Gara-Gara Pembunuhan Khashoggi, Arab Saudi Gagal Jadi Tuan Rumah KTT G20?

Oleh Siti Khotimah pada 03 Jul 2019, 11:39 WIB
Foto Jamal Khashoggi, wartawan Arab Saudi yang dibunuh di Istanbul (AP/Jacquelyn Martin)

Liputan6.com, New York - Pakar PBB yang menyelidiki kematian Jamal Khashoggi mengatakan, kasus ia tangani adalah "pembunuhan oleh negara". Hal itu menurutnya harus mendorong pemimpin dunia untuk mempertimbangkan kembali Arab Saudi sebagai tuan rumah KTT G20 pada tahun depan.

"Pembunuhan Jamal Khashoggi memenuhi semua karakteristik pembunuhan negara," kata Agnes Callamard, pakar PBB yang ditugaskan untuk menyelidiki kematian Khashoggi, berbicara di Brookings Institution, Washington dikutip dari The Straits Times, Rabu (3/7/2019).

Adapun KTT yang dimaksud dijadwalkan akan dihelat pada akhir November 2020 mendatang.

Sementara itu, laporan terperinci pada bulan lalu menyimpulkan, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) harus diperiksa terkait dugaan adanya peran dalam pembunuhan jurnalis Khashoggi pada tahun lalu. Callamard juga menggaris bawahi ketidakberesan dalam pengadilan terhadap orang-orang pelaku "eksekusi".

"Ke-11 orang yang diadili saat ini (oleh pengadilan Arab Saudi) benar-benar berada di level terendah. Pengadilan tersebut telah gagal ... untuk membongkar rantai komando," kata Callamard. 

"Langkah logis berikutnya bagi saya adalah mengidentifikasi tanggung jawab individu dalam hubungannya dengan pembunuhan, khususnya dalam rantai komando."

2 of 4

Merusak Reputasi Putra Mahkota

Raja dan Putra Mahkota Saudi Temui Keluarga Khashoggi
Putra Mahkota Mohammed bin Salman menemui anggota keluarga dari mendiang jurnalis Jamal Khashoggi di Istana Kerajaan Saudi di Riyadh, Selasa (23/10). Dalam pertemuan, keluarga Khasoggi diwakili sang putra, Salah dan saudaranya, Sahel. (Handout/SPA/AFP

Kasus pembunuhan Khashoggi telah mengundang kecaman global dan merusak reputasi sang putra mahkota Saudi. Selain itu, juga telah mendorong upaya bipartisan di Kongres AS untuk membatasi penjualan senjata ke Negeri Petrodollar.

Selain pembunuhan itu, putra mahkota telah banyak dikritik karena perang yang berkecamuk di Yaman, yang digambarkan PBB sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Belum lagi dengan tindakan kerasnya terhadap hak asasi manusia dan aktivis perempuan.

Dalam laporan PBB, Callamard mengungkapkan rincian baru dari rekaman audio pembunuhan dan mempertahankan ada "bukti yang dapat dipercaya, yang menjamin penyelidikan lebih lanjut terkait tanggung jawab seorang pejabat tinggi Saudi, termasuk tanggung jawab putra mahkota".

Arab Saudi menolak laporan Callamard dan telah berulang kali membantah bahwa Pangeran Mohammed memiliki peran dalam kematian Khashoggi. Khashoggi sendiri adalah seorang mantan orang dalam yang berubah menjadi kritikus yang tampaknya dieksekusi setelah memasuki konsulat Saudi di Istanbul. Tubuhnya tidak pernah ditemukan setelahnya.

3 of 4

MBS Mustahil Tidak Tahu

Raja dan Putra Mahkota Saudi Temui Keluarga Khashoggi
Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud (kanan) dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (kedua kanan) bertemu dengan anggota keluarga dari jurnalis yang terbunuh, Jamal Khashoggi, di Istana Kerajaan Saudi di Riyadh, Selasa (23/10). (Handout/SPA/AFP)

Callamard sempat berkata bahwa akan sulit membayangkan putra mahkota tidak tahu tentang pembunuhan. Namun menurutnya, penting untuk mengkonfirmasi siapa yang memberi perintah langsung dan siapa yang bertindak secara langsung dan tidak langsung.

Dia juga menolak penyelidikan Saudi atas pembunuhan itu. mengatakannya tidak memenuhi standar internasional karena tempat kejahatan tidak pernah bernar-benar diinvestigasi dengan menyeluruh. Sebagaimana diketahui, negosiasi pejabat Turki membutuhkan waktu dua minggu. Selama itu, pejabat Saudi yang berada di lokasi dapat membersihkan TKP.

"Tidak ada cara saya dapat menyimpulkan bahwa penyelidikan yang dilakukan oleh Arab Saudi dilakukan secara efektif, dilakukan dengan itikad baik dan memungkinkan untuk kerjasama internasional," katanya.

Meskipun reputasi Pangeran Mohammed telah rusak, ia kembali menjadi sorotan internasional pada pertemuan puncak G20 di Osaka, Jepang. Dalam kesempatan itu ia bertemu dengan para pemimpin termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin, Perdana Menteri Inggris Theresa May dan Perdana Menteri India Menteri Narendra Modi.

Dia juga bertemu dengan Presiden AS Donald Trump, yang memanggilnya teman dan pembaharu yang membawa "revolusi dengan cara yang positif".

4 of 4

Simak pula video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓