Riset: 'Alien' Mungkin Ada di Planet Terjauh dari Bumi

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 12 Jun 2019, 20:40 WIB
Ilustrasi planet alien Kepler-186f yang diyakini sebagai kembaran Bumi (NASA Ames/SETI Institute/JPL-Caltech)

Liputan6.com, California - Sebuah studi baru memperkirakan bahwa kehidupan alien yang kompleks di alam semesta mungkin bisa terpetakan, dengan para ilmuwan akan memiliki keberuntungan terbaik untuk menemukan makhluk asing terebut.

Di masa lalu, para peneliti mendefinisikan "zona layak huni" berdasarkan jarak antara planet dan bintangnya.

Planet-planet yang, seperti Bumi, mengorbit pada jarak yang tepat untuk mengakomodasi suhu di mana air cair bisa ada di permukaan planet, akan dianggap sebagai "layak huni". Dan jumlahnya, ada banyak --menurut riset.

Tetapi, sementara definisi layak huni itu berlaku untuk makhluk mikroba dasar --sebuah sel tunggal-- itu tidak bekerja untuk makhluk kompleks, seperti hewan --mulai dari spons hingga manusia-- kata para peneliti.

Ketika parameter tambahan itu --yang diperlukan untuk makhluk kompleks agar ada-- diperhitungkan, zona layak huni tersebut menyusut secara substansial, kata para peneliti dalam riset berjudul "A Limited Habitable Zone for Complex Life". Dan hal itu mampu membantu periset untuk memetakan keberadaan organisme kompleks.

Sebagai contoh, sejumlah planetdengan gas beracun tingkat tinggi, seperti karbon dioksida dan karbon monoksida, akan keluar dari daftar utama.

"Ini adalah pertama kalinya batas fisiologis kehidupan di Bumi dianggap untuk memprediksi distribusi kehidupan kompleks di tempat lain di alam semesta," kata peneliti Timothy Lyons, seorang profesor biogeokimia terkemuka dan direktur Pusat Astrobiologi Bumi Alternatif di Universitas California, Riverside (UCR), mengatakan dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari Livescience, Rabu (12/6/2019).

2 of 3

Menguji Hipotesis

Ilustrasi planet yang ditemukan Kepler: Kepler-22b, Kepler-69c, Kepler-452b, Kepler-62f, Kepler-186f, dan akhirnya Bumi
Ilustrasi planet yang ditemukan Kepler: Kepler-22b, Kepler-69c, Kepler-452b, Kepler-62f, Kepler-186f, dan akhirnya Bumi (NASA)

Untuk menyelidiki hipotesis itu, Timothy Lyons dan rekan-rekannya menciptakan model komputer dari iklim atmosfer dan fotokimia (bidang yang menganalisis bagaimana bahan kimia yang berbeda berperilaku di bawah cahaya tampak atau ultraviolet) pada berbagai planet.

Para peneliti mulai dengan melihat tingkat karbon dioksida yang diprediksi, gas yang mematikan pada tingkat tinggi tetapi juga diperlukan untuk menjaga suhu di atas titik beku (berkat efek rumah kaca) di planet-planet yang mengorbit jauh dari bintang inangnya.

"Untuk mempertahankan air cair di tepi luar zona layak huni konvensional, sebuah planet akan membutuhkan karbon dioksida puluhan ribu kali lebih banyak daripada yang dimiliki Bumi saat ini," kata ketua peneliti Edward Schwieterman, seorang rekan postdoctoral NASA yang bekerja dengan Lyons, mengatakan dalam pernyataan.

"Itu jauh melampaui level yang diketahui beracun bagi kehidupan manusia dan hewan di Bumi."

Setelah toksisitas karbon dioksida diperhitungkan dalam persamaan, zona layak huni tradisional untuk kehidupan hewan sederhana diiris menjadi dua, kata para peneliti.

Untuk kehidupan kompleks seperti manusia, yang lebih sensitif terhadap kadar karbon dioksida yang tinggi, zona aman itu menyusut hingga kurang dari sepertiga area tradisional, para peneliti menemukan.

 

3 of 3

Hasil Riset

Bintang Kepler-90 dan delapan planet yang mengorbitnya
Bintang Kepler-90 dan delapan planet yang mengorbitnya. (NASA)

Di bawah parameter baru, beberapa bintang tidak memiliki zona aman untuk organisme hidup; itu termasuk Proxima Centauri dan TRAPPIST-1, dua tetangga terdekat Matahari.

Hal itu disebabkan karena planet-planet di sekitar Matahari kemungkinan memiliki konsentrasi karbon monoksida yang tinggi, kata para peneliti.

Karbon monoksida dapat berikatan dengan hemoglobin dalam darah hewan, dan bahkan jumlah kecil itu bisa mematikan.

(Sebaliknya, penelitian lain baru-baru ini berpendapat bahwa karbon monoksida mungkin merupakan tanda kehidupan di luar Bumi, tetapi seperti yang dikatakan Edward Schwieterman, "planet-planet itu tentu bukan tempat yang baik untuk kehidupan manusia atau hewan seperti yang kita kenal di Bumi.")

Pedoman baru dapat membantu para peneliti memangkas jumlah planet di mana tanda-tanda kehidupan alien terlihat menjanjikan, anugerah bagi bidang ilmu tersebut, mengingat bahwa ada hampir 4.000 planet di luar sana yang mengorbit bintang selain Matahari.

"Penemuan kami menyediakan satu cara untuk memutuskan mana dari sekian banyak planet yang harus kita amati lebih detail," kata rekan peneliti studi Christopher Reinhard, mantan mahasiswa pascasarjana UCR yang sekarang menjadi asisten profesor bidang ilmu bumi dan atmosfer di Institut Teknologi Georgia, dalam sebuah pernyataan.

"Kami dapat mengidentifikasi planet-planet yang tidak layak huni dengan kadar karbon dioksida atau karbon monoksida yang cenderung terlalu tinggi untuk mendukung kehidupan yang kompleks."

Studi itu dipublikasikan online pada 10 Juni 2019 di The Astrophysical Journal.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait