Ilmuwan Survei 1.300 Bintang dalam Perburuan Alien, Ini Hasilnya

Oleh Siti Khotimah pada 23 Jun 2019, 21:00 WIB
Diperbarui 27 Jun 2019, 17:03 WIB
Ilustrasi Alien (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah ilmuwan sangat ambisius dalam mengungkap keberadaan makluk asing di ruang angkasa. Baru-baru ini, sekelompok peneliti yang didanai miliarder bekewarganegaraan ganda Israel-Rusia ,menyurvei 1.327 bintang terdekat dari Matahari dalam misi perburuan alien. Program itu bernama Pencarian untuk Intraterestrial Intelijen (Search for Extraterrestrial Intelligence disingkat SETI).

Para ilmuwan itu nyatanya tidak mendapati apapun. "Jelas tidak ada yang mencolok di sana," kata Danny Price, seorang ahli astrofisika di University of California, Berkeley AS yang juga penulis utama makalah terbitan The Astrophysical Journal.

 "Tidak ada peradaban yang luar biasa maju yang mencoba menghubungi kami dengan pemancar yang sangat kuat," lanjutnya merujuk pada sinyal yang mungkin dimiliki oleh alien. Menurut Price, mungkin ada penjelasan tentang tidak tertangkapnya sinyal itu.

Kata Price dikutip dari Live Sciene pada Minggu (23/6/2019), mungkin pencarian dilakukan pada frekuensi yang salah. Kemungkinan lain, sinyal itu tersembunyi karena gangguan radio dari Bumi.

Miliarder yang mendanai proyek ambisius ini adalah Yuri Milner. Ia bertujuan memindai langit untuk apa yang disebut sebagai technosignatures: transmisi atau bukti lain yang dibuat oleh makhluk berteknologi di dunia lain.

Inisiatif bernilai seratusan juta dollar ini telah dimulai pada 2015 lalu. Tak tanggung-tanggung, dua teleskop canggih dunia digunakan yakni Robert C Byrd Green Bank yang berdiameter 100 meter di Virgina Barat, serta Parkes Telescope berdiameter 64 meter di New South Wales, Australia. Kedua piranti itu digunakan untuk mencoba "menguping" keberadaan alien.

2 dari 4 halaman

Menganalisis 1 Juta Gigabit Data

NASA Kembangkan Teknologi Untuk Temukan Planet Alien
NASA Kembangkan Teknologi Untuk Temukan Planet Alien

Para peneliti itu menganalisis satu petabit atau satu juta gigabit data di radio dan panjang gelombang optik. Data yang dimaksud berasal dari 1.327 bintang dalam radius (jarak) 160 tahun cahaya dari Bumi.

Beberapa ribu sinyal yang menarik, muncul selama pencarian. Namun ternyata, semuanya berasal dari sumber-sumber duniawi seperti satelit buatan manusia.

Bagi Anda yang penasaran, data-data itu akan tersedia dalam katalog informasi raksasa di Breaktrough Initiatite dan terbuka untuk umum. Menjadikannya publikasi terbesar SETI dalam sejarahnya, terkait bidang ini.

Jason Wright, seorang astrofisikawan di Pennsylvania State University yang tidak terlibat dalam riset itu, mengatakan kepada Live Science bahwa ia terkesan dengan komitmen para peneliti untuk merilis data kepada publik. 

"Siapa pun yang berpikir tim peneliti mungkin telah melewatkan sesuatu, dapat memeriksa hasilnya dan melihat sendiri," katanya.

3 dari 4 halaman

Rencana Lebih Ambisius

Ilustrasi planet alien Kepler-186f yang diyakini sebagai kembaran Bumi (NASA Ames/SETI Institute/JPL-Caltech)
Ilustrasi planet alien Kepler-186f yang diyakini sebagai kembaran Bumi (NASA Ames/SETI Institute/JPL-Caltech)

Peneliti utama, Price, optimis bahwa di masa depan timnya akan melakukan misi yang lebih ambisius lagi. Para peneliti bermaksud untuk menggunakan teleskop MeerKAT dalam misi yang akan datang di sebuah observatorium Afrika Selatan.

Langkah itu untuk mencari lebih dari satu juta bintang di lingkungan galaksi, untuk transmisi luar angkasa.

Sementara setiap sinyal yang muncul harus diteliti dengan cermat untuk memastikannya asli, Price mengatakan bahwa penemuan semacam itu akan benar-benar revolusioner.

"Saya pikir itu akan menjadi salah satu penemuan paling penting yang pernah dilakukan umat manusia," katanya.

4 dari 4 halaman

Simak video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓