengindahkan peringatan untuk meninggalkan rumah mereka.

 

 

2 dari 3 halaman

Peringatan Paling Serius

20160308-Ilustrasi Hujan-iStockphoto
Perbesar
Ilustrasi Hujan (iStockphoto)

Perintah evakuasi dikeluarkan ketika bencana alam sangat mungkin terjadi dan kota berulang kali mendesak warga untuk meninggalkan rumah mereka, meskipun instruksi sering diabaikan.

Ini adalah peringatan paling serius yang dikeluarkan sebelum bencana terjadi. Level tertinggi skala diaktifkan setelah bencana diumumkan, dan memerintahkan warga untuk mengambil tindakan melindungi keselamatan mereka.

Sekitar 868.000 orang di prefektur Kagoshima, Kumamoto dan Miyazaki berada di bawah peringatan tingkat rendah yang menyarankan mereka untuk mengungsi, menurut NHK.

Beberapa bagian jalur rel kereta peluru Shinkansen di Pulau Kyushu terganggu oleh hujan lebat, yang juga memaksa lebih dari 150 sekolah untuk membatalkan kelas, lapor kantor berita Kyodo.

Badan Meteorologi Jepang telah memperingatkan bahwa tanah longsor yang mengancam jiwa dapat terjadi kapan saja di beberapa bagian Kagoshima, dan menambahkan hujan lebat akan berlanjut hingga hari ini.

"Jika hujan lebat terus berlanjut selama berjam-jam di wilayah yang sama, kami mungkin mengeluarkan peringatan hujan khusus, yang merupakan peringatan tingkat tertinggi yang mengindikasikan bencana telah terjadi," kata Ryuta Kurora, seorang pejabat lokal kepada wartawan.

"Akan terlambat untuk mengungsi setelah peringatan dikeluarkan," katanya memperingatkan.

"Evakuasi lebih awal (harus dilakukan) tanpa menunggu," desaknya.

3 dari 3 halaman

Menghindari Kesalahan yang Sama

Tewaskan 75 Orang, Begini Dampak Kerusakan Banjir Jepang
Perbesar
Warga berjalan di samping pemukiman yang dilanda banjir di Kurashiki, Prefektur Okayama, Jepang, Minggu (8/7). Otoritas Jepang mengimbau warga untuk berhati-hati atas banjir dan longsor susulan, angin kencang dan sungai yang meninggi. (STR/JIJI PRESS/AFP)

Gubernur Kagoshima Satoshi Mitazono mengatakan dalam sebuah pesan kepada warga bahwa situasinya "sangat berbahaya".

"Bencana besar dapat terjadi di mana saja, kapan saja," katanya, seraya menambahkan bahwa ia telah meminta bantuan dari Pasukan Bela Diri Jepang.

Pihak berwenang Jepang mendesak orang untuk berlindung lebih awal setelah hujan lebat musim panas lalu di barat negara itu, yang menewaskan lebih dari 200 orang.

Banyak kematian yang disalahkan pada kenyataan bahwa perintah evakuasi dikeluarkan terlambat dan beberapa orang gagal mengindahkannya.

Dalam kondisi hujan deras barlarut-larut tahun lalu, banyak pemukiman terkubur oleh longsor atau terendam genangan air banjir.

Lanjutkan Membaca ↓