Antisipasi Serangan Rudal Susulan Houthi, Ini Skenario KJRI Jeddah Lindungi WNI

Oleh Siti Khotimah pada 13 Jun 2019, 14:29 WIB
Serangan rudal houthi di bandara Abha Arab Saudi

Liputan6.com, Jeddah - Kelompok pemberontak Yaman Houthi menyerang sebuah bandara di Kota Abha, Arab Saudi pada Rabu 12 Juni 2019. Koalisi Negeri Petrodollar dalam sebuah pernyataan menyebut, sebuah proyektil mengenai aula kedatangan di bandar udara yang dimaksud.

Serangan rudal itu telah menyebabkan kerusakan material dengan 26 warga sipil menjadi korban luka-luka, menurut Al Jazeera. Tiga wanita dan dua anak termasuk di antara yang terluka, dan mereka adalah warga negara Arab Saudi, Yaman dan India.

 

Sebanyak delapan korban telah dibawa ke rumah sakit sementara sebagian besar dirawat di lokasi. Sejauh ini tak ada korban WNI dalam insiden tersebut, menurut laporan dari KJRI Jeddah.K

KJRI Jeddah juga telah bersiap untuk memberikan perlindungan terhadap WNI jika sewaktu-waktu terjadi serangan rudal susulan yang dilancarkan oleh Houthi.

Kepada Liputan6.com pada Kamis (13/6/2019), KJRI Jeddah mengatakan "memberikan mandat kepada Petugas Pembantu Pelayanan Pelindungan WNI (P4W) untuk memberikan bantuan dan sebagai penghubung apabila terjadi serangan-serangan susulan."

"KJRI juga mengontak pihak kepolisian dan Amin Dauli (intelijen) agar memberikan prioritas kepada WNI apabila ada yang terdampak ke depan," kata Pelaksana Fungsi Konsuler 5 KJRI Jeddah, Umar Badarsyah.

Jika sekiranya terjadi eskalasi, KJRI juga akan membuka komunikasi mengenai skenario evakuasi WNI yang berada di dekat lokasi kejadian.

Satgas perlindungan WNI KJRI Jeddah sebelumnya juga telah mengimbau WNI di Kota Abha, Jizan, dan Najran agar tetap berhati-hati. Sumber yang sama juga meminta WNI untuk menjaga komunikasi baik itu dengan keluarga, komunitas WNI, dan dengan KJRI Jeddah.

Adapun untuk informasi lebih lanjut terkait hal ini, KJRI Jeddah dapat dihubungi melalui: Hotline/WhatsApp: +966 50 360 9667. P4W Abha: Sdr. Harun (+966 50 9983 atu +966 55 838 3901). 

2 of 3

Houthi Vs Koalisi Arab Saudi

Militan Houthi menguasai Hodeidah yang menjadi pelabuhan utama di Yaman (AP Photo)
Militan Houthi menguasai Hodeidah yang menjadi pelabuhan utama di Yaman (AP Photo)

Aliansi yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab ( UEA ) melakukan intervensi di Yaman pada tahun 2015.

Mereka mencoba mengembalikan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi yang diakui secara internasional, yang  telah dipaksa keluar dari kekuasaan oleh Houthi.

Houthi pada hari Rabu bersikeras menyatakan mereka memiliki hak untuk mempertahankan diri, dalam menghadapi upaya pengeboman selama lima tahun yang dipimpin Saudi serta blokade udara dan laut.

"Kelanjutan agresi dan pengepungan terhadap Yaman untuk tahun kelima, penutupan bandara Sana'a dan penolakan terhadap solusi politik membuat warga kami tidak dapat dihindarkan untuk membela diri mereka sendiri," kata juru bicara Houthi Mohammed Abdulsalam dalam sebuah pernyataan yang dilaporkan oleh media Al- Masirah.

 

3 of 3

Arab Saudi Sebut Serangan Rudal Kejahatan Perang

Salah seorang anggota pasukan militan Houthi yang berperang dengan pemerintah Yaman (AFP Photo)
Salah seorang anggota pasukan militan Houthi yang berperang dengan pemerintah Yaman (AFP Photo)

Sementara itu, dalam sebuah pernyataan koalisi Arab Saudi mengatakan "serangan itu bisa dianggap sebagai kejahatan perang.

Koalisi Negeri Minyak melanjutkan, serangan itu membuktikan bahwa Houthi telah memperoleh senjata canggih dari Iran, menambahkan pihaknya berjanji untuk mengambil langkah "segera dan tepat waktu" sebagai respons.

Tidak ada tanggapan segera dari Iran, yang telah membantah mempersenjatai Houthi.

Al Masirah TV yang berafiliasi dengan Houthi melaporkan bahwa pasukan Houthi melancarkan serangan rudal jelajah ke bandara Abha, yang berjarak sekitar 200 km di perbatasan utara dengan Yaman. Lapangan udara yang dimaksud melayani rute domestik dan regional.

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by