Lucu, Menteri Pakistan Terekam Pakai Filter Kucing Saat Konferensi Pers

Oleh Siti Khotimah pada 19 Jun 2019, 16:53 WIB
Perdana Menteri Pakistan tak sengaja tertangkap kamera dengan filter kucing (PTI KHYBER PAKHTUNKHWA / Screengrab Facebook)

Liputan6.com, Islamabad - Menteri Kesehatan dan Informasi Pakistan, Shoukat Yousufzai. baru-baru ini tertangkap kamera mengenakan filter kucing saat konferensi pers. Ia tampak memiliki telinga dan kumis yang terlihat lucu.

Ternyata, siaran langsung konferensi pers yang dimaksud tak sengaja direkam dengan filter kucing. Mode tersebut tak diduga dalam kondisi aktif.

Sayangnya rekaman yang dimaksud terlanjur disiarkan dan dilihat oleh warganet, tidak hanya di Pakistan namun juga viral di seluruh belahan dunia.

Pihak staf Shoukat Yousufzai kemudian merilis pernyataan untuk menjelaskan insiden tersebut.

"Kemarin, saat meliput briefing pers yang diadakan oleh Menteri Informasi KP Shoukat Yousf Zai, 'filter kucing' disaksikan oleh para penonton yang kemudian dihilangkan dalam beberapa menit," kata sumber Pakistan yang tidak disebutkan namanya dikutip dari BBC pada Rabu (19/6/2019).

Mereka mengatakan bahwa ini adalah "kesalahan manusia" - hanya berarti seseorang secara tidak sengaja meninggalkan filter kucing di kamera mereka.

2 of 3

Filter Snapchat Pernah Bikin Orang Ingin Operasi Plastik

Discover Page Snapchat
Tampilan Discover Page pada Snapchat (Sumber: Venture Beat).

Sementara itu, para dokter bedah plastik mengaku kian khawatir terhadap dampak negatif baru dari media sosial. Salah satunya filter Snapchat yang membuat seseorang terobsesi memiliki wajah serupa filter yang dimaksud, atau dikenal dengan istilah "dysmorphia Snapchat."

Dijelaskan oleh tiga orang pakar dermatologis dari Boston University School of Medicine, bahwa saat ini semakin banyak pasien berburu prosedur bedah plastik, berdasarkan apa yang mereka lihat di aplikasi seperti Snapchat dan Facetune.

"Sebuah fenomena baru, yang dijuluki 'dysmorphia Snapchat,' mendoreng pasien melakukan operasi bedah plastik agar terlihat seperti versi wajah mereka di aplikasi media sosial, dengan bibir penuh, mata yang lebih besar, atau hidung yang lebih tipis," tulis laporan ketiganya, sebagaimana dikutip dari Time.com.

"Ini adalah tren yang mengkhawatirkan karena swafoto yang disunting sedemikian rupa, sering menghadirkan tampilan yang tidak mungkin dicapai, sekaligus mengaburkan garis realitas dan fantasi," lanjut tulisan itu menjelaskan.

3 of 3

Sebelumnya Terinspirasi dari Selebritas

Ilustrasi kecantikan
Ilustrasi kecantikan. Sumber foto: pexels.com/CC0 License.

Fenomena tersebut jauh berbeda dengan pasien bedah platik di masa lalu, yang cenderung mencari inspirasi dari selebritas, menurut para penulis.

Artikel itu juga menyinggung fenomena ketika banyak orang lebih tertarik membentuk simetri wajah, dibandingkan perbaikan kecil seperti merapikan benjolan di hidung.

Di lain pihak, menurut Mayo Clinic, istilah "dysmorphia Snapchat" berasal dari gangguan dismorfik tubuh (BDD), yang ditandai dengan obsesi atas kekurangan fisik yang dirasakan, bahkan mereka yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain.

Sementara dysmorphia Snapchat bukanlah kondisi klinis yang dapat didiagnosis, para peneliti menyatakan bahwa melakukan operasi bedah plastik untuk perubahan wajah yang tidak realistis dapat berkontribusi atau memperburuk BDD.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait