Sampah Plastik hingga Rohingya Jadi Sorotan Forum CSACF 2019 di China

Oleh Afra Augesti pada 13 Jun 2019, 14:11 WIB
Sampah Plastik

Liputan6.com, Kunming - China-South Asia Cooperation Forum (CSACF) 2019, sebuah platform yang bertujuan untuk meningkatkan kerja sama sosial-ekonomi antara Tiongkok dan Asia Selatan, dimulai pada Selasa, 11 Juni 2019, di Yuxi, Provinsi Yunnan, China.

Diadakan bersamaan dengan South and Southeast Asia Commodity Expo and Invesment Fair (SSACEIF) 2019, tema yang diangkat dalam CSACF tahun ini adalah "Stronger Sub-National Partnership for Win-Win Opportunities".

Dalam kegiatan itu ada "China Yunnan-Indian Cultural week", "Konferensi Yoga Kunming-India", "Media Forum China-Asia Selatan", sebuah ekshibisi, dialog antara pemimpin lokal dari China dan Asia Selatan, serta KTT meja bundar untuk ekonomi dan kerja sama perdagangan.

Topik diskusi forum berkisar pada kerja sama yang lebih erat dalam hal interkonektivitas, bisnis, pengentasan kemiskinan, keuangan, dan tenaga kerja asing (people-to-people exchange).

Lebih dari 400 peserta menghadiri acara yang dihelat selama dua hari ini, 10-11 Juni 2019, termasuk delegasi media-media dari China, Asia Selatan, Asia Tenggara dan berbagai organisasi internasional. Salah satunya adalah Harihar Adhikary yang merupakan Pemimpin Redaksi National News Agency (RSS) Nepal.

Dalam diskusi meja bundar antara media-media China, Asia Selatan dan Asia Tenggara, ia membawa isu pencemaran sampah plastik. Ia menekankan, meski sebagian besar orang masih mengaggap bahwa plastik adalah produk penting bagi umat manusia, tetapi hal tersebut justru mencelakakan diri kita sendiri.

"Lalu bagaimana Anda menggunakannya? Apakah itu menghasilkan untung? Bila memang demikian, mengapa saya harus terkena imbas kerusakan lingkungan dan kalian tak bisa melakukan apa-apa?," ujarnya saat diwawancara Liputan6.com pada Selasa, 11 Juni 2019, di Yuxi, China.

"Karena itu, saya mengajak teman-teman media, melalui forum ini, untuk melakukan perannya, untuk bertanggung jawab dalam memberitakan dan membangun kemanusiaan. Mencegah bencana alam terjadi dan kerusakan Bumi semakin meluas," imbuh pria yang mengaku tak pernah membeli atau mengonsumsi Coca Cola.

Menurutnya, Nepal juga terdampak oleh pencemaran plastik, tak terkecuali objek-objek wisata populer seperti kawasan pegunungan Himalaya dan Gunung Everest. Banyak wisatawan yang masih membawa botol plastik dan meninggalkannya begitu saja ketika sudah tak mereka butuhkan.

"Apa yang saya tekankan di forum ini adalah kapitalisme. Memang, kita butuh kapitalisme, kita butuh uang, tapi apa kita harus saling merusak dan membunuh alam masing-masing? Kita akan dapat sumber dari mana bila semua itu hilang?" tegasnya.

2 of 3

Isu Rohingya

Pengungsi Rohingya
Muslim Rohingya saat melakukan pelayaran maut untuk mengungsi dari Rakhine. (AFP)

Sementara itu, Controller of News dari Bangladesh Betar, Tania Naznin, mengangkat masalah Rohingya dan meminta lebih banyak lagi keterlibatan China serta negara-negara Asia juga Asia Tenggara untuk menyelesaikan krisis kemanusiaan ini, demi perdamaian dan stabilitas regional.

Ia menekankan bahwa masalah Rohingya perlu dipecahkan secara permanen agar bisa memastikan kembalinya etnis minoritas tersebut ke tempat asal mereka di Negara Bagian Rakhine, Myanmar.

"Kami berharap China bisa ikut berpartisipasi, juga negara-negara di kawasan Asia serta Asia Tenggara untuk menyelesaikan krisis Rohingya," tuturnya di waktu dan tempat yang sama.

Dia meminta agar jurnalis-jurnalis di China dan negara-negara lain agar lebih kerap mengunjungi kamp pengungsian Rohingya di distrik Cox's Bazar dan melaporkan situasi langsung di lapangan, agar bisa mengetahui fakta sesungguhnya di sana, bukan sekadar menyadur berita.

"Bangladesh sekarang menampung lebih dari 1,2 juta Rohingya dan mayoritas dari mereka telah memasuki Bangladesh sejak 25 Agustus 2017," imbuhnya.

 

3 of 3

Dihadiri oleh Gubernur Yunnan

(kredit: Afra Augesti / Liputan6.com)
(kredit: Afra Augesti / Liputan6.com)

Sebelumnya pada pembukaan CSACF 2019 pada Senin, 10 Juni 2019, Gubernur Provinsi Yunnan, Ruan Chengfa, dalam pidatonya menjabarkan bahwa CSACF adalah platform baru untuk pertukaran dan kerja sama infestasi dan komoditas antara China dan negara-negara di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara.

"Kegiatan ini bertujuan untuk lebih memperkuat pertukaran dan kerja sama lokal antara China dan Asia Selatan, dan menyelaraskan Belt and Road Initiative dengan strategi pembangunan negara-negara Asia Selatan," katanya.

Gubernur menyarankan agar semua pihak mendirikan kantor penghubung di departemen urusan luar negeri yang ada di China untuk memfasilitasi komunikasi sehari-hari, serta bersama-sama memajukan pelaksanaan proyek kerja sama.

Sedangkan panitia forum berharap bisa mempromosikan CSACF sebagai platform baru dan reguler untuk dialog kebijakan, kerja sama ekonomi, people-to-people exchange, dan berbagi pengetahuan.

"Forum tersebut akan diadakan setiap tahun di Yunnan," seorang panitia acara menyebut.

Untuk diketahui, Yunnan adalah provinsi perbatasan di China barat daya dan menjadi pintu gerbang antara China dan negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan.

Lanjutkan Membaca ↓