Penembakan di Dua Desa Mali, 41 Orang Tewas

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 19 Jun 2019, 11:32 WIB
Diperbarui 19 Jun 2019, 13:17 WIB
Tembak Senjata Api

Liputan6.com, Bamako - Sejumlah pria bersenjata tak dikenal menyerang dua desa di Mali Tengah pada Senin 17 Juni 2019 malam. Peristiwa itu mengakibatkan sedikitnya 41 orang tewas.

Mengendarai sepeda motor, para pria bersenjata dilaporkan melakukan penembakan sebagai aksi balasan terkait perseteruan berlatar etnis yang terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir, kata seorang wali kota setempat pada Selasa 18 Juni.

Dikutip dari The Guardian pada Rabu (19/6/2019), penembakan itu menyasar Desa Yoro dan Gangafani 2, di mana banyak milisi etnis setempat kerap berseteru sengit, sehingga berdampak pada keamanan dan keselamatan warga sipil dari masing-maisng kubu.

"Para korban penembakan tersebut sebagian besar berasal dari etnis Dogon," kata Wali Kota Yoro, Issiaka Ganame, di mana 24 orang tewas dan 17 lainnya meninggal di Gangafani 2.

"Sekitar 100 pria bersenjata tak dikenal, yang mengendarai motor, tiba-tiba menyerang Yoro dan menembaki penduduk," kata Ganame kepada kantor berita Reuters.

"Kemudian mereka berpindah ke Desa Gangafani 2, yang berjarak sekitar 15 kilometer jauhnya," lanjutnya.

2 dari 3 halaman

Kekerasan Berlatar Etnis

Rombongan presiden Mali meninjau lokasi bekas pembantaian esa Fulani oleh kelompok militan Dogon (AFP)
Rombongan presiden Mali meninjau lokasi bekas pembantaian esa Fulani oleh kelompok militan Dogon (AFP)

Kekerasan terjadi dalam beberapa bulan terakhir di Mali Tengah, sebagian besar merupakan perseteruan antara militan Dogon dan kelompok penggembala dari etnis Fulani.

Sebelumnya, serangan serupa terjadi pekan lalu di sebuah desa yang banyak dihuni oleh simpatisan Dogon, di mana menewaskan sedikitnya 35 orang. Oknum dari Fulani diyakini sebagai dalang dibalik serangan itu.

Mundur ke bulan Maret, tersangka anggota militan Dogon membunuh lebih dari 150 orang Fulani di dua desa di Mali Tengah, di mana insiden itu disebut sebagai pertumpahan darah terburuk dalam sejarah negara itu.

Di lain pihak, pemerintahan Ibrahim Boubacar Keita telah berjanji untuk melucuti senjata militan, tetapi kemudian kesulitan dalam mewujudkannya.

Kelompok militan terkait mendapat perlindungan dari berbagai komunitas lokal yang tidak percaya pemerintah melindungi mereka.

3 dari 3 halaman

Ada Ancaman Pembunuhan

Mali, Afrika Utara
(Foto: Africa vernacular architecture) Rumah di Mali, Afrika Utara (AFP Photo)

Pada hari Selasa, dua serikat buruh yang mewakili para pegawai negeri setempat menyerukan evakuasi segera dari Mopti, tempat di mana kekerasan kerap terjadi.

Para pegawai negeri didesak meninggalkan kantor mereka dan mencari perlindungan ke ibu kota regional, guna menghindari ancaman pembunuhan.

"Presiden Keita mengatakan dia akan melucuti semua milisi. Tapi, hingga saat ini, kami masih memperhatikan dan menunggu pelucutan senjata dan implementasi langkah-langkah perlindungan," kata Ousmane Christian Diarra, sekretaris jenderal Sindikat Nasional Administrasi Sipil, nama salah satu serikat buruh.

Sementara itu, militer Prancis masih melakukan intervensi di Mali --yang merupakan bekas koloninya-- sejak 2013, guna berusaha memukul mundur gerakan militan dari wilayah utara negara itu.

Tetapi sejak itu, militan berkumpul kembali dan menggunakan Mali utara dan tengah sebagai basis banyak penyerangan, yang sering memicu ketegangan di antara berbagai komunitas.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait