Presiden Honduras Kirim Pasukan Bersenjata untuk Setop Kekerasan Anti-Pemerintah

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 21 Jun 2019, 09:24 WIB
Diperbarui 21 Jun 2019, 09:24 WIB
Aksi prote smenentang pemerintahan Honduras terus berlangsung selama pertengahan Juni 2019 (AFP/Orlando Sierra)

Liputan6.com, Tegucigalpa - Presiden Honduras Juan Orlando Hernandez, pada hari Kamis, mengirim pasukan bersenjata untuk menertibkan protes anti-pemerintah, yang berubah menjadi kekerasan pada Rabu malam waktu setempat, di mana dua orang dilaporkan tewas.

Berbicara di istana kepresidenan, setelah bertemu dengan pejabat senior keamanan, Hernandez mengatakan dia telah memerintahkan militer untuk menjaga jalan tetap terbuka, serta melindungi properti sipil dan masyarakat di sebagin besar wilayah Honduras yang bergejolak.

"Jadi angkatan bersenjata, polisi nasional dan pasukan pertahanan dan keamanan lainnya dikerahkan secara penuh dan akan tetap demikian," kata Hernandez, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera pada Jumat (21/6/2019).

Sebelumnya di hari yang sama, Hernandez mengatakan dia telah mencapai kesepakatan dengan operator truk, yang mendesak kenaikan tarif operasional terkait krisis bahan bakar yang menghantui negara itu, hampir setahun terakhir.

Meski begitu, aksi unjuk rasa melawan pemerintahan Hernandez tetap terjadi.

Ada kerusuhan yang meluas pada Rabu malam di Tegucigalpa, setelah anggota pasukan polisi anti huru hara Honduras --yang ditugasi menjaga ketertiban-- ditarik ke area pemukiman, guna menekan pemerintah untuk mendengar tuntutan demonstran.

Protes terhadap Hernandez telah berkembang dalam beberapa pekan terakhir atas reformasi yang dijanjikannya, di mana menurut para pengamat, cenderung mengarah ke privatisasi layanan kesehatan dan pendidikan publik Honduras.

 

 

2 dari 3 halaman

Kerusuhan Terus Berlanjut

Demontsrasi di Honduras, Menuntut Hasil Pemilu (AFP Photo)
Demontsrasi di Honduras, Menuntut Hasil Pemilu (AFP Photo)

Kerusuhan telah menambah tekanan pada Hernandez, yang pemerintahannya semakin tidak populer sejak dia mengubah aturan untuk melancarkan upaya meraih jabatan kedua pada 2017.

Meskipun dia memenangkan pemilihan, namun hal itu dikritik secara luas oleh pengamat internasional dan lawannya, sebagai tindkaan mencuri kemenangan.

Sementara itu, kerusuhan berlanjut pada hari Kamis.

Otoritas keamanan setemoat mengusir pengunjuk rasa yang telah membentuk barikade dan membakar ban di jalan akses selatan ke ibukota, serta dari boulevard pusat kota, kata juru bicara kementerian keamanan Jair Meza.

"Ada hambatan yang sedang berlangsung di wilayah selatan Choluteca dan di Colon di Pantai Atlantik, di mana kontainer dari unit Perusahaan Makanan AS AS diserang beberapa pekan lalu," lanjut Meza menjelaskan.

3 dari 3 halaman

17 Orang Terluka, 2 Meninggal

Perayaan May Day di Berbagai Negara yang Berakhir Ricuh
Seorang demonstran menyemprotkan cat di tameng polisi anti huru hara saat melakukan aksi protes pada peringatan Hari Buruh di Tegucigalpa, Honduras (1/5). (AFP/Orlando Sierra)

Selama kerusuhan pada hari Rabu, 17 orang menderita luka tembak, dua di antaranya meninggal di rumah sakit universitas HEU di Tegucigalpa, kata Laura Schoenherr, seorang juru bicara medis setempat.

Sementara dari dalam istana, Hernandez segera merespons dengan memanggil dewan pertahanan dan keamanan untuk memulihkan ketertiban di negara itu.

Setidaknya ada 25.000 anggota angkatan bersenjata Honduras, termasuk polisi militer, yang dikerahkan untuk menertibkan massa.

Lanjutkan Membaca ↓