Sebar Video Penembakan di Masjid Selandia Baru, Pengusaha Ini Dibui 21 Bulan

Oleh Tanti Yulianingsih pada 18 Jun 2019, 19:10 WIB
Diperbarui 18 Jun 2019, 20:17 WIB
Masjid Al Noor Selandia Baru dijaga ketat kepolisian setempat (AP Photo)

Liputan6.com, Christchurch - Seorang pria Selandia Baru yang membagikan video streaming langsung penembakan di masjid Christchurch -- yang menewaskan 51 orang pada Jumat 15 Maret -- dipenjara selama 21 bulan. 

Philip Arps mengirim video ke 30 orang, sebelumnya ia meminta seorang teman memodifikasi video agar menyertakan "kill count".

Hakim Distrik Christchurch Stephen O'Driscoll mengatakan, Arps memiliki pandangan tak berbelas kasih terhadap komunitas Muslim.

Di Pengadilan Distrik Christchurch pada Selasa 18 Juni 2019, seperti dikutip dari BBC pada Selasa (18/6/2019), Arps mengaku bersalah atas dua tuduhan mendistribusikan materi yang tidak pantas karena berbagi rekaman yang disiarkan langsung ke media sosial selama serangan mematikan di masjid Selandia Baru itu.

"Pengadilan mendengar bahwa Arps juga berniat untuk membagikan video yang dimodifikasi - yang termasuk bidik silang dan jumlah korban pembunuhan. Dia menggambarkan rekaman yang dimodifikasi itu sebagai "luar biasa"," lapor New Zealand Herald.

Hakim O'Driscoll mengutuk tindakan Arps, menyebutnya "kejahatan rasial". Dia menambahkan bahwa "sangat kejam" Arps untuk berbagi video pada hari-hari setelah serangan.

2 dari 3 halaman

Kasus Lain yang Menjerat

Masjid Al Noor Christchurch, Selandia Baru
Masjid Al Noor Christchurch, Selandia Baru (dok. YouTube/Isha Masoodi)

Hakim O'Driscoll menambahkan bahwa laporan pra-hukuman mengangkat masalah lain tentang Arps yang memprihatinkan, tetapi mengatakan dia tidak ingin menyebutkannya secara terbuka karena ini dapat dilihat oleh Arps sebagai "lencana kehormatan".

Pengusaha berusia 44 tahun itu mengaku bersalah pada bulan April.

Dia juga dihukum pada tahun 2016 atas perilaku ofensif karena meninggalkan kepala babi di Masjid Al Noor - salah satu dari mereka yang ditargetkan selama penembakan massal Christchurch.

Sementara itu, Brenton Tarrant, pria Australia yang jadi dalang penembakan di masjid Selandia Baru menghadapi 92 dakwaan sehubungan dengan penembakan di masjid Al Noor dan Linwood Islamic Centre di Christchurch. Awal pekan ini, dia mengaku tidak bersalah atas semua tuduhan dan diperkirakan akan menghadapi pengadilan tahun depan.

Serangan 15 Maret adalah penembakan massal paling mematikan di Selandia Baru di zaman modern.

3 dari 3 halaman

Klaim Tidak Bersalah atas 51 Tuduhan

Wajah dan Senjata Terduga Pelaku Penembakan di Masjid Selandia Baru
Wajah Brenton Tarrant terduga pelaku penambakan di Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3). Warga Australia berusia 28 tahun tersebut melepaskan tembakan secara brutal ke dua masjid di Christchurch. (AP Photo)

Brenton Tarrant, seorang warga Australia, mengklaim tidak bersalah atas semua tuduhan terkait penembakan dua masjid di Christchurch, Selandia Baru.

Tarrant (28) menghadapi 51 tuduhan pembunuhan, 40 percobaan pembunuhan dan satu lainnya terlibat dalam aksi teroris, demikian sebagaimana dikutip dari The Guardian pada Jumat 14 Juni 2019.

Sidang resmi, diperkirakan memakan waktu enam pekan, yang akan berlangsung mulai 4 Mei 2020 mendatang.

Mengenakan kaus abu-abu dan diapit oleh tiga petugas penjara, Tarrant muncul di layar lebar yang dipasang di pengadilan tinggi Christchurch pada Jumat pagi.

Ia menjalani sidang via komunikasi video dari sebuah penjara berpengamanan tingkat tinggi di Auckland, kota terbesar di Selandia Baru.

Pengacara Tarrant, Shane Tait, memasukkan permohonan atas nama kliennya ke majelis hakim.

Tarrant dilaporkan menyeringai ketika Tait memberi tahu pengadilan bahwa dia akan mengaku tidak bersalah atas semua dakwaan, tetapi sebaliknya menunjukkan sedikit emosi.

Tautan audionya telah dimatikan, dan dia tidak berusaha untuk berbicara.

Sekitar 140 anggota masyarakat menghadiri audiensi tersebut. Ada beberapa tampak terkejut ketika permohonan tidak bersalah dimasukkan oleh pengacara Tarrant.

Berbicara di luar pengadilan setelah persidangan, Yama Nabi --yang ayahnya tewas dalam penembakan terkait-- mengatakan prospek persidangan adalah "menyakitkan bagi keluarga korban".

Sidang tertutup itu baru diwartakan oleh berbagai outlet media Selandia Baru pada Jumat siang waktu setempat.

Lanjutkan Membaca ↓