AS Klaim Melancarkan Serangan Siber terhadap Iran

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 23 Jun 2019, 11:00 WIB
Diperbarui 23 Jun 2019, 14:16 WIB
Bendera Iran (Atta Kenare / AFP PHOTO)

Liputan6.com, Washington DC - Unit komando siber Amerika Serikat dikabarkan melancarkan serangan kepada organisasi spionase siber Iran beberapa pekan lalu. Langkah itu bertepatan dengan eskalasi ketegangan kedua negara.

Serangan AS merupakan bentuk respons atas aktivitas siber Iran, menurut laporan Yahoo! News --outlet media yang pertama kali melaporkan kabar tersebut dengan mengutip sumber pejabat anonim.

Awalnya, sebuah organisasi spionase siber Iran yang terafiliasi Korps Garda Revolusi (IRGC) dikabarkan melakukan operasi berkaitan dengan dugaan penyerangan dua tanker internasional oleh IRGC di Teluk Oman pada 13 Juni 2019.

Sebagai respons, US Cyber Command melakukan serangan balasan terhadap piranti lunak organisasi spionase siber Iran tersebut setelah insiden penyerangan tanker terjadi, demikian seperti dikutip dari CNN, Minggu (23/6/2019).

Kementerian Pertahanan AS menolak mengomentari hal itu, beralasan bahwa Pentagon "tidak membahas kebijakan dan operasi terkait keamanan, ruang siber, dan intelijen."

2 of 4

Iran Meningkatkan Intensitas Operasi Siber?

Ilustrasi rudal Iran
Ilustrasi Bendera Iran (AFP)

Seorang eks pejabat intelijen AS mengatakan kepada CNN bahwa dalam beberapa bulan terakhir telah terjadi peningkatan aktivitas dunia maya Iran terhadap target Teluk, seperti Bahrain dan Uni Emirat Arab, serta target AS.

Kemampuan siber pasukan Iran telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir berkat bantuan Rusia. Namun di samping itu, Iran juga diperkirakan kerap melakukan serangan siber sendiri.

Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) mengumumkan hari Sabtu bahwa Iran baru-baru ini meningkatkan serangan siber terhadap industri AS dan agen-agen pemerintah ketika ketegangan memuncak antara kedua negara selama beberapa hari terakhir.

Christopher Krebs, Direktur Badan Keamanan Infrastruktur Siber AS yang bernaung di bawa DHS, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa lembaganya "menyadari peningkatan baru-baru ini dalam aktivitas siber yang diarahkan pada industri Amerika Serikat dan agen-agen pemerintah oleh aktor dan proksi rezim Iran."

3 of 4

Donald Trump Sempat Perintahkan AS Serang Iran

Presiden Amerka Serikat (AS) Donald Trump siap meluncurkan sanksi paling berat terhadap Iran, Senn, 5 November 2018  (AFP).
Presiden Amerka Serikat (AS) Donald Trump siap meluncurkan sanksi paling berat terhadap Iran, Senn, 5 November 2018 (AFP).

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan menyetujui serangan militer militer terhadap Iran sebagai pembalasan atas jatuhnya drone pengintai AS yang ditembak jatuh Negeri Persia.

Namun, Presiden Trump kemudian berubah pikiran dan membatalkan serangan --menurut pemberitaan sejumlah media AS pada Jumat 21 Juni 2019, yang mengutip keterangan dari pejabat anonim Amerika, Al Jazeera melaporkan (21/6/2019).

Mengutip pejabat senior Gedung Putih, The New York Times melaporkan sebuah operasi yang disetujui oleh Trump untuk melancarkan serangan terhadap "sejumlah sasaran Iran" --termasuk radar dan fasilitas rudal-- "sebagai tahap awal" pada Kamis 20 Juni.

Namun, pada Kamis malam, pemimpin AS itu mengubah taktik dan membatalkannya.

Penembakan drone AS oleh Iran menandai serangan langsung pertama yang diklaim Negeri Persia pada aset Negeri Paman Sam, dan terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.

Menegangnya hubungan AS - Iran disebabkan oleh keputusan Trump tahun lalu untuk menarik diri dari perjanjian internasional yang mengekang program nuklir Teheran.

Sejak itu, AS telah mengerahkan lebih banyak aset militer ke Teluk, serta ribuan pasukan lainnya, di samping memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Iran.

4 of 4

Simak video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓