Misteri Hilangnya Mahasiswa Asal Australia di Korea Utara, Ditahan Rezim?

Oleh Siti Khotimah pada 27 Jun 2019, 13:39 WIB
Bendera Korea Utara (AFP PHOTO)

Liputan6.com, Pyongyang - Australia tengah mencari "klarifikasi" tentang nasib seorang warga negaranya yang dikhawatirkan ditahan oleh pemerintah Korea Utara.

Media berbahasa Korea menamainya sebagai Alek Sigley, satu-satunya mahasiswa Barat di Universitas Kim Il-sung, Korea Utara. Laki-laki berusia 22 tahun itu belajar sastra Korea di perguruan tinggi tersebut, lapor South China Morning Post dikutip Kamis (27/6/2019).

 

Sigley diketahui telah menjalankan sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang turisme Korea Utara. Ia juga telah menulis artikel tentang tempat makan di Pyongyang serta beberapa isu lain untuk NK News dan outlet media lain.

"Interaksi dengan penduduk setempat kadang-kadang dapat dibatasi, tetapi saya dapat berbelanja dan makan hampir di mana saja saya inginkan," kata Alek Sigley dalam sebuah tulisannya.

Pemuda asal Negeri Kanguru itu juga sering membagikan tulisan melalui media sosialnya. Postingan terakhir adalah tiga hari lalu.

Sejauh ini, Pemerintah Canberra menyatakan tengah menangani kasus tersebut. 

"Kementerian (Luar Negeri) sedang mencari klarifikasi. Karena kewajiban privasi kami, kami tidak akan memberikan komentar lebih lanjut," demikian bunyi sebuah pernyataan dari Pemerinta Canberra.

Australia tidak memiliki misi diplomatik di Pyongyang dan diwakili di Korea Utara oleh Kedutaan Swedia.

2 of 3

Tertarik pada Sosialisme

Kim Jong-un Periksa Pabrik Kentang di Samjiyon
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un melihat sebuah kentang saat mengunjungi pabrik produksi Samjiyon Potato Farina di Samjiyon County (30/10). (Photo by KCNA VIA KNS / KCNA VIA KNS / AFP)

Dalam sebuah tulisan status di bulan Januari tahun ini, Sigley menggambarkan minat yang kuat dalam isu Asia Timur dan "sosialisme". Ia juga menceritakan perjalanan pertamanya ke Korea Utara pada tahun 2012.

Putra seorang pria keturunan Inggris-Australia dan ibu berdarah China itu, sebelumnya belajar di Universitas Fudan di Shanghai dan di Korea Selatan sebelum pindah ke Pyongyang.

"Saya terdaftar di program magister sastra Korea di sekolah pascasarjana universitas. Karena saya adalah satu-satunya siswa asing dalam program khusus ini, kursus saya dilakukan secara langsung dengan guru," tulis Sigley.

Sigley sebetulnya menghindari isu politik. Ia menggambarkan kehidupannya dijalani dengan berdiskusi bersama mahasiswa pertukaran dari China, minum dan bermain video gim bersama siswa Rusia, dan pergi ke restoran dengan siswa dari Kanada serta Swedia.

Menghindari politik, Sigley menggambarkan kehidupan mengobrol dengan siswa pertukaran China, minum dengan siswa Rusia dan bermain video game dan pergi ke restoran dengan siswa dari Kanada dan Swedia.

Dalam sebuah artikel untuk surat kabar The Guardian yang diterbitkan pada akhir Maret, Sigley mengatakan dia memiliki "akses yang hampir tidak pernah terjadi sebelumnya" ke Pyongyang sebagai penduduk asing jangka panjang.

"Saya bebas berkeliaran di sekitar kota, tanpa ada yang menemani saya. Interaksi dengan penduduk setempat kadang-kadang terbatas, tetapi saya dapat berbelanja dan makan hampir di mana pun yang saya inginkan," tulisnya. 

3 of 3

Australia Melarang Perjalanan Tidak Penting ke Korut

Bendera Korea Utara (AFP)
Bendera Korea Utara (AFP)

Australia sebetulnya tidak menyarankan adanya perjalanan yang tidak penting ke Korea Utara - tempat beberapa orang asing ditahan di masa lalu.

Saran dari kekonsuleran merekomendasikan warga Australia untuk "tinggal sesingkat mungkin, menghilangkan kegiatan yang tidak perlu, dan meninjau keamanan Anda".

Pada 2016, Otto Warmbier, seorang mahasiswa University of Virginia, dipenjara selama tur ke Korea Utara, setelah dituduh membentangkan poster propaganda.

Lanjutkan Membaca ↓