Curah Hujan Tinggi Picu Menara Kuno di Afghanistan Ambruk

Oleh Tanti Yulianingsih pada 14 Jun 2019, 11:21 WIB
Tentara Afghanistan dalam perang melawan Taliban (AP/Rahmat Gaul)

Liputan6.com, Ghazni - Sebuah menara kuno di Kota Ghazni Afghanistan ambruk. Peristiwa itu menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan pemerintah untuk melindungi artefak negara itu.

Rekaman yang diunggah ke media sosial menunjukkan benteng di kota tua itu runtuh.

Menara itu adalah satu dari belasan yang sudah hancur di kota Ghazni. Para pejabat menyalahkan hujan lebat, tetapi beberapa kritik menuduh pemerintah Afghanistan lalai.

Arsitektur Islami dan pra-Islam Ghazni secara luas dikagumi meskipun perang di sana menelan banyak korban jiwa.

Mohammad Saber Mohmand, juru bicara kementerian informasi dan budaya, mengatakan kepada Tolo News bahwa benteng itu "rentan terhadap curah hujan dan sebagian besar rusak oleh hujan".

"Jalan raya utama terletak di dekat benteng, yang mungkin mempengaruhi keberadaan menara," tambahnya.

Ghazni adalah pusat agama Buddha yang berkembang hingga abad ke-7. Tetapi pada 683 M, tentara Arab membawa Islam ke wilayah tersebut.

Pada abad ke-13 mereka diperangi oleh tentara Mongol Jenghis Khan, yang dipimpin oleh putranya Ogedei Khan.

Kota kuno Ghazni di Afghanistan telah ditetapkan sebagai Asian city of Islamic Culture atau kota Budaya Islam Asia oleh Organisasi Kerjasama Islam. Namun, banyak bangunan kuno di kota itu sulit dikunjungi oleh orang luar karena pemberontakan Taliban.

2 of 2

Bangunan Telantar Lainnya

Tak Ada Biaya, Menara Berusia 800 Tahun Miring Nyaris Roboh
Menara dari batu bata di Afghanistan. (BBC)

Sebelumnya, setelah berabad-abad tidak dipelihara dan sempat dilanda banjir, menara bersejarah yang dikenal dengan sebutan Minaret of Jam di Afghanistan terancam keberadaannya. Kini kondisinya semakin mengkhawatirkan, karena nyaris ambruk.

Dilansir dari BBC, Jumat 29 Agustus 2014, pemerintah setempat mengungkapkan bahwa tak terdapat cukup dana untuk melindungi bangunan berumur 800 tahun di provinsi terpencil Ghor itu. Jika banjir terjadi lagi, menara diperkirakan akan roboh.

Ancaman terbesar menara setinggi 65 meter itu adalah letaknya yang berada di lembah sungai di antara perbukitan tinggi. Para pejabat mengatakan banjir tahun lalu telah merusak fondasi menara batu bata tertinggi kedua di dunia itu.

Mereka mengatakan dinding penopang baru telah dibangun. Upaya lain untuk menstabilkan menara itu juga telah dilakukan, tetapi langkah ini dianggap tidak cukup untuk mengamankan situs tersebut.

Pejabat setempat mengatakan kepada BBC sekitar 20-30% batu bata dekoratif telah terlepas dan menara sudah dalam posisi miring.

Menara bundar ini terkenal karena disain batu bata yang rumit dan hiasan geometrisnya. Sejak dibangun pada 1194, menurut Unesco -- organisasi budaya PBB -- belum pernah dilakukan restorasi besar.

Situs yang pernah populer bagi wisatawan internasional ini sudah jarang dikunjungi, karena ancaman keamanan di wilayah tersebut.

Aktivis budaya di Ghor mengatakan, mereka ingin presiden Afghanistan berikutnya mengunjungi menara dan meningkatkan upaya untuk melestarikannya.

Puluhan tahun berkecamuk perang di wilayah tersebut, telah membuat pelestarian warisan budaya Afghanistan menjadi tantangan besar tersendiri.

Warisan budaya Bamiyan Buddha bahkan diledakkan oleh Taliban pada tahun 2001. Tiga belas tahun kemudian, belum ada keputusan yang dibuat terkait situs tersebut.

Lanjutkan Membaca ↓