Siapa Houthi yang Merudal Bandara Abha dan Perangi Koalisi Saudi di Yaman?

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 13 Jun 2019, 16:14 WIB
Salah seorang anggota pasukan militan Houthi yang berperang dengan pemerintah Yaman (AFP Photo)

Liputan6.com, Sana'a - Serangan rudal Houthi terhadap bandara di kota perbatasan Abha, Arab Saudi, meningkatkan ketegangan dalam konflik Yaman yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Menurut PBB, sejak koalisi pimpinan Arab Saudi campur tangan pada 2015, Yaman telah menyaksikan krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Kelompok-kelompok HAM mengatakan puluhan ribu orang telah terbunuh, setengah dari 28 juta populasinya menderita kelaparan, dan bahkan negara tersebut juga dilanda wabah kolera terburuk dalam sejarah modern.

Lantas, siapa sebenarnya Houthi yang menjadi musuh pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi? Mengapa eksistensinya memengaruhi situasi politik di Yaman?

Sebagaimana dikutip dari The Guardian pada Kamis (13/6/2019), Houthi adalah kelompok pemberontak yang telah melakukan perlawanan terhadap pemerintah Yaman sejak puluhan tahun lalu.

Meskipun mereka tidak bisa bertahan selamanya melawan kekuatan udara dan blokade koalisi, Houthi terus mengatakan pihaknya bertekad untuk tidak menyerah.

Berikut adalah empat fakta utama tentang eksistensi kelompok Houthi.

 

 

2 of 5

Sejarah Singkat Terbentuknya Houthi

Militan Houthi menguasai Hodeidah yang menjadi pelabuhan utama di Yaman (AP Photo)
Militan Houthi menguasai Hodeidah yang menjadi pelabuhan utama di Yaman (AP Photo)

Gerakan Houthi didirikan pada 1990-an oleh Hussein Badreddin al-Houthi, anggota Zaidi --sebuah kelompok minoritas Syiah-- yang populasinya diperkirakan berjumlah sepertiga dari total penduduk Yaman.

Hussein dibunuh oleh tentara Yaman pada tahun 2004, dan kelompok itu sekarang dipimpin oleh saudaranya, Abdul Malik.

Sempat menjadi kekuatan utama di Yaman Utara, kelompok Zaidi dikesampingkan selama perang saudara 1962-70, dan kemudian semakin teralienasi pada 1980-an, ketika pengaruh Sunni Salafi asal Arab Saudi semakin berkembang luas di Timur Tengah.

Sebagai tanggapan, ulama Zaidi mulai melancarkan serangan militer melawan Riyadh dan sekutunya.

Pemberontakan intermiten mendapat dukungan dari Syiah Yaman yang muak dengan korupsi dan kekejaman presiden otoriter sekaligu sekutu kuat Saudi, Ali Abdullah Saleh.

Sentimen negatif itu terutama kian menguat pasca-serangan 11 September dan invasi Amerika Serikat (AS) ke Irak.

 

3 of 5

Menarik Diri dari Pembicaraan Transisi

Potret anak-anak yang terancam kelaparan akut akibat Perang Yaman (AP/Hani Mohamed)
Potret anak-anak yang terancam kelaparan akut akibat Perang Yaman (AP/Hani Mohamed)

Protes rakyat dan beberapa upaya pembunuhan memaksa Saleh untuk mengundurkan diri pada 2012.

Houthi, sebagai satu-satunya kelompok revolusioner dengan pengalaman militer, terus menguasai wilayah di luar jantung utara mereka.

Ketik pengaruhnya menguat, Houthi memilih menarik diri dari pembicaraan transisi, yang bertujuan menciptakan pemerintah baru Yaman yang stabil pasca-lengsernya Saleh.

Pada 2015, Houthi justru bersekutu dengan Saleh --yang merupakan mantan musuhnya-- untuk merebut ibu kota Sana'a, dan menggulingkan presiden kala itu, Abd Rabbu Mansour Hadi.

Namun, koalisi tersebut pecah pada 2017, ketika Saleh mengatakan siap melakukan dialog dengan koalisi Arab Saudi. Suatu keputusan yang enggan diambil oleh Houthi hingga sekarang.

4 of 5

Tujuan Houthi dalam Perang Saudara

Milisi pro-pemerintah Yaman yang didukung Koalisi Arab Saudi dalam sebuah operasi untuk memasuki Kota Hodeidah (AFP PHOTO)
Milisi pro-pemerintah Yaman yang didukung Koalisi Arab Saudi dalam sebuah operasi untuk memasuki Kota Hodeidah (AFP PHOTO)

Slogan Houthi, yang dikenal sebagai sarkha, atau teriakan, adalah "Tuhan itu agung, kematian bagi Amerika, kematian bagi Israel, kutukan pada orang Yahudi, kemenangan bagi Islam".

Terlepas dari narasi perlawanan, kaum Houthi tidak memiliki pernyataan politis atau politik terhadap pemerintahan Yaman, meskipun pada kenyataannya mereka sempat mengendalikan dua kota utamanya, Sana'a dan Hodeidah.

Sepanjang perang saudara, pihak Houthi dituduh menyiksa dan membunuh jurnalis dan kritikus, memotong pasokan bantuan, menggunakan infrastruktur sipil sebagai perisai militer, serta menganiaya berbagai kelompok minoritas setempat.

5 of 5

Hubungan Houthi dan Iran

Ilustrasi bendera Iran
Ilustrasi (iStock)

Orang-orang Houthi dengan berbagai cara mengatakan bahwa taktik mereka meniru gerakan Viet Cong di Vietnam dan berbagai pemberontakan Amerika Latin.

Namun, sepak terjang mereka sekarang diakui banyak berhubungan dengan eksistensi kelompok Hezbollah yang beralirah Syiah di Lebanon.

Oleh banyak pengamat, pernyataan tersebut memiliki hubungan kekerabatan yang jelas.

Hizbullah dan Iran telah meningkatkan persediaan senjata, rudal, pelatihan militer, dan dana untuk upaya perang Houthi sejak 2014, lapor berbagai lembaga pengamat Timur Tengah.

Namun, sejauh mana pengaruh Iran terhadap proses pengambilan keputusan Houthi tidak jelas.

Meski begitu, Houthi telah beberapa kali menolak tegas saran Iran selama perang, termasuk permintaan untuk tidak mengambil alih Sana'a pada tahun 2015.

Lanjutkan Membaca ↓