Ini Alasan Mengapa Tagar #BlueforSudan Ramai Diunggah di Media Sosial

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 14 Jun 2019, 09:30 WIB
Diperbarui 25 Sep 2019, 19:03 WIB
Salah seorang pengunjuk rasa di tengah kisruh politik di Sudan (AP Photo)

Liputan6.com, Khartoum - Beberapa hari terakhir, mendadak banyak pengguna media sosial mengubah gambar profil mereka menjadi biru. Bersamaan dengannya, juga bermunculan berbagai unggahan yang menyertakan tanda pagar (tagar) #BlueforSudan.

Bukan sekadar tren, tagar #BlueforSudan dan ramai-ramai menggunggah warna biru adalah bentuk solidaritas warganet global kepada para pengunjuk rasa di Sudan, yang belasan di antaranya tewas secara brutal di ibu kota Khartoum.

Dikutip dari Al Jazeera pada Jumat (14/6/2019), gelombang biru semakin viral di berbagai platform, di mana banyak pengguna Twitter dan Instagram bersama-sama mengenang salah satu korban, Mohamed Mattar, yang warna favoritnya dikabarkan adalah biru.

Insinyur berusia 26 tahun itu ditembak secara brutal hingga tewas dalam bentrok pada 3 Juni lalu, yang disalahkan pada simpatisan unit Rapid Support Forces (RSF), sebuah kelompok paramiliter pimpinan anggota senior Dewan Militer Transisi yang berkuasa di Sudan.

Mattar dilaporkan ditembak ketika berusaha melindungi dua wanita selama pembubaran kamp protes di luar markas milite Sudan.

"Setelah dia dibunuh, teman-teman dan keluarganya mengubah gambar profil mereka sebagai penghormatan, dan akhirnya orang lain mulai mengikuti," kata Shahd Khidir, salah satu teman Mattar.

Khidir yang juga merupakan seorang influencer kecantikan di Instagram, meminta para pengikutnya (followers) untuk mengubah foto profil merek menjadi biru, seperti yang dipasang oleh Mattar di akun Instagram-nya.

"Sekarang (warna biru) mewakili semua orang Sudan yang menjadi korban dalam pemberontakan," jelas Khidir.

2 of 3

Pemblokiran Internet

Ilustrasi Internet (iStockphoto via Google Images)
Ilustrasi Internet (iStockphoto via Google Images)

Aksi protes yang dimulai pada 6 April lalu itu mencapai puncaknya pada awal Juni, ketika massa yang memilih bertahan dipukul mundur secara paksa oleh pihak keamanan Sudan.

Alasan massa tetap bertahan adalah seruan untuk segera membentuk pemerintahan sipil, setelah sebelumnya rezim penguasa lama Sudan, Omar al-Bashir, berhasil dilengserkan pada 11 April oleh kudeta militer.

Sejak itu, penguasa militer Sudan telah mengurangi akses internet hingga benar-benar diblokir total pada 10 Juni.

Internet, khususnya media sosial, digunakan oleh para pemrotes dan jurnalis warga untuk mengorganisir demonstrasi, dan juga untuk berbagi berita ke seluruh dunia tentang informasi terbaru dari pemberontakan.

Pemblokiran itu menjadi tantangan besar bagi diaspora Sudan, yang memainkan peran penting dalam menyebarkan informasi dari gerakan protes setempat.

Mereka yang berada di luar Sudan terpaksa mengandalkan panggilan telepon, atau dari mulut ke mulut, untuk menerima informasi dari negara yang tengah berkonflik itu, untuk kemudian mereka bagikan di media sosial.

"Sudan benar-benar dalam kegelapan sekarang," kata Aza Elnimah (25), seorang profesional muda Sudan yang berbasis di Qatar.

"Kami tidak tahu apa yang terjadi. Satu-satunya cara kami dapat menjangkau keluarga di Suran sekarang adalah melalui telepon, tetapi itu masih belum cukup," ujarnya prihatin.

3 of 3

Menjadi Alat Perjuangan Baru

Kerusuhan semakin membabi buta di ibu kota Sudan, Khartoum (AFP/Ashraf Shazly)
Kerusuhan semakin membabi buta di ibu kota Sudan, Khartoum (AFP/Ashraf Shazly)

Pada hari-hari setelah serangan brutal terkait, tagar #IAmTheSudanRevolution dirilis oleh Asosiasi Profesional Sudan (SPA), kelompok yang telah mempelopori protes berbulan-bulan.

Diaspora Sudan mendengar panggilan itu dan tagar tersebut menjadi tren di sejumlah negara.

Sejak itu, cerita tentang Sudan telah mendapatkan momentum online, khususnya sejak warna biru mulai menjadi viral.

"Orang-orang tidak langsung memungutnya, tetapi penduduk Sudan lainnya mengadopsi warna itu untuk mendapat perhatian," kata Elnimah.

"Orang-orang terus bertanya, seperti: mengapa semua orang mengubah gambar profil mereka ke warna itu? Ini semacam memungkinkan kami mengendalikan narasi dengan memberi tahu orang-orang apa yang terjadi dan menjawab pertanyaan mereka," lanjutnya menjelaskan.

Pengguna Instagram Lucrezia Brunetti mengatakan: "Orang-orang dipersatukan oleh warna ini, Ini sesuatu yang sangat sederhana, tetapi sangat bermakna, di mana itu melambangkan kepedulian orang banyak."

Bagi sebagian orang di komunitas Sudan yang lebih luas, kampanye #BlueForSudan telah membawa harapan.

Lanjutkan Membaca ↓