Usai Bertemu Kim Jong-un, Trump Ingin Berunding Lagi dengan Korea Utara

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 30 Jun 2019, 17:32 WIB
Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di sisi selatan garis demarkasi militer, zona demiliterisasi Korea (DMZ), Panmunjom pada Minggu 30 Juni 2019 (Brendan Smialowski / AFP PHOTO)

Liputan6.com, Panmunjom - Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia telah setuju dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un untuk memulai kembali perundingan setelah pembicaraan antara kedua negara terkait denuklirisasi dan perdamaian di Semenanjung Korea tersendat selepas KTT AS - Korut di Hanoi pada Februari 2019.

Hal itu disampaikan Trump dalam konferensi pers selepas pertemuan ikonik dan bersejarah dengan Kim Jong-un di House of Freedom, sisi selatan zona demiliterisasi Korea (DMZ).

"Kami baru saja melakukan pertemuan yang sangat, sangat baik dengan Ketua Kim," kata Trump kepada wartawan di House of Freedom setelah melepas kepulangan Kim ke Korut.

"Kami sepakat bahwa kami masing-masing akan menunjuk tim. Tim-tim akan mencoba mencari tahu beberapa perincian (perihal kelanjutan negosiasi)," kata Trump seperti dikutip CNN, Minggu (30/6/2019).

Tim AS akan dipimpin oleh utusan khusus AS untuk Korea Utara saat ini, Stephen Biegun, kata Trump, sambil menambahkan, "Semoga beruntung, Steve (Biegun)."

Trump mengatakan tim akan mulai bekerja dan bertemu selama dua hingga tiga pekan ke depan, tetapi bersikeras dia tidak ingin terburu-buru mencapai kesepakatan.

"Kecepatan bukanlah tujuannya," kata Trump. "Tidak ada yang tahu bagaimana hasilnya nanti."

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Presiden Korea Selatan Moon Jae-in selaku tuan rumah optimis dengan tindak lanjut dari pertemuan --meski dirinya tidak terlibat dalam dialog tatap muka Trump - Kim Jong-un di House of Freedom dan harus menunggu di ruang terpisah.

"Melalui pertemuan hari ini, terkait proses denuklirisasi serta pembentukan perdamaian di Semenanjung Korea, saya percaya kita baru saja mengatasi sebuah bukit dalam keseluruhan proses itu. Jadi, 80 juta orang Korea di Semenanjung Korea telah diberi harapan berkat pertemuan hari ini," kata Moon dalam konferensi pers bersama dengan Trump di House of Freedom.

2 of 2

Menggeser Target Denuklirisasi?

Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di sisi utara garis demarkasi militer, zona demiliterisasi Korea (DMZ), Panmunjom pada Minggu 30 Juni 2019 (Brendan Smialowski / AFP PHOTO)
Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di sisi utara garis demarkasi militer, zona demiliterisasi Korea (DMZ), Panmunjom pada Minggu 30 Juni 2019 (Brendan Smialowski / AFP PHOTO)

Presiden Trump nyaris tidak menyebut kata 'denuklirisasi' ketika ia bertemu dan menyampaikan keterangan pers dengan Kim Jong-un di DMZ. Sementara itu, tak jelas apakah konsep tersebut turut dibahas dalam dialog dengan Kim, mengingat pembicaraan keduanya dilakukan secara tertutup.

Padahal, denuklirisasi atau perlucutan senjata nuklir, adalah inti penting dari negosiasi yang telah dilakukan antara AS - Korut selama lebih dari setahun terakhir.

Sebaliknya, sang presiden tampak mengerdilkan isu itu dan berfokus pada hubungan pribadinya dengan pemimpin Korea Utara.

Di sisi lain, fokus Pyongyang untuk terlibat negosiasi dengan AS adalah demi mencabut sanksi ekonomi yang diterapkan Amerika terhadap Korut. Namun, Kim Jong-un pun tak menyebut soal hal tersebut kepada Trump dalam sesi terbuka di DMZ.

Trump mengatakan setelah bertemu dengan Kim di DMZ bahwa sanksi akan tetap berlaku untuk saat ini, tetapi mengisyaratkan bahwa sanksi bisa diringankan jika negosiasi berjalan baik --dengan indikasi syarat bahwa Korut bersedia untuk turut memenuhi keinginan AS perihal denuklirisasi.

Soal pergeseran prioritas Trump terhadap denuklirisasi, mantan Utusan Khusus Kementerian Luar Negeri AS untuk Urusan Korea Utara, Joseph Yun, mengatakan kepada CNN bahwa dia percaya Trump "mulai memahami bahwa denuklirisasi akan menjadi perjuangan yang sangat panjang dan sesuatu yang tidak mungkin dicapai dalam masa jabatan pertamanya, apalagi yang kedua - jika dia terpilih kembali pada 2020 mendatang."

"Inilah sebabnya dia terus mengatakan 'kita punya waktu, tidak perlu terburu-buru.' Dia menggeser tujuannya, menurunkan target."

Lanjutkan Membaca ↓